
Malam hari dipenuhi dengan bintang. Dan rembulan juga tidak mau kalah menyinari malam hari. Alfan sudah terduduk didalam ruang pribadi sebuah restoran. Dia mengajak tunangannya untuk makan malam romantis.
Serin sudah tiba di restoran yang dimaskud Alfan. Dia memarkirkan mobilnya. Sebuah panggilan telpon dari Melvin. Di jam yang sama Melvin mengajaknya untuk bertemu. Pastinya Serin lebih mementingkan Melvin dari pada Alfan.
Serin kembali kedalam mobil untuk menemui Melvin. Mereka berjanjian bertemu di sebuah restoran juga.
Alfan kembali melihat arloji yang membulat indah di tangan. Serin belum datang juga kesana. Alfan mencoba menghubungi Serin namun tidak diangkat.
Setelah lama menunggu dia akhirnya pulang dengan perasaan yang kecewa. Belakangan ini tunangannya itu mengacuhkannya. Alfan bertanya-tanya apakah ada yang salah padanya. Dia selalu memperlakukan Serin dengan hangat dan lembut. Namun Alfan tidak mau mengambil pusing masalah itu.
Dinka dan pelayan pribadinya sedang memainkan game yang biasa. Kali ini Dinka yang sering kalah. Wajahnya dipenuhi oleh bedak yang disematkan si kembar. Kegiatan yang mengasikkan bagi Dinka.
Alfan masuk dengan memasang wajah sendu. Dinka melihat wajah sendu kaka iparnya. "Kak Alfan sini" panggil Dinka tangannya digerakkan memanggil Alfan.
Alfan menghampiri Dinka dan pelayan kembarnya. "Kalian sedang apa?" tanya Alfan. "Kita lagi main ludoking kak asik lho permainannya" jelas Dinka.
"Apakah aku bisa ikut?" tanya Alfan. "Masih bisa kok ka kan ini memang permainan untuk empat orang" jawab Dinka.
Mereka bermain berulang kali karena Alfan yang sudah mulai menyukai permainan itu. Tawanya pecah bersama adik ipar dan si kembar.
Melvin masuk kedalam rumah melihat Dinka dan Alfan tertawa riang. Dia sedikit merasa terganggu. Melvin memasang wajah dinginnya dan berdehem pada mereka. Dinka menoleh kearah sang suami tapi tidak dihiraukannya. Dia asik kembali pada permainannya.
Melvin merasa diacuhkan. Dan dia beranjak menaiki anak tangga menuju kamar.
__ADS_1
Setelah Alfan selesai dia juga masuk kedalam kamarnya. Dinka masuk kekamar untuk mengerjakan tugas kuliahnya. "Sudah puas memainkan permainan konyol itu?" tanya Melvin.
Dinka hanya menatap jengah pada sang suami. Fokusnya kembali pada layar laptop. "Kau mengabaikan ku?" tanya Melvin penuh penekanan.
Dinka menggeleng dan berkata "tidak, aku hanya ingin fokus pada tugasku". Melvin menyeringai dan tersenyum sebelah. Dia mendekati Dinka. Mencengkeram dagunya dengan kuat.
"Apa yang kau lakukan" ucap Dinka sambil menahan sakit didagunya. "Kau sungguh berani mengabaikan ku ya" pungkas Melvin.
Sorot mata Melvin tertuju pada Bibir Dinka. Dia melahap bibir istrinya. Laptop di meja kecil terjatuh ke ranjang.
Dinka langsung direbahkan oleh Melvin. Tanpa bisa berkutik Dinka melayani birahi suaminya.
"Kau harus cepat mengandung kalau tidak aku yang akan mendapatkan masalah" bisik Melvin diselah kegiatan malamnya. Tangannya mulai menjamah bagian sensitivitas tubuh Dinka.
Dinka hendak berdiri namun tangan Melvin memegangi badan Dinka. "Jangan beranjak dari sini" ucap Melvin.
Dia memeluk sang istri dari belakang. Dinka memang sengaja memunggungi suaminya. Debaran di jantungnya tak kunjung berhenti. Dinka mengambil nafas dalam dan membuangnya perlahan.
Matanya sudah mulai terlelap. Dia tertidur dipelukan sang suami dan lupa dengan laptop yang masih menyala.
+++
Sinar mentari nan indah tapi tak seindah suasana hati Dinka. Dia benar-benar kesal karena Melvin. Tugas yang semalam dikerjakannya lupa belum disimpan. Padahal harus dikumpulkan hari ini juga.
__ADS_1
"Bagaimana ini pasti dosen killer itu akan marah" gerutu Dinka meratapi nasibnya. Tugas yang penting itu terbuang sia-sia. Butuh waktu yang cukup lama untuk mengerjakannya. Dinka memanyunkan bibir.
Melvin menyuruh Dinka untuk memasangkan dasi. Dinka memicingkan matanya menatap suami. Mengambil dasi dari lemari diruang sebelah kamarnya. Dia naik kesofa agar tingginya lebih dari Melvin. "Sini" pinta Dinka.
Melvin mendekat pada istrinya. Dasi sudah terpasang rapih. Melvin mencium kening Dinka secara tiba-tiba. Pipi Dinka menjadi merah bagai kepiting rebus. Dia menutupi pipinya dengan tangan.
Melvin berjalan menuruni anak tangga diekori oleh istrinya. Alfan sudah berada di meja makan. "Pagi adik ipar" sapa Alfan. "Wah suasana kakak sepertinya sedang bagus" sahut Dinka.
"Permainan yang semalam itu sudah berhasil menghibur ku. Kapan-kapan kalau ada waktu senggang boleh ikut bermain lagi?" tanya Alfan. Dinka mengangguk dengan cepat seraya berkata "tentu boleh".
Melvin menatap tajam pada Dinka. "Tidak ada kapan-kapan lagi" ucapnya. Alfan tertawa kecil. "Kau tidak merasa cemburu pada aku kan?" tanya Alfan meledek adiknya.
Setelah selesai sarapan Melvin mengantar Dinka dengan menggunakan mobil sportnya. Dia membawa mobil itu karena permintaan dari Serin yang ingin jalan-jalan sepulang kerja nanti. Tentu saja Melvin membawanya dengan senang hati.
'Tumben Melvin kekantor membawa mobil ini' batin Dinka. "Ayo masuk" ucapan Melvin membuat Dinka kaget.
"Kau sudah cukup lama tinggal denganku tapi kenapa kau sering terkejut mendengar ucapanku?" tanya Melvin sambil masuk kedalam mobil.
Dinka pun ikut masuk tanpa menjawab pertanyaan sang suami. Dia sudah tau jawaban yang mengganggu hatinya. Pasti mereka akan pergi berkencan. Siapa juga yang peduli mau pergi kencan atau pergi kehotel. Intinya dirinya akan menutup rapat pintu hatinya untuk Melvin. "Hufffttt" Dinka mendesah.
Melvin mengira desahan itu merupakan jawaban dari pertanyaan nya. Sampailah mereka didepan gerbang kampus. Dinka melepaskan sabuk pengaman dan mencium tangan suami untuk berpamitan.
"Malam ini aku akan pulang terlambat, makan malamlah jangan menunggu ku" ucap Melvin. Kata-kata lembut yang keluar dari mulut Melvin itu sempat membuat Dinka tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah" Dinka menjawab tak kalah lembutnya.