Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
67. Dasar kelakuan #2


__ADS_3

Sesampainya Melvin dikantor para eksekutif dan sekretarisnya menyambut dilobby kantor. Melvin berjalan dengan wajah yang terlihat marah. Para pengikutnya dibelakang berbisik-bisik melihat ekspresi wajah sang bos.


"Kenapa sama pak Melvin raut wajahnya nampak marah, apa akan ada badai besar dikantor ini?" tanya si pria. "Semoga saja tidak, wajah dinginnya saja sudah begitu ngeri apa lagi kalau marah" jawab staff yang lain.


"Hari ini jangan sampai melakukan kesalahan bisa-bisa kita kena amarah" sahut yang satunya. Melvin berhenti melangkah. "Aku menggaji kalian tidak untuk bergosip tapi untuk bekerja" satu kalimat Melvin membuat mulut para staff diam seketika.


Melvin masuk kedalam ruang kerjanya. Sontak tertegun melihat banyaknya tumpukan dokumen yang ada dimeja. Melvin menghela nafasnya sembari melirik ke arah ruang kerja sang kaka yang ada disebelahnya.


Alfan sudah ada didalam ruang kerjanya. Tau Melvin sudah datang dia menyapa sang adik. "Pagi" ucap Alfan dengan melempar senyum. Bagi Alfan lega sudah karena Melvin sudah mulai bekerja lagi.


Bagi Melvin hari ini akan menjadi hari yang sangat disibukkan untuk menyelesaikan kerjaan yang menumpuk. Melvin tersenyum miris menjawab sang kaka.


Dia mulai mengerjakan satu persatu dokumen yang ada. Silma juga membawakan beberapa berkas yang siap untuk ditanda tangani Melvin.


"Permisi pak ini ada beberapa berkas yang harus ditanda tangani" ucap Silma. "Letakkan saja disitu" jawab Melvin. Silma meletakkan berkas di sudut meja Melvin.


"Oiya aku mau lihat laporan keuangan bulan ini" sahut Melvin. "Siap pak" jawab Silma.


Melvin melihat laporan keuangan yang berantakan dari anak perusahaannya. Seketika tangannya langsung merobek laporan keuangan itu dan melemparkan kelantai.

__ADS_1


Melvin memanggil sekretaris lewat telepon kantor. "Cepat masuk" ucap Melvin ketus. Silma masuk kedalam ruangan. "Panggil divisi bagian keuangan dan direktur dari anak cabang sekalian manager pusat perbelanjaan, bawa mereka semua kesini" lanjut Melvin.


"Baik pak" Silma mengangguk dengan cepat. Firasatnya mengatakan akan terjadi hujan badai atau angin topan. Padahal hari ini cukup cerah namun beda dengan suasana hati bosnya.


"Sepertinya akan turun hujan lebat hari ini" ucap Silma sembari berjalan kembali ke meja. "Hari ini cerah mana mungkin akan hujan lebat kamu ini aneh-aneh saja" sahut Enzi.


"Oiya selama kamu kerja disini belum pernah dengerkan pak bos marah? Sebentar lagi kamu akan denger pak bos yang tampan kita marah" bisik Silma pada Enzi. Enzi menelan ludahnya sembari berkata "benarkah". Silma manggut-manggut meyakinkan.


Karena ada keperluan Alfan pergi keluar dari ruangannya. Silma mencegat Alfan agar ada yang mengendalikan Melvin bila marah. "Pak Alfan jangan pergi dulu ya" pinta Silma. "Ada apa?" tanya Alfan bingung.


Dengan ragu Silma bercerita pada Alfan. "Sepertinya ada kesalahan dilaporan keuangan bulan ini dan itu sangat membuat pak Melvin marah, jadi sebaiknya pak Alfan nanti saja perginya ya" saran Silma sambil memohon.


Alfan tersenyum dan berkata "itu sudah menjadi urusan Melvin kenapa saya harus ikut campur, kalau dia mau marah-marah ya rasakan saja". Alfan menepuk bahu Silma sambil beranjak pergi.


"Masuklah" sahut Melvin dengan menatap dokumennya. Para staff masuk kedalam. Terlihat wajah mereka begitu risau. Mereka sudah menduga akan kena damprat dengan laporan keuangan tersebut. Karena banyak yang ganjal dengan laporannya. Pasti ada orang yang sudah tertangkap basah melakukan korupsi disini.


Dari luar ruangan Silma dan Enzi mencoba mengintai. Terdengar suara hentakan kertas yang dilempar. Tapi suara Melvin berbicara tidak terdengar. Karena rasa penasaran Silma yang tinggi dia menempelkan telinganya di pintu ruang kerja bosnya. Tak terdengar suara apapun lagi.


Pintu dibuka dari dalam Silma langsung terperosok jatuh kebawah karena menyandarkan tubuhnya pada pintu ruangan. Dia langsung cengengesan melihat orang yang membuka pintu. Dan segera berdiri kembali.

__ADS_1


Mereka semua keluar dari ruangan Melvin satu persatu. Tapi wajah mereka terlihat risau sama seperti ketika masuk tadi.


Melvin memijat keningnya perlahan. Sudah waktunya makan siang namun kerjaannya masih banyak. Terpaksa dirinya tidak makan siang. Silma masuk kedalam ruangan membawakan makanan kesukaan bosnya.


"Pak Melvin ini saya bawakan makanan kesukaan anda karena mungkin anda tidak bisa keluar untuk makan siang" ujar Silma. Melvin hanya mengangguk.


+++


Jam kuliah usai Dinka dan Reta langsung kekantin. Karena rasa lapar Dinka yang sudah tak tertahankan. "Tau lah orang lagi hamil pasti bawaannya pengen makan mulu" celetuk Reta. Dinka mendelik menatap Reta. "Kenapa? Emang aku sekarang jadi hobi makan" ucapnya.


"Iya hobi makan ujung-ujungnya juga dikeluarin lagi kan" sahut Reta. Dinka menghela nafasnya. Lebih baik diam dari pada melanjutkan berdebat dengan Reta.


Reta memesan banyak makanan untuk sang kaka ipar. "Loe harus habisin semua ini, kalau loe bisa ngabisin Bobby bakalan traktir loe selama seminggu" ungkap Reta. Bobby yang sedang meminum jusnya berhenti sejenak. "Kenapa jadi gue yang traktir Dinka, itu kan loe yang bilang" ujar Bobby.


Reta memberi kode pada Bobby agar menurut. Dinka tidak mengurusi orang yang ada didepannya. Dia sudah sibuk memasukan makanan kedalam mulut karena sangat lapar. Sebodoh amat mereka berdua mau apa.


"Gue bilang kaya gitu supaya Dinka semangat makan, lagian loe kan kaya kenapa pelit banget sih" ucap Reta lirih pada Bobby.


Bobby manggut-manggut dia baru paham maksud dari Reta. Mereka pun melanjutkan memakan hidangan yang tersaji dimeja.

__ADS_1


Selesai makan mereka mencari tempat yang sejuk. Reta sudah mendorong Bobby supaya pergi membeli eskrim. "Buruan belinya" teriak Reta.


Bobby memberikan eskrim pada Dinka dan Reta mereka mengobrol ditaman kampus sembari menunggu dosen datang untuk jam kuliah berikutnya.


__ADS_2