Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
139. Pertengkaran dua sejoli


__ADS_3

Melvin menuntun sang istri dengan perlahan. "Sayang aku gendong aja ya, biar kamu gak jalan" ucap Melvin. "Aku lagi gak mau di gendong vin" ungkap Dinka.


Bi Nah membuntuti mereka berdua dari belakang. "Tuan muda kata dokter, nona jangan sampai kelelahan" ucap bi Nah. Melvin membukakan pintu mobil untuk sang istri. "Hati-hati" Melvin membantu Dinka untuk duduk dan memakaikan sabuk pengaman.


Mobil melaju dengan pelan. Melvin tidak berani membawa mobil dengan cepat. Tapi laju mobil benar-benar pelan. "Sayang kenapa mobilnya pelan banget sih jalannya" gerutu Dinka. Melvin menambahkan laju mobilnya sedikit cepat. Di sepanjang perjalanan Dinka kembali tertidur.


Melvin menggendong tubuh sang istri dan membawanya masuk kedalam kamar. Diruang tamu terdengar suara Reta dan Bobby sedang bertengkar. Melvin hanya menengok sekilas Bobby dan adiknya itu.


Direbahkannya tubuh Dinka di tempat tidur. Tidak lupa Melvin mengecup kening sang istri dan menyelimutinya. Dia melepaskan jasnya dan melipat kemejanya sampai siku. Langkah kaki Melvin berjalan menuruni anak tangga. Reta dan Bobby hanya terdiam duduk diatas sofa. "Kenapa kalian bertengkar?" tanya Melvin. Sebenarnya Melvin tidak mau ikut campur masalah percintaan sang adik. Namun disini dia juga bertanggung jawab terhadap Reta sebagai kakaknya.


"Itu kak cuma salah paham" ucap Reta menjelaskan. "Salah paham?" tanya Melvin. Pantatnya dia dudukan di antara Bobby dan Reta. "Aku memergoki Reta jalan bareng sama si gondrong itu" ungkap Bobby.


"Gue kan tadi udah jelasin sejelas-jelasnya sama loe kalo kita gak ada hubungan apapun. Ini cuma salah paham beb" ucap Reta dengan suara yang tegas. "Lagian gue tuh nungguin loe sepulang dari kampus, tapi loe gak dateng-dateng pake acara nomornya gak aktif lah. Jadi gue hubungin kak Ronald buat nemenin gue doang kok" sambung Reta.


"Harus berapa kali sih gue jelasin, masa iya gue harus bilang berulang kali supaya loe percaya" Reta menyilangkan kedua tangannya kedada. Melvin masih mendengarkan ucapan dari Reta. "Ya gak seharusnya loe pergi sama dia, loe kan bisa nunggu gue" sahut Bobby.

__ADS_1


"Gue udah nunggu loe beb, nunggu loe sampai lumutan tau gak" jelas Reta. Kali ini suaranya sedikit keras agar Bobby mendengar. "Gue ulangin ya gue cuma minta ditemenin sama kak Ronald buat cari ponsel doang, gak lebih" Reta berkata sampai suara cemprengnya benar-benar merdu. Melvin menutup kedua telinganya dengan tangan sembari melirik kearah Reta.


"Kak gak masalahkan kalau aku minta tolong sama kak Ronald" Reta meminta pendapat dari sang kakak. "Tapi kenapa loe sama si gondrong itu mampir ke cafe, sampai dia bilang sendiri kalau dia naksir sama loe. Gue denger semuanya kok loe jangan nyangkal ya" Bobby menunjuk-nunjuk Reta dengan jemarinya. Melvin yang duduk diantara mereka berdua hanya bisa menggelengkan kepala. Tangan Melvin menangkap jemari Bobby dan menurunkannya. "Gak usah pake nunjuk-nunjuk segala Bob" nasehat Melvin.


Disini sebagai kakak Melvin tidak memihak siapa pun. Dia hanya bisa menasehati agar keduanya cepat menyelesaikan masalah yang menurutnya itu sangat simple. "Kalian udah tau siapa yang salah?" tanya Melvin pada Bobby dan Reta.


