
Setelah pergi mengantarkan istrinya Melvin melajukan mobilnya menuju perusahaan. Sampainya didepan kantor kunci mobilnya diberikan pada sang penjaga pintu. Biasanya kunci mobil itu dilempar oleh Melvin. Namun kali ini Melvin memberikannya secara langsung.
Sampai-sampai membuat semua pihak keamanan yang bertugas menjaga pintu terheran melihat sang bos bertingkah beda. Melvin melangkahkan kakinya menuju kedalam kantor yang sudah disambut oleh beberapa staff dan sekretarisnya.
Melvin memainkan jarinya diatas meja kerjanya. Beberapa berkas sudah menumpuk diatas meja. Dibukanya satu persatu lembaran dokumen. Otaknya masih terus berpikir bagaimana mengajak kerjasama dengan sang sekretaris tanpa membuat curiga yang lain. Karena pasti sang istri suatu hari akan bertanya pada Silma.
Melvin meraih telepon untuk memanggil sekretarisnya. "Silma cepat masuk" perintah Melvin. Sang sekretaris bergegas masuk kedalam ruang kerja pak bosnya. Silma mengetuk pintu terlebih dulu dan masuk kedalam.
"Ada yang bisa dibantu pak?" tanya Silma. "Sini" suruh Melvin sembari tangannya melambai menyuruh Silma mendekat. Dengan senang hati Silma mendekat sambil tersenyum.
"Iya pak" ucapnya memberikan senyuman terbaik. Silma mendekatkan tubuhnya mendekati pak bos sedekat mungkin. "Gak deket gini juga kali" gerutu Melvin. Silma berdehem dan memposisikan badannya sedikit jauh dari Melvin.
"Gini saya ada perlu sama kamu tapi ini rahasia, paham" ujar Melvin. "Iya pak" sahut Silma masih tersenyum. Melvin sedikit mengurangi suaranya karena takut ada yang mendengar dari luar ruangan. Dirinya mulai menjelaskan sesuatu pada Silma.
Silma pun dengan sangat senang hati mengikuti perintah pak bos tampannya. Itu pun dia akan mendapat bonus pada gajinya. Lumayan lah pikirnya.
Dengan santainya Alfan berjalan menuju keruangan pantry di kantor. Dimasukannya kopi bubuk kedalam gelas. Setelah membuat secangkir kopi, lalu di bawanya kedalam ruangannya. "Astaga" ucap Alfan dengan terkejut. Silma memang tiba-tiba muncul dari dalam ruang kerja Melvin. Hampir saja secangkir kopi di tangannya jatuh menimpa Silma.
"Maaf pak" ucap Silma sambil senyam-senyum. "Kamu ini kenapa tiba-tiba nongol sih, untung saja kopinya gak tumpah" gerutu Alfan. Silma berjalan kembali ke meja kerjanya setelah meminta maaf. "Mau saya buatkan yang baru pak" tawar Enzi.
__ADS_1
Enzi ini memang suka pada Alfan. Selain suka pada Melvin dia ingin perlahan menggaet Alfan. "Tidak usah ini juga masih bisa diminum kok" sahut Alfan.
Melvin keluar dari ruangannya setelah menerima telpon. Alfan pun masih didepan ruang kerja sang adik. "Vin kemana?" tanya Alfan. "Ada urusan kak" jawab Melvin yang sedang terburu-buru.
"Sebentar lagi ada meeting pak" ucap Silma sedikit keras agar Melvin dengar. Tapi tidak ada jawaban dari bosnya. Alfan meletakkan cangkir dimeja kerja sekretaris Melvin dan mengejarnya.
Diluar kantor Alfan melihat mobil Melvin sudah menuju ke jalan raya. "Kemana tuh anak?" ucapnya pada diri sendiri.
Sampai dirumah sakit tempat Serin dirawat. Melvin segera menuju keruang rawat Serin. Kebetulan ada suster yang sedang mengecek keadaannya. "Apa ada masalah sus?" tanya Melvin.
