Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
82. Menghindar lebih baik


__ADS_3

Dengan rasa ragu Dinka menghampiri kepala pelayan. Yang sedang disibukkan dengan aktivitasnya mengatur para pelayan yang lain. "Pak bisa bicara sebentar?" tanya Dinka. "Bisa non, ada apa ya?" sahut pak Mimin.


Dinka berjalan ke belakang rumah di ikuti oleh pak Mimin. "Aku mau pinjam ponsel mu pak buat menghubungi ayah. Ponsel ku rusak soalnya" ucap Dinka. Pak Mimin merasa janggal dengan wajah nona mudanya. Mata Dinka memang terlihat sembab. "Apa non baik-baik saja?" tanya pak Mimin memastikan.


Dinka hanya tersenyum merespon pertanyaan dari pak Mimin. Diberikannya ponsel milik pak Mimin pada Dinka. Di halaman rumah terdengar suara mobil Melvin. Dinka langsung lari masuk kedalam kamar dan mengunci pintu kamar.


Dengan segera Melvin mencari sang istri. Tangan Melvin meraih gagang pintu kamarnya. Memastikan bahwa Dinka berada didalam. "Sayang kamu didalam?" tanya Melvin.


Tak kunjung ada jawaban Melvin tetap setia menunggu didepan pintu kamar. Dinka berpikir ulang akan menceritakan semuanya pada sang ayah mertua. Didalam kamar mandi langkahnya berjalan mondar-mandir.


Tiba-tiba ponsel pak Mimin berbunyi. Dinka langsung mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelpon. "Hallo pak Mimin apa anak-anak ada dirumah, tolong beritahu Alfan dan Melvin untuk segera terbang ke Singapura bahwa bundanya kritis lagi" ucap seorang pria dari seberang telpon.


Dinka lalu melihat nama kontak yang tertera di ponsel. Tertulis nama pak Jay. "Bukannya ini asisten ayah" gumam Dinka lirih. "Hallo pak Mimin apa mendengar ucapan saya? Anak-anak ponselnya tidak ada yang bisa di hubungi jadi saya menelpon anda" ucap paman Jay.


Tanpa menjawab kembali telponnya. Dinka langsung bergegas keluar dari kamar. Dan hampir saja menabrak Melvin yang sedang bersemedi di depan pintu kamar.


"Sayang akhirnya kamu keluar juga" ucap Melvin dengan girang. Air mata Dinka sudah menetes mendengar ucapan yang dikatakan paman Jay ditelpon. "Vin bunda kritis, tadi paman Jay telpon" ungkap Dinka.

__ADS_1


"Bunda kritis" ujar Melvin. Segera mungkin Melvin mencari pak Mimin untuk memesan tiket pesawat malam itu juga. Rasa kecewa dan sakit hati Dinka sirna karena rasa cemasnya pada ibu mertua.


Dinka dibantu oleh pelayan kembarnya untuk bersiap-siap. Sedangkan Alfan menjemput Reta di asrama. Mereka langsung berangkat ke bandara setelah mendapatkan tiket. Pak Mimin dan pelayan kembar pun di ikut sertakan. Karena kehamilan Dinka pelayan kembarnya harus ikut.


Dibandara sambil menunggu pesawat, Melvin mondar-mandir kesana kemari. Alfan dan yang lain hanya bisa menonton. Disinilah yang paling merasa cemas adalah Melvin. Masalah dengan sang istri belum terselesaikan kini muncul masalah baru. Alfan menepuk pundak sang adik untuk menenangkan.


Dinka sengaja duduk paling ujung. Pelayan kembarnya merasa ada yang aneh dengan nonanya. "Apa nona baik-baik saja?" tanya Arini. Dinka hanya mengangguk. Reta juga menyadari hal yang sama. Dirinya pun mendekat kearah Dinka. "Ada apa?" tanya Reta. Dinka hanya menggelengkan kepala.


