Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
197. Tanggung Jawab Sebagai Kakak #2


__ADS_3

Disaat kehangatan yang tercipta. Pasti si kecil merengek minta susu. Dinka mengambil alih sang buah hati. Dan masuk kedalam kamarnya.


Di belakang Melvin mengekori. Seakan tak mau jauh dari dua orang yang dia sayangi. Melvin duduk sembari menatap keduanya. Hidupnya sekarang sudah lengkap. Namun dia juga harus kehilangan ibundanya. Walaupun terasa hampa mungkin itu akan jadi kenangan.


Disetiap kehidupan membuat Melvin sadar. Bahwa hidupnya dan hidup orang di sekelilingnya sangatlah berharga. Tanpa terasa dia pun teringat dengan sang ayah yang masih di rawat dirumah sakit. Kini hanya ayahnya satu-satunya orang tuanya.


Sejahat apapun sang ayah, tapi dialah ayah yang hebat. Pikiran Melvin penuh dengan memori kenangan masa kecil. Kini Melvin lebih bisa mengendalikan diri. Dan mentalnya kian membaik. Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Tanpa terasa dirinya tertidur.


Dinka mengelus lembut wajah sang suami yang tidur di sebelah anaknya. Wajah Melvin terlihat damai ketika tidur. Setelah beberapa malam tidak tidur sama sekali.


Alfan pulang dengan wajah yang lesu. Dirinya disambut oleh pak Mimin. "Tuan muda pulangnya larut malam" pak Mimin berjalan mendekat. Wajah Alfan tersenyum sedikit untuk menanggapi.


"Tuan muda harus lebih kuat ya, karena disini hanya tuan muda yang saya andalkan untuk menghibur yang lain" pak Mimin menatap wajah lesu Alfan.


"Baik pak" Alfan berucap sambil manggut-manggut. Langkahnya lunglai menataki anak tangga satu persatu. Diluar kamar tidak sengaja bertemu dengan adik iparnya.


"Kamu belum tidur?" tanya Alfan. "Eh kak Alfan baru pulang. Belum ini kak mau ambil minum kebawah" jawab Dinka.


Dinka melihat raut wajah Alfan yang lesu. "Kak Alfan baik-baik sajakan. Bagaimana Reta? Apa sudah ketemu? Dinka bertanya tanpa henti. Alfan hanya menganggukan kepala. Membuat Dinka jadi penasaran.


"Bagaimana kondisinya kak?" Dinka bertanya dengan hati-hati. Alfan menghembuskan nafasnya perlahan. Seolah-olah terasa berat untuk berkata. "Dia baik, namun mentalnya benar-benar hancur" Alfan berkata dengan lirih.


Mendengar jawaban itu Dinka merasa kaget. Sebenarnya dia ingin lebih banyak bertanya. Tapi melihat wajah Alfan yang sangat lelah mengurungkan niat Dinka.

__ADS_1


"Kak Alfan istirahat ya" Dinka berkata sedikit tersenyum. Alfan kembali menganggukan kepalanya. Dinka menuruni anak tangga. Tapi langkahnya terhenti sejenak untuk memberikan semangat pada kakak iparnya itu.


"Kak Alfan" panggil Dinka. Dengan malasnya Alfan menengok. "Fighting" ucap Dinka sembari mengepalkan kedua tangannya keatas. Alfan tersenyum dan mengangguk. Kini langkah kaki Alfan masuk kedalam kamarnya.


Seharian ini Alfan belum sempat menghubungi Enzi karena saking sibuknya. Tangannya mengambil ponsel di saku celana. Ingin sekali dia menelpon sang kekasih namun teringat pasti Enzi sudah tertidur.


Padahal di lain tempat Enzi sejak tadi pagi sedang menunggu sebuah panggilan dari Alfan. Bukan hanya panggilan sebuah pesan singkat pun dia tunggu.


Apalagi kini Enzi sedang hamil trimester ketiga. Yang membuat dirinya sudah sulit untuk tidur. Ketambahan ada kabar duka yang datang dari keluarga kekasihnya itu. Membuat Enzi merasa cemas dan khawatir pada Alfan.


Sebuah pesan singkat muncul di layar ponsel Alfan. Nama Enzi terpampang di layar. 'Selamat tidur kekasih semoga tidurnya nyenyak dan jangan banyak pikiran ya. Bila ada beban atau unek-unek dalam hati lekas ceritakan padaku' itu kata-kata Enzi yang tertulis di layar ponsel Alfan.


