
Hari demi hari di lalui dengan rasa yang berat dan penuh perjuangan. Untuk menemukan semangat hidup lagi bagi Arya adalah kebahagiaan ketiga anaknya. Kini rasa ambisius dan keserakahannya serasa musnah di terpa badai angin ****** beliung. Entah pergi kemana bersama dengan kematian sang istri.
Fokusnya untuk menata hidup baru selepas kepergian Sarah. Hanya anak-anaknya yang membuatnya semangat untuk menjalani hidup.
Melvin sudah kembali ke perusahaan untuk bekerja. Banyak pekerjaan yang terbengkalai karenanya. Banyak juga proyek yang mangkir. Tapi karena dibantu sang kakak pekerjaan di hari pertamanya bekerja tidak terlalu menumpuk.
Alfan mengetuk pintu ruang kerja sang adik. Tangannya membawakan dua buah cangkir kopi. "Pak Melvin kopinya sudah siap" ledek Alfan.
Melvin terlihat fokus menatap layar komputernya. "Kak sudah periksa keuangan minggu ini?" tanya Melvin.
"Apa ada yang janggal?" tanya Alfan balik. "Ada banyak pengeluaran di bulan ini namun setelah ku periksa di minggu ini yang paling membengkak" jawab Melvin masih fokus pada layar komputernya.
Alfan mencoba medekat dan ikut melihatnya. "Oh itu, pengeluarannya untuk biaya beasiswa bagi anak di panti asuhan dan beasiswa untuk anak karyawan di perusahaan kita yang berprestasi" sahut Alfan.
"Bukannya sudah ada tersendiri ka?" Melvin bertanya memastikan. "Iya memang sudah ada tapi kata ayah ingin menambah jumlah uang untuk beasiswa bagi panti asuhan yang belum terjamah" Alfan menjelaskan.
"Baiklah" Melvin menjawab seperlunya. Melvin memang sudah bisa mengobati hancur di hatinya. Tapi dia hanya berkata seperlunya saja. Begitu pula pada sang istri. Terkadang sampai Dinka pun bingung sendiri. Takut kalau dirinya melakukan kesalahan.
Alfan memandangi sang adik. Walaupun sudah membaik tapi Melvin cenderung lebih pendiam dari sebelum kematian sang bunda. Itu membuat Alfan jadi bingung sendiri.
"Apakah ada masalah yang kau pikirkan?" Alfan bertanya sembari menatap adiknya. Melvin menggeleng. "Baiklah bila ada sesuatu bicaralah padaku" Alfan berdiri dan keluar dari ruangan.
Alfan mengusap wajahnya. Silma yang melihatnya pun tersenyum. "Apa kau senyum-senyum" ucap Alfan dengan nada cukup tinggi. "Maaf pak" Silma berkata dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
"Kenapa pak Alfan makin tampan aja sih. Begitu kali ya kalo pria sudah jadi milik orang" gumam Silma.
Dinka menitipkan si kecil pada bi Nah. Karena hari ini sang suami masuk bekerja kembali. Jadi dia ingin memasakkan sesuatu untuk makan siang Melvin.
Setelah selesai dengan ritual memasak di dapur. Dinka memasukan masakannya ke dalam kotak bekal makan.
"Bi aku mau anter makan siang buat Melvin dulu ya, titip si kecil" Dinka menyodorkan anaknya pada bi Nah. "Siap non tenang saja kalau sama bibi" sahut bi Nah dengan semangatnya.
Dinka memang sengaja tidak memperkerjakan babysitter. Dia ingin merawat anaknya sendiri. Mungkin pastilah sulit. Tapi dia yakin bisa merawat sang buah hati hanya berdua dengan suaminya. Tatkala juga banyak pelayan yang sangat senang bila menggendong si kecil. Karena itu merupakan cucu pertama keluarga Tama. Karena kehadirannya membuat suasana rumah jadi ramai.
Alfan turun ke lobby perusahaan dan tidak sengaja bertemu dengan Dinka. "Hai adik ipar tumben banget ke kantor" sapaan dari Alfan membuat Dinka celingukan. "Disini di belakang mu" timpal Alfan memberitahukan. "Kak Alfan habis dari mana?" Dinka membalikkan tubuh.
