Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
151. Kasih sayang seorang Ayah


__ADS_3

Ronald keluar dengan tangan hampa. Istri Melvin belum mau mengubah keputusannya. Dinka memang masih bersikeras tidak mau mengalah kali ini. "Siapapun gak ada yang bisa mengubah keputusan ku sekarang. Sudah cukup aku mengalah" keluh Dinka berbicara sendiri.


"Bro gue pulang dulu ya ada urusan nih" ucap Ronald sembari melihat jam tangannya. "Okeh, thanks ya udah jenguk istri gue" jawab Melvin. Ronald manggut-manggut dan tersenyum meninggalkan Melvin.


Bi Nah datang dengan membawa sekantong plastik berisi eskrim rasa coklat kesukaan Dinka. "Nona jadi mau makan eskrim?" tanya bi Nah. "Gak jadi bi udah gak mood aku mau tidur saja" Dinka membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata.


"Kalau menunggu nanti bisa lumer non eskrimnya" ucap bi Nah. "Ya udah di makan bibi aja, aku gak jadi makan" jawab Dinka dengan lugas. "Bener nih non, nanti kalau sudah di makan saya jangan diminta lagi ya" bi Nah mencoba merayu Dinka. "Nih mau saya makan lho non, padahal ini eskrim yang nona suka" bujuk bi Nah. Tubuhnya Dinka bangun dan segera merebut eskrim yang ada ditangan pelayannya. "Tadi aja bilangnya gak mau non" bi Nah tersenyum melihat ulah Dinka.


Mendengar sesuatu terjadi pada anak perempuannya, Armand bergegas kerumah sakit tempat Dinka dirawat. Tanpa mau memberitahukan pada sang istri. Hubungannya dengan Dinka memang tidak baik. Tapi sebagai seorang ayah yang sudah menemukan anaknya, dia pun membesuk karena khawatir. Apalagi mendengar sang anak sedang hamil dan segera melahirkan. Membuat Armand ketar-ketir tidak karuan. Di sisi lain dia merasa bahagia karena akan punya seorang cucu pertamanya. Selama ini secara diam-diam Armand memata-matai sang anak lewat pelayan di rumah Melvin. Agar dirinya bisa tau kegiatan apa dan seperti apa kehidupan Dinka sebagai istri Melvin.


Selama memata-matai Armand selalu menerima semua informasi yang valid tentang Dinka. Dia tau masalah yang terjadi dirumah tangga sang anak. Tentang penghianatan Melvin terdahulu. Namun Armand mencoba untuk diam karena Melvin nerupakan anak dari sahabat karibnya. Dia akan beraksi jika sang menantu sudah keterlaluan. Mungkin kini saatnya sudah tiba dan sudah pas.


Armand akan datang kerumah sakit. Walaupun nantinya kedatangannya tidak akan di terima oleh sang anak sulungnya. "Batalkan semua jadwal kerja untuk hari ini" ucap Armand pada sekretarisnya sembari berjalan menuju lift kantor.


"Tapi pak hari ini ada beberapa klien penting dari malaysia" sahut si sekretaris. "Atur ulang jadwal untuk bertemu kembali" Armand menekan tombol masuk kedalam lift.

__ADS_1


Mobil sampai diparkiran rumah sakit. Armand segera turun dan berjalan menuju pusat informasi. "Apakah ada pasien yang bernama Adinka Marwan yang dirawat disini?" tanya Armand pada seorang wanita. "Sebentar saya cek dulu ya pak" jawab si wanita.


"Ada pak dia berada di ruang vvip di lantai 5" imbuh si wanita. Tanpa mengucapkan terimakasih Armand langsung bergegas menuju lift untuk sampai kelantai 5.


"Aku harus menemui anakku, aku harus memastikan sendiri bahwa dia baik-baik saja" Armand berbicara sendiri. Dia melihat nama yang tertempel di dinding dekat pintu. Fokusnya kini tertuju pada sang menantu yang berada di luar ruang rawat. 'Bukankah itu Melvin, kenapa dia berada diluar' batin Armand.