Sebuah pesan singkat itu berhasil membuat Alfan kembali sumringah. Enzi membuatnya sedikit terhibur. Baru saja mau menelpon Enzi namun panggilannya sudah dialihkan oleh operator seluler.


Tak terasa jarum jam telah menunjukan pukul 2 dini hari. Tapi Alfan masih belum bisa menutup mata. "Baiklah waktunya untuk tidur" ucapnya sedari tadi.


Tangan Alfan meraba meja nakas untuk mengambil segelas air. Di minumnya air seteguk demi teguk. Dia kembali merebahkan tubuhnya diatas kasur. Otaknya mengingat masa kecil dimana dia harus menjaga kedua adiknya.


Saat-saat dulu begitu menyenangkan baginya. Walaupun sejak kecil Alfan di didik sangat disiplin dan keras oleh Arya. Namun berkat didikan tersebut membuat Alfan menjadi pribadi yang baik. Kehadirannya dirumah itu juga untuk menemani Melvin yang dikala itu sebagai anak tunggal.


Memang hanya Melvin anak kandung Arya dan Sarah. Tapi kedua orang tua angkat itu memberikan kasih sayang yang melimpah ruah. Tanpa membedakan satu sama lain. Begitu pula pada Reta yang sejak kecil dimanja oleh Arya bak putri kandungnya.


Tak terasa Alfan larut dalam indahnya kenangan masa kecil. Dan kini telah tertidur pulas.

__ADS_1


Alarm jam dekker terdengar riuh berbunyi. Dinka mematikan alarm jam dekker miliknya. Karena masih merasa ngantuk dia tertidur kembali di samping putra kecilnya. Begitu pula Melvin masih tertidur nyenyak.


Alfan pun dibangunkan oleh alarm di ponsel genggamnya. Dia segera bersiap untuk pergi kekantor. Sebelumnya dia mampir kerumah sakit terlebih dulu.


Di lorong rumah sakit mata Alfan tertuju pada pemandangan di depannya. Terlihat paman Jay sedang menemani sang ayah untuk mencari udara segar di taman rumah sakit. Alfan berjalan mendekat.


"Ayah" panggilan dari Alfan membuat Arya menengok. Begitu juga dengan paman Jay. "Pagi tuan Alfan" sapa paman Jay. Alfan memberikan senyuman sebagai jawaban. Tapi Arya hanya diam membisu.


Melihat wajah sang ayah yang pucat membuat Alfan merana. "Paman Jay bagaimana kondisi ayah?" tanya Alfan dengan lirih.


"Beginilah kondisi ayah anda" sahut paman Jay dengan lirih pula. "Ayah mau makan?" tanya Alfan lagi. "Tuan besar belum makan sama sekali" jawaban dari paman Jay membuat Alfan gelisah. Lagi-lagi dadanya terasa amat sesak.


"Ayah kita pergi sarapan bersama ya" Alfan mengajak sang ayah. Tapi Arya tetap diam sambil menatap anak sulungnya dengan tatapan kosong.


"Ayah kita ke kantin ya, Alfan mau makan bareng ayah. kebetulan Alfan juga belum sarapan tadi dirumah" Alfan menjelaskan dengan suara lembut. Arya hanya mengangguk sekali.


Alfan mendorong kursi roda sang ayah. Di buntuti oleh paman Jay. Dalam hatinya Alfan sedikit lega karena Arya mau diajak breakfast.


Setelah selesai sarapan mereka kembali masuk kedalam ruang rawat naratama no. 1. Dirumah sakit itu memang masih milik keluarga Arya. Jadi ketua pimpinan perusahaan itu harus fasilitasi ruangan yang terbaik.


"Ayah, Alfan pamit mau berangkat kerja dulu ya" Alfan mengambil tangan Arya untuk di cium. Arya menanggapi dengan anggukan.


Kini langkah kaki Alfan menuju ke ruang rawat sang adik. Dari luar pintu Alfan melihat lewat kaca kecil. Disana terlihat Bobby yang dengan telaten sedang menyuapi Reta. Kekasih adiknya itu berjaga semalaman. Membuat Alfan terharu dengan perjuangan Bobby. Disaat Reta terpuruk dengan sabar Bobby merawatnya.

__ADS_1


Itu menandakan Bobby amat tulus menyayangi Reta. Membuat Alfan sangat bersyukur adanya Bobby di sisi sang adik.


Alfan mengetuk pintu dan membukanya. "Selamat pagi" Alfan masuk kedalam.


__ADS_2