Masuk kedalam pesawat Melvin mengajak Dinka untuk duduk bersebelahan tapi Dinka menolak. Karena dia tidak mau berdekatan dengan suami. Kini Alfan yang peka terhadap situasi. "Biar aku saja yang duduk disebelah mu" ucap Alfan sambil mengambil alih tempat duduk Dinka.


Melvin menghela nafasnya dalam. "Beri Dinka waktu" ucap Alfan. Melvin pun mengangguk paham.


"Wah bagus ya non rumahnya" ungkap Arini. Dinka hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan si pelayan. Melvin masuk kedalam kamarnya sendiri. Dan yang lain juga masuk kedalam kamar untuk beristirahat. Namun Dinka lebih memilih tidur dengan pelayan kembarnya.


Kali ini Melvin membiarkan sang istri menjauhinya. Karena memang kesalahan ada pada dirinya. Dan Melvin pikir Dinka butuh waktu untuk semua yang terjadi.


Pagi harinya Arya pulang dari rumah sakit bergantian jaga dengan asistennya. Karena anak-anaknya pun datang dari indonesia. Semua sudah duduk di kursi masing-masing untuk menyantap sarapan.

__ADS_1


"Kalian sampai jam berapa semalam?" tanya Arya. "Dini hari yah" jawab Alfan. Wajah Melvin terlihat pucat dan tidak bersemangat. "Kenapa dengan wajah adikmu?" tanya Arya lagi. Seketika semua mata tertuju pada Melvin.


Dinka memilih untuk menikmati sarapannya karena sudah terlalu lapar. "Apa bunda masih kritis yah?" tanya Reta.


"Semalam memang kritis namun pagi ini sudah mendingan jadi ayah pulang" jawab Arya. Setelah menyelesaikan sarapan bersama Melvin menarik tangan Dinka. Dia sama sekali tidak bisa terus-terusan di diamkan seperti itu.


Baru kemarin di diamkan oleh sang istri sudah membuat Melvin tidak karuan. Sang ayah melihat hal tersebut. Tapi Arya belum mau bertanya apa yang sudah terjadi. Baginya saat ini ialah kesehatan istrinya yang terpenting.


Alfan dan Reta pergi kerumah sakit bersama Arya. Melvin dan Dinka ditinggal. Melvin membawa istrinya kedalam kamar untuk menyelesaikan masalah mereka. Sebaiknya segera diselesaikan dari pada menumpuk semakin banyak.


Dinka hanya diam mengikuti langkah kaki suaminya kedalam kamar. "Kita selesaikan masalah ini sekarang" ucap Melvin memulai percakapan. Dinka masih terdiam sambil duduk diatas ranjang.


"Sayang please aku mohon maafin aku ya, aku melakukan semua ini sama Serin karena aku kasian sama dia" lanjut Melvin. Dinka memalingkan wajahnya menghadap kelain arah. Melvin mulai menjelaskan semuanya sambil bersimpuh didepan sang istri.


"Waktu itu aku pergi untuk menemui Serin dikantor polisi setelah tau dia tidak sengaja menabrak seseorang. Setelah itu aku mau anter dia pulang tapi dia pingsan jadi aku bawa kerumah sakit. Terus aku pulang tengah malam, aku gak nemenin dia sampai pagi karena aku inget sama kamu" jelas Melvin.


Dinka menatap dengan mata yang sendu. Airmatanya sudah keluar terlebih dulu mengingat kejadian kemarin.

__ADS_1


"Aku cuma mau bantu Serin itu aja. Maaf aku sudah bohongin kamu sampai bawa sekretaris aku. Aku kasihan sama Serin karena dia udah gak punya siapa-siapa orangtua angkatnya udah gak anggep dia sebagai anak lagi sayang. Kamu percaya dong sama aku. Sama sekali aku udah gak ada rasa buat Serin. Aku cuma kasian" imbuh Melvin panjang lebar.


Dinka tersenyum mendengar penjelasan suaminya. Karena hatinya sudah tidak bisa kembali seperti semula.


__ADS_2