"Tidak pak hanya saja pasien tidak mau minum obat ataupun makan dan tidak mau di infus. Ini saja tadi infusannya di cabut sama pasien" keluh sang perawat. "Saya permisi dulu pak" imbuhnya.
"Aku gak mau makan vin, makanan disini gak enak" gerutu Serin. Melvin mendekati Serin dan mengelus rambutnya. "Makan ya biar tubuhmu bisa pulih" pinta Melvin. Tangannya meraih mangkuk berisi makanan diatas meja kecil.
Mulai membujuk dan menyuapi Serin. "Ayo makan" ucapnya lembut. Serin membuka mulutnya dan mengunyah makanan yang disuapkan oleh Melvin. Dalam hatinya sangat senang bisa berduaan dengan Melvin. 'Kapan lagi coba bisa begini' gumam Serin dalam hati.
Dengan perlahan Melvin menyuapkan makanan pada Serin. Sampai mangkuk itu kosong. "Nah begini kan enak kamu mau makan" ujar Melvin.
Dengan manjanya Serin memeluk lengan Melvin. "Kenapa kesininya gak bawa bunga ataupun buah, aku kan pengen dibeliin bunga sama kamu" ucap Serin.
__ADS_1
Melvin melepaskan lengannya dari Serin. "Aku kesini tadi buru-buru jadi gak sempet beli bunga atau buah" sahut Melvin.
+++
Dikampus Bobby merasa uring-uringan karena Dinka dan Reta berulang kali menghindarinya. Padahal Bobby sudah berusaha meminta maaf pada Reta. Dinka yang biasanya ramah dan lembut pun ikut jutek pada Bobby. Belakangan ini Dinka memang sedikit sensitif mungkin karena kandungannya.
"Nih lihat Bobby sms ke aku dia ingin bicara sesuatu" ucap Dinka sambil mengarahkan ponselnya pada Reta. Dengan cemberut Reta yang membalas pesan teks dari Bobby.
Isi pesan teks tersebut menolak Bobby dan mencaci maki Bobby agar tidak usah mendekati mereka berdua lagi. Apalagi memohon untuk meminta maaf. Dari kejauhan Bobby sedang memandangi kedua teman wanitanya itu.
Ponselnya pun berbunyi tanda sms masuk. Kata-kata balasan yang sungguh pedas diterima oleh Bobby. Dia tau itu pasti Reta yang membalas pesannya. Karena Dinka mana mungkin bisa berkata pedas seperti itu.
Bobby tidak putus asa untuk meminta maaf. Sebelum dia bisa kembali dekat dengan keduanya dia akan tetap berusaha walaupun itu sulit. Apalagi melihat waktu itu Reta menangis. Hatinya mulai bergetar dan merasakan hal yang aneh menyangkut Reta.
Ponsel Dinka masih berada ditangan Reta. "Nah telpon dia" gerutu Reta. Tapi panggilan dari Bobby langsung di reject oleh Reta. Dinka duduk sambil menikmati eskrim nya tanpa menghiraukan adik iparnya.
Menikmati eskrim sambil duduk di bawah pohon taman kampus memang sudah menjadi hobinya. Karena merasa kurang eskrim Reta yang masih utuh dimakan oleh Dinka.
"Kenapa eskrim gue juga loe embat astaga" gerutu Reta. "Ya habisnya kamu sibuk balesin pesan dari Bobby mulu, daripada lumer ya ku makan" dengan entengnya Dinka menjawab. Reta hanya bisa tepuk jidat. Pesan dari Bobby terus bermunculan dilayar ponsel milik Dinka. Seketika perang lewat media elektronik pun tidak bisa di hindari.
__ADS_1
Karena kelewat kesal Reta melemparkan ponsel milik Dinka. Ponsel Dinka terbelah menjadi dua.