"Keluar sebentar" Alfan merebut kotak bekal makan dari tangan Dinka. "Perhatiannya adik iparku pada suaminya" ledek Alfan. "Aku memang perhatian kak" Dinka sengaja membanggakan diri. Mereka tersenyum bersamaan saling bertatap muka. "Kau ini sombong sekali" Alfan bergurau.
"Justru kedatangan mu kesini pasti akan buat Melvin semangat bekerja" jawaban dari Alfan membuat Dinka senang. "Baguslah" Dinka dengan percaya diri menyahutinya.
Alfan sengaja membiarkan Dinka masuk seorang diri kedalam ruang kerja Melvin. Dinka tidak mengetuk pintu dan langsung masuk. "Suamiku" Dinka melangkahkan kakinya.
Terlihat Melvin sedang melihat kearah luar jendela kaca. Sampai-sampai tak mendengar sapaan istrinya. Melihat Melvin yang melamun membuat Dinka merana. Apakah gerangan yang ada di pikiran suaminya itu.
Dinka meletakkan kotak bekalnya dimeja. Dan berjalan mendekati Melvin dengan perlahan. Tangan Dinka menutup mata Melvin dan kakinya berjinjit.
Melvin merasakan ada sentuhan yang hangat di kedua matanya. Dia sudah hapal betul semua tentang Dinka. Sampai suhu badan sang istri. "Kau" Melvin menyentuh tangan istrinya. Dan berbalik memeluk Dinka.
__ADS_1
"Sayang mikirin apa sih? kelihatan serius banget" ungkap Dinka. "Bukan apa-apa" jawab Melvin sambil menggeleng. Pelukannya pun diteruskan.
Melvin menggendong Dinka di pelukannya. Seketika Dinka menjerit karena merasa geli. Karena di pegang bagian pinggang.
"Turunkan aku" pinta Dinka. Melvin hanya menggeleng. Dia meletakkan sang istri di meja kerja dan mulai mencumbui sang istri. "Melvin ini masih siang hari dan kita ada di kantor" Dinka mencoba mengalihkan suaminya. Tapi justru semakin dilarang sang suami semakin suka.
"Melvin lepas" Dinka mendorong badan suaminya. Tetap saja badan Melvin tidak bergerak dari tempatnya.
Kecupan demi kecupan di daratkan di bagian atas tubuh Dinka. "Aku sangat rindu bau harum tubuhmu" ungkap Melvin berbisik ke telinga Dinka.
"Kau bisa melakukannya dirumah bukan disini" ucap Dinka. "Bila dirumah aku selalu teringat bunda" Melvin kembali berdiri. Terdengar nada bicaranya sedikit pilu.
"Sayang, tatap aku tatap wajahku" Dinka meraih tangan Melvin dan menaruhnya di wajahnya. Melvin menatap sang istri dengan dalam. "Masih ada aku, anak kita yang perlu kamu bahagiakan. Aku tau kamu sedih dan sangat hancur atas kepergian bunda. Kami semua juga sedih dan hancur sama sepertimu. Walaupun rasa kami tidak sedalam kamu tapi kami juga bisa merasakan kesedihan bagaimana ditinggal orang tercinta" Dinka mulai berkata panjang lebar.
Tatapannya begitu hangat pada sang suami. Membuat Melvin menjadi nyaman. "Sayang boleh berduka asalkan tidak berlarut. Boleh bersedih asalkan tidak berlebihan. Semua ada porsinya. Karena yang berlebihan tidak akan pernah baik" ucap Dinka dibarengi dengan air mata yang sudah memupuk di mata.
Begitu juga Melvin yang matanya berkaca-kaca. Sebuah senyuman muncul di wajah Melvin. Sambil mengangguk Melvin mengerti maksud yang diucapkan Dinka. Dibenamkan wajah Dinka kedalam dada bidangnya.
"Makasih sayang, aku sungguh beruntung memiliki mu" ucapan dari Melvin membuat Dinka meneteskan airmata. Yang membuat kemeja suaminya itu jadi basah.
"Maaf aku mengotori kemeja mu" Dinka berkata dengan nada manja. Mata genitnya menatap sang suami.
"Kau sengaja menggodaku dengan tatapan nakalmu itu" Melvin mengeluh senang. Dinka menganggukan kepalanya perlahan. Membuat Melvin amat gemas dengan tatapan istrinya. Sebuah ciuman mendarat di bibir Dinka. Mereka saling berciuman dengan bergairah.
__ADS_1