Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
57. Hari tanpa si tampan #2


__ADS_3

Dinka berjalan beriringan dengan pelayan kembarnya. Dia sengaja mengajak si kembar berjalan-jalan sore hari sembari menikmati udara sore. Langkah mereka menyusuri jalan yang akan ke gerbang utama. Jaraknya lumayan jauh dan banyak pohon ditepian jalan.


"Kenapa coba jarak antara rumah sama gerbang utamanya harus jauh?" tanya Dinka. Si kembar bingung menjawab pertanyaan nona nya. "Mungkin buat keamanan non" jawab Alini.


"Orang kaya memang suka aneh ya" sahut Dinka. Mobil Alfan terlihat mendekat. "Kalian lagi ngapain disini?" tanya Alfan. "Eh kak Alfan baru pulang ya kami lagi jalan-jalan kak bosen dirumah" jawab Dinka.


Alfan terdiam sejenak. "Apa kamu mau pergi kesuatu tempat nanti malam?" tanya Alfan. "Kemana kak?"


"Bersiap-siap saja nanti ku panggil" sahut Alfan. Dia kembali melajukan mobilnya. "Ayo kita balik saja non kerumah" pinta Alini.


Dinka bersiap-siap untuk pergi bersama sang kaka ipar. Alfan membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Dinka masuk. Kaka iparnya ini memang sangat berbeda dengan Melvin. Perlakuannya pada perempuan lebih sopan dan hangat dari pada Melvin.


"Kita mau kemana kak?" tanya Dinka. "Tebak mau kemana?" tanya Alfan balik sambil tersenyum.


"Sedang ada night light festival ditaman dekat kantor, pasti kamu akan suka pergi kesana" ucap Alfan sembari mengemudi. "Sekali-kali boleh lah kaka ngajak kamu kencan" ledek Alfan.


Dinka melebarkan senyumnya seraya berkata "baiklah". Mereka tiba di tempat tujuan. Baru didepan pintu masuk saja sudah terlihat ramai dan indah. "Wah sepertinya bagus kak" Dinka berjalan masuk diikuti Alfan.


Mereka berjalan perlahan menyusuri taman. Dinka melihat sekeliling banyak lampu-lampu yang menyala indah. Namanya juga festival lampu. Banyak orang yang mengambil foto ditiap lampu-lampu yang unik.


"Mau berselfie?" tanya Alfan. "Boleh" Dinka mengangguk. Dia mengambil berbagai pose untuk berfoto. Alfan juga mengambil foto Dinka diam-diam. Wajah Dinka terlihat sumringah. Puas dengan berfoto-foto Dinka meminta di belikan eskrim pada Alfan.

__ADS_1


Mereka duduk disebuah kursi panjang sembari menikmati eskrim. "Kenapa kak Alfan gak ngajak Serin kenapa malah mengajak ku?" tanya Dinka.


Alfan tersenyum miris. "Nomornya gak aktif mungkin dia sengaja mematikan ponselnya" jawabnya.


Dinka menatap dalam kaka iparnya. Mungkin yang sedang gundah bukan cuma dirinya. Dinka menarik tangan Alfan untuk kembali berjalan. "Ayo kak kita nikmati malam ini jangan ada gundah gulana lagi" Dinka tersenyum.


Senyuman itu senyuman yang membuat jantung Alfan berdebar tidak karuan. Alfan menatap Dinka dan termenung.


Dinka bingung melihat tatapan Alfan. Dia menggerakkan tangan didepan wajah Alfan "kakak ipar". Alfan sadar dari termenungnya dan tersenyum. "Kenapa?" tanya Alfan bingung. Dia menjadi salah tingkah sekarang. Dinka tertawa kecil dan tangannya menarik Alfan.


Di perjalanan pulang Dinka tertidur karena merasa lelah. Mobil sudah sampai di bagasi rumah. Alfan tidak langsung membawa Dinka masuk.


"Cantik" satu kata keluar dari mulut Alfan tanpa disadari. Dia mengedipkan matanya dengan cepat. 'Apa yang kupikirkan tadi, kenapa tiba-tiba rasa itu muncul' batinnya.


Alfan menggendong Dinka ala bridal style. Merebahkannya didalam kamar dan menyelimutinya. Alfan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Dia mengelus pipi Dinka. Kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar Dinka dan Melvin. Mungkin Melvin bakal murka bila melihat Alfan menggendong sang istri.


+++


Di sebuah hotel bintang lima yang terdapat di kota Paris. Melvin beristirahat sejenak. Terdengar suara pintu kamar hotel diketuk. Mungkin itu dari layanan hotel karena Melvin memesan makanan.


Melvin membukanya seketika tercengang melihat Serin dihadapannya. "Serin" ucap Melvin. Namun raut wajah tercengang Melvin tak nampak karena tertutup wajah dinginnya.

__ADS_1


Serin mengumbar senyumnya yang memikat. "Boleh aku masuk" Serin langsung menerobos masuk kedalam kamar hotel dengan menarik kopernya. Padahal belum dipersilakan oleh si penghuni kamar.


"Kamu tau dari mana aku menginap dihotel ini?" tanya Melvin penasaran. "Coba tebak" jawab Serin. Melvin masih terdiam dengan gagang pintu ditangannya.


"Aku tau dari kak Alfan dia bilang kamu ada perjalanan bisnis ke sini jadi aku langsung memesan tiket pesawat dengan tujuan yang sama" Serin menjelaskan.


Melvin menghela nafasnya dalam. "Kau sebaiknya memesan kamar yang lain" ucapnya. "Tidak mau aku ingin satu hotel bersama mu" sahut Serin. Dia merebahkan tubuhnya di ranjang hotel. Masa bodoh dengan Melvin.


Melvin menutup pintu kamar hotel kembali. "Baiklah kau tidur disini aku akan memesan kamar yang lain" ucap Melvin. Serin berlari memeluk tubuh Melvin dari belakang. "Bisakah kita nikmati waktu kita berdua yang sudah lama terbuang vin" bujuk Serin mulai menangis. Suaranya lembut bagaikan sutra agar Melvin luluh.


Melvin diam mematung cukup lama. Serin menangis di belakang tubuh Melvin. Airmatanya membasahi baju yang dikenakan Melvin.


Tidak lama kemudian pintu diketuk dan Melvin membukanya. Itu pelayan hotel yang membawakan pesanan makanannya.


"Kita makan dulu, kamu belum makan kan?" Melvin memberikan garpu dan sendok pada Serin. Melvin ini bila memperlakukan Serin dengan begitu hangat. Berbeda perlakuan pada sang istri.


Serin mengusap air matanya dan menerima sendok dan garpu yang diberikan Melvin. Didalam keheningan mereka menikmati makanannya. Melvin yang sudah lelah merebahkan tubuhnya kesofa. Sedangkan Serin berada diranjang yang empuk.


Mereka mempunyai hubungan spesial. Tapi Melvin sangat menjaga etikat sebagai pria jantan. Dia hanya akan menyentuh apa yang sudah menjadi miliknya.


Didalam hati Serin berharap ada yang akan terjadi antara mereka. Dia membalikkan badannya menghadap Melvin yang sudah terlelap disofa. Wajahnya terlihat kecewa karena rencananya belum juga berhasil. Tapi setidaknya dia sudah berhasil membujuk Melvin agar satu kamar dengannya.

__ADS_1


__ADS_2