Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
105. Rasa gundah sang kakak


__ADS_3

Melvin sudah bersiap dengan setelan kemejanya berwarna hitam selaras dengan celana panjangnya. Dipadukan dengan dasi warna silver bermotif. Alfan juga sudah mengenakan setelan jas dan dasi yang bermotif sama dengan Melvin.


Semua duduk di kursi masing-masing untuk menyantap sarapan pagi namun tidak ada Arya dan sang istri. Melvin mendekati sang istri. "Pagi sayang" sapa Melvin sambil memegang pinggang Dinka. "Pagi" sambut Dinka sembari tersenyum.


"Mana ayah?" tanya Melvin pada bi Nah yang sedang menata piring dimeja makan. "Tuan besar mengantarkan nyonya pergi ketaman tuan, mungkin nyonya butuh udara pagi yang masih segar" jawab bi Nah.


Alfan duduk di kursinya sambil mengaduk-aduk sarapannya. Wajahnya terlihat sedang berpikir. Melvin melihat situasi sang kakak yang tidak baik itu. "Kak" panggil Melvin.


Dinka menyuapkan makanan kedalam mulutnya. Namun terhenti karena ikut melihat kakak iparnya. "Kak Alfan dimakan dong sarapannya kenapa malah diaduk-aduk tidak jelas seperti itu" ucap Dinka.


Tangannya kembali memasukan makanan yang sudah ada di sendok. Alfan masih sibuk dengan pikirannya. Sama sekali tidak merespon panggilan Melvin dan ucapan dari Dinka.


"Nak Alfan" Rama yang duduk bersebelahan dengan Alfan juga ikut memanggil. Tetap saja Alfan sibuk dengan lamunannya. Tapi tangannya mengaduk-aduk makanan yang ada di piring. Entah apa yang ada dipikirkannya. Tapi Melvin menebak pasti tentang perjodohan itu.


Karena dari semalam memang wajah sang kakak angkatnya itu sudah terlihat tidak beres. Alfan sadar dari lamunan dan segera bangkit dari kursi tanpa sepatah kata. Seketika semua mata tertuju pada Alfan.


"Vin coba tanya apa yang terjadi dengan kak Alfan" ucap Dinka. Melvin pun mengangguk dan tersenyum sembari mengecup kening Dinka. "Aku berangkat dulu ya" kata Melvin. Dinka meraih tangan Melvin dan mencium punggung tangan suaminya itu. Melvin pamitan dengan yang lainnya.


Langkah kakinya mengejar sang kakak yang sudah berada di depan rumah. Menuju bagasi mobil Melvin meraih tangan sang kakak yang memegang kunci mobil dan merebutnya.

__ADS_1


"Hari ini kita berangkat ke kantor bareng" ucap Melvin smbil tersenyum. Alfan hanya diam dan menatap sang adik. Melvin tau pasti ada banyak hal yang mengganjal di otak kakaknya. Siapa lagi kalau bukan dirinya yang menjadi tempat curhat.


Melvin menyalakan mobil dan mengemudikannya keluar dari bagasi. Alfan membuka pintu mobil dan masuk kedalam.


"Kenapa?" Melvin mulai membuka percakapan. Alfan menggelengkan kepalanya perlahan. Tangannya mengusap wajah. "Ada banyak hal yang kakak pikirkan" jawab Alfan.


"Tentang perjodohan itu?" tanya Melvin. "Ya kamu tau sendirikan" sambung Alfan. Melvin pun terdiam sejenak sambil fokus ke jalanan.


"Menurut mu bagaimana apa kakak harus menuruti ayah? Kakak bingung disaat kakak mulai jatuh cinta ayah malah menyuruh kakak untuk tunangan dengan wanita lain" jelas Alfan. "Jangan" dengan cepat Melvin menyahuti sang kakak.


Alfan menoleh pada Melvin. "Kalau kakak gak yakin kenapa harus mau" Melvin berkata sambil fokus ke depan. Sampailah mobil didepan gedung perusahaannya.