Langkah kaki Armand berjalan menghampiri sang menantu. "Melvin" sapa Armand. "Om Armand" sapa balik Melvin.


"Bagaimana keadaan Dinka?" tanya Armand cemas. "Dia sudah baikan om" jawab Melvin. "Apa yang membuatnya sampai bisa dirawat dirumah sakit? Bukannya dari kemarin-kemarin kondisinya baik-baik saja" sahut Armand. "Ada sedikit masalah om" jawab Melvin. Armand merasa curiga pada Melvin dan Dinka. Pasti ada sesuatu yang salah pada keduanya. "Terus kenapa kamu berada di luar kamar rawat Dinka?" tanya Armand penasaran. "Gak di ijinin masuk sama Dinka om" sahut Melvin cengengesan.


Dinka terdiam melihat sang ayah yang terlihat sangat khawatir. 'Sepertinya aku harus bergantung pada bapak kali ini agar bisa menjauh dari Melvin untuk sementara waktu. Tapi aku masih benci pada bapak' ucap Dinka dalam hati.


"Dinka sayang bagaimana keadaanmu?" tanya Armand lagi. "Bapak tau aku dirawat disini dari siapa?" tanya Dinka memastikan. Dia tidak mau mendengar bahwa sang ayah tau dirinya dirawat dari Melvin. Dan Dinka mengira bahwa Armand disuruh oleh Melvin untuk menjenguk.


"Bapak tau dari seseorang" jawab Armand dengan lembut. "Jangan bilang bapak tau aku disini dari Melvin ya" ujar Dinka.

__ADS_1


"Tidak, bapak tau dari sekretaris bapak dikantor" jawab Armand dengan asal sembari menggeleng. "Apa bapak tidak boleh tau keadaan kamu? Apa kamu masih marah dan menyimpan dendam pada bapak atas apa yang bapak lakukan terhadap kamu dan ibu mu?" tanya Armand penasaran.


Dinka masih diam. "Ini sudah berlalu sangat lama Din. Mau sampai kapan kamu terus-terusan dendam sama bapak. Bapak memang salah sudah pernah meninggalkan kamu dan ibumu. Bapak benar-benar minta maaf" ucap Armand.


"Aku sudah maafin bapak, dan aku ingin tinggal bersama bapak apa itu boleh?" tanya Dinka.


Mendengar ucapan sang anak sulungnya Armand langsung kegirangan dalam hati dan merasa lega bahwa dia sudah di terima kembali oleh sang anak. "Terimakasih sayang, kamu sudah memaafkan bapak" Armand memeluk Dinka dengan erat. Airmata kebahagiaan tidak bisa di bendung lagi.


"Bapak kenapa menangis?" tanya Dinka. "Bapak sangat senang dan bersyukur kamu sudah mau memaafkan bapak nak" Armand mengusap airmatanya di pipi.


"Kamu bilang tadi mau tinggal sama bapak? Tentu saja bapak akan sangat senang" jawab Armand dengan antusias. Masalah yang terjadi antara Melvin dan Dinka, Armand sama sekali belum tau menahu. "Kamu sudah boleh pulang kapan bapak akan menjemput kamu" imbuh Armand.


Mendengar sang istri meminta tinggal bersama sang ayah membuat Melvin terkejut. Dia tidak tau harus berbuat apa kalau sampai ayah mertuanya tau tentang apa yang membuat Dinka sampai dirawat dirumah sakit.


"Mungkin sore ini sudah bisa pulang pak" sahut Dinka. "Baiklah bapak akan bertanya pada dokter" Armand keluar dari ruangan dan dicegat oleh Melvin. "Om apa istri ku minta tinggal dirumahnya om Armand?" tanya Melvin. "Iya vin. Om mau bertanya pada dokter apa istri kamu sudah boleh pulang atau belum" Armand menepuk bahu Melvin sambil berlalu meninggalkan Melvin.

__ADS_1


__ADS_2