Dengan kompak Reta dan Bobby saling menunjuk satu sama lain dan berkata "dia". Melvin menengok kearah Reta dan Bobby secara bergantian. "Kak aku gak ada hubungan apapun sama kak Ronald, Bobby nya aja yang cemburuan" ungkap Reta.


"Gue denger sendiri ya kalau si gondrong itu ngungkapin perasaannya sama loe" timpal Bobby. "Tapi itu cuma bercanda" ujar Reta. Suara mereka bergantian berkicau seperti burung. Melvin kembali menutup telinganya. 'Begini ya kalau anak muda berantem' batin Melvin. Setelah keduanya diam baru Melvin memulai kembali kata-katanya.


"Tapi yang mulai duluan Reta bukan aku" gerutu Bobby. Melvin mengelus keningnya sendiri karena merasa bingung. "Ya udah terserah kalian mau kaya gimana, tapi yang jelas kalian jangan terlalu lama marahannya gak baik buat hubungan kalian" ucap Melvin sambil beranjak pergi.


"Cepat minta maaf" Reta kembali bersuara. "Ya harusnya loe dulu dong yang minta maaf" Bobby masih menjaga harga dirinya sebagai lelaki. "Ya loe dulu lah, kan loe yang mau nonjok kak Ronald" gerutu Reta. "Jadi loe belain si gondrong itu" Bobby melotot menatap Reta. Melvin menyaksikan pertengkaran antara Bobby dan Reta dari atas anak tangga.


"Biasa aja dong gak usah melotot gitu" ucap Reta ketus. "Siapa yang melotot, emang mata gue ini gede" Bobby berkacak pinggang.

__ADS_1


"Ya udah biasa aja gak usah nyolot" timpal Reta dengan cepat. Keduanya kini berhadapan dan saling menatap. Melvin masih asik menonton. Percuma juga untuknya menasehati keduanya.


Dinka terbangun dari tidurnya dan berjalan keluar dari kamar. Melihat Melvin berada di anak tangga dia pun menghampiri sang suami. Suara Reta dan Bobby juga masih terdengar. "Sayang mereka lagi berantem ya?" tanya Dinka.


"Lah kamu kok bangun sih" Melvin meraih tangan Dinka. Dan mengusap lembut rambut sang istri. "Kenapa kamu malah cuma melihat mereka bukannya melerai biar gak berantem" ucap Dinka.


"Aku udah coba buat mereka baikan tapi percuma keduanya gak ada yang mau ngalah" ungkap Melvin. "Iya kaya kamu yang gak pernah mau ngalah" sahut Dinka dengan cepat.


Mendengar ada keributan pak Mimin menghampiri keduanya. "Ada apa ya non tuan?" tanya pak Mimin. "Gue mau pulang" timpal Bobby. Keduanya tak ada yang menanggapi pertanyaan pak Mimin. "Yaudah sana pulang gak usah kesini sekalian" teriak Reta.


Bobby hanya melirik pada Reta dan berjalan dengan cepat keluar dari rumah. Dinka menghampiri sang adik ipar. "Ta ada apa sih?" tanya Dinka.


"Aku berantem sama Bobby dianya aja terlalu cemburuan banget. Aku cuma minta kak Ronald buat nemenin beli ponsel doang, eh gak tau dari mana dia tiba-tiba nongol dan mau menghajar kak Ronald" jelas Reta.


"Kalau Bobby cemburu itu tandanya dia sangat cinta sama kamu, kenapa malah marah-marah sampai berantem gitu sih" ucap Dinka heran. "Ya habisnya dia yang mulai duluan, aku udah coba ngomong halus tapi dianya aja yang nyolot terus" Reta kembali duduk disofa. Nafasnya sampai pengap karena marah-marah dari tadi.

__ADS_1


Dinka pun menepuk-nepuk pundak adik iparnya agar tenang.


__ADS_2