Kakinya turun dari dalam mobil dan melangkah ke arah penjaga pintu. Kunci mobilnya kembali dia lemparkan pada si penjaga. Alfan masih terduduk di jok mobil depan.


"Permisi pak mobilnya mau saya parkirkan" ucap si penjaga. Alfan turun dari dalam mobil dan berjalan masuk ke gedung perusahaan.


Dari kejauhan terlihat sosok wanita yang berambut sebahu. Dialah wanita yang sudah membuat hati Alfan kembali berbunga. Enzi dengan cepat menyapa Alfan yang sedang berjalan mendekat kearahnya. Ada pula Silma yang juga ikut menyapa.


Terlihat wajah Alfan begitu tampan menurut Enzi. Hatinya juga ikut berbunga-bunga melihat wajah Alfan. Orang yang saling jatuh cinta memang seperti itu.

__ADS_1


Melvin keluar dari ruangannya tepat saat Alfan disapa oleh kedua sekretarisnya. Tangannya membawa tablet yang berisi pekerjaan dan schedul nya. "Silma ini tab kamu apakan?" tanya Melvin dengan sedikit nada tinggi.


"Hem tadi masih nyala kok pak bos" jawab Silma terbata-bata. Pandangan Alfan tertuju pada Enzi. Melvin memang belum tau jelas siapa wanita yang bisa membuat Alfan kembali jatuh cinta. Dia curiga dengan tatapan Alfan yang penuh makna pada salah satu sekretarisnya itu.


"Kak Alfan" panggilan dari Melvin membuat Alfan terkejut. Melvin menampakan barisan giginya. Akhirnya dia tau siapa yang sudah merebut hati kakak angkatnya itu.


"Oh jadi.." Melvin tidak melanjutkan ucapannya. Dia tau sifat polos dan malu-malu Enzi. Dan itu termasuk kriteria wanita yang disuka kakaknya. Sifat asli dan polos Enzi mungkin sudah membuat Alfan jatuh hati. Melvin tau banyak sifat kedua sekretarisnya. Enzi memang beda dengan Silma yang lebih pemberani.


Alfan berjalan dengan cepat masuk kedalam ruang kerjanya. Melvin tertawa kecil melihat tingkah sang kakak. Matanya kembali fokus pada si sekretaris. "Ini tab kenapa tidak bisa menyala?" tanya Melvin. "Anu pak bos itu" jawab Silma bingung. Kepalanya menunduk karena pasti bakal dimarahi oleh bos tampannya.


"Itu pak bos tadi sewaktu kami membersihkan ruangan pak bos, Silma tidak sengaja menjatuhkannya ke bawah dan menginjaknya" jelas Enzi. Karena Silma takut berbicara jadi Enzi yang menjelaskan. "Iya pak maaf tidak sengaja" sahut Silma.


Melvin berkacak pinggang sambil menghela nafasnya. "Kamu tau jadwal saya apa sajakan?" tanya Melvin. "Iya pak ada salinannya di komputer" jawab Silma. Melvin masuk kembali kedalam ruang kerjanya.


Silma bernafas lega tidak jadi dimarahi oleh bosnya. "Cepetan sana buatin kopi buat pak bos" pinta Silma pada Enzi. Enzi pun membuatkan kopi untuk Melvin.


Masuklah Enzi kedalam ruang kerja Melvin. "Permisi pak, ini saya bawakan kopi" ucap Enzi. Melvin melihat si sekretaris. "Mulai sekarang kamu bantu Alfan untuk pekerjaannya" ucap Melvin. "Baik pak" sahut Enzi dengan antusias.


"Eh bukan berarti kalian bisa berduaan ya. Ingat kamu masih jadi sekretaris saya, hanya membantu Alfan bukan jadi sekretarisnya. Dan jangan memanfaatkan waktu biar bisa pacaran di kantor apalagi pada waktu kerja" Melvin mengatakan dengan tegas. Enzi menunduk sambil berkata "baik pak".

__ADS_1


Enzi keluar dari ruangan Melvin dengan hati yang senang. Senyumannya pun menghiasi bibirnya karena di ijinkan untuk berdekatan dengan Alfan.


__ADS_2