
Melvin memandangi wajah sang istri. Tatapan matanya terlihat begitu dalam. "Kamu masih marah?" tanya Melvin. Suaranya di buat selembut mungkin. Tangannya masih betah mengelus perut sang istri.
"Apakah kamu tau gelas kaca bila dipecahkan apa bisa di rangkai kembali?" tanya Dinka. Mereka masih berendam air hangat di dalam bathup. Melvin menggeleng sambil menjawab "mungkin tidak bisa dirangkai lagi".
"Gelas kaca yang pecah itu ibarat hati wanita yang disakiti. Mungkin bisa dirangkai kembali namun bentuknya tidak akan sesempurna dan seindah seperti semula dan pasti akan terlihat ada bekasnya. Seperti itulah hati wanita yang apabila sudah dihancurkan akan meninggalkan bekas luka, walaupun sudah memaafkan" ungkap Dinka panjang lebar.
Seketika gerakan tangan Melvin di perut Dinka berhenti. Benar juga yang dikatakan istrinya itu. Melvin sadar betapa dirinya sudah sangat menyakiti Dinka.
"Mungkin diawal-awal pernikahan aku masih merasa takut padamu, aku coba tuk tidak jatuh cinta padamu. Namun seiring berjalannya waktu hati ini tidak bisa menahannya. Aku pernah kecewa sama seorang lelaki. Tapi waktu itu aku belum terlalu mencintainya jadi rasa kecewa dan sakit hatiku tidak terlalu dalam" jelas Dinka.
"Namun kini...mungkin aku terlalu cinta sama kamu jadi sakit hati ini dan rasa kecewa ini begitu dalam vin" Dinka beralih menatap mata suaminya. Matanya terlihat berkaca-kaca.
"Kamu tau Abimanyu kan, dia udah nyakitin aku dengan menghamili adik ku aku masih bisa terima. Mungkin dia akan lebih bahagia dengan Bella adikku. Namun untuk kamu, aku gak bisa melihat kamu sama wanita lain vin" ucap Dinka yang mulai menangis.
Melvin meraih tengkuk leher sang istri dan mencium bibirnya dengan lembut. Dinka melepaskan ciumannya untuk mengambil nafas. "Beri aku waktu untuk bisa merangkai hati ini yang sudah hancur" pinta Dinka pada sang suami. Melvin dengan cepat mengangguk. Jemarinya menghapus airmata sang istri.
Dinka beranjak dari dalam bathup dan memakai kembali selimut yang sedikit basah karena ulah Melvin. Sedangkan Melvin berdiam diri di dalam kamar mandi. Dia merenungkan kata-kata sang istri. Kata-kata yang sederhana baginya namun bermakna cukup dalam.
__ADS_1
Selama ini keputusannya sudah salah. Mungkin bila waktu dapat diputar kembali. Dia tidak akan bersusah payah menjadikan dirinya sendiri sebagai tumbal. Namun semua itu dilakukan demi sang kakak, dan harus mengorbankan hati istrinya. Dia tidak tau akan membuat hati Dinka sampai sakit seperti itu.
Melvin mengetuk kepalanya berulang kali. Betapa bodoh dirinya. Dinka kembali masuk kedalam kamar mandi untuk mengantarkan handuk. Tanpa berkata apapun pada Melvin langkahnya keluar dari kamar mandi.
Melvin mengenakan handuknya dan bercermin di depan kaca dikamar mandi. Sebuah cermin yang besar di tinjunya dengan tangan. Darah segar keluar dari tangan Melvin menetes di cermin yang remuk. Terbayang wajah ketika sang istri merasa takut padanya. Dan yang paling sering muncul ekspresi wajah Dinka sewaktu melihat dirinya bersama Serin di lorong rumah sakit.
Melvin akhirnya keluar dan berbaring di atas ranjang empuk miliknya. Tubuh kekarnya hanya mengenakan handuk tadi. Lambat laun matanya terlelap dan akhirnya tertidur. Dengan tangan yang dipenuhi darah.
Dinka masuk kedalam kamar. Mendapati suaminya tertidur dengan hanya memakai handuk. Dibawanya nampan berisi makanan dan segelas air.
Dinka meletakkannya di meja dekat sofa tanpa membangunkan suaminya. Dinka melihat kearah tangan sang suami yang berdarah. Dicarinya kotak p3k dan membalut luka tangan si suami.
Alfan datang dari rumah sakit dengan membawa tiket untuk kembali ke indo. "Kak Alfan kenapa pulang?" tanya Reta. Alfan memberikan tiket pesawat pada adiknya. "Ayah ngusir kita, katanya sudah cukup lama kita disini jadi perusahaan gak ada yang handle" ucap Alfan. Padahal itu hanya akal-akalannya Alfan agar bisa mengajak Reta pulang.
"Masa sih ayah ngusir kita" keluh Reta. "Iya ayah memang mengusir kalian" sahut Arya dari arah pintu. Sontak Reta langsung menengok pada ayahnya.
"Melvin mana?" tanya Arya. "Ngurung diri di kamar yah, dari tadi pagi gak keluar" jawab Reta. "Dinka panggil suami mu suruh keruang kerja ayah" pinta Arya.
__ADS_1
Dinka pun memanggil suaminya. Melvin masih dengan posisi ternyamannya. "Ayah manggil kamu suruh ke ruang kerjanya" ucap Dinka.
Melvin berjalan menuruni anak tangga. Tangannya yang dibalut dengan perban di sembunyikan di balik badan. Karena takut sang ayah akan melihat.
Dinka dibantu oleh si kembar mengepak baju-bajunya. Dinka pikir akan terbang malam ini juga. Selesai menemui ayahnya Melvin masuk kembali kedalam kamar.
"Kembar kalian keluar dulu ya" perintah Melvin. Alini dan Arini pun keluar. Melvin duduk disebelah Dinka sambil menunjukan tiket pesawat untuk berlibur. "Apa ini?" tanya Dinka. "Ayah mau kita honey moon, karena waktu itu kita belum bulan madukan" jawab Melvin.
"Tanpa bulan madu pun aku juga sudah hamil kok, kenapa juga harus bulan madu" keluh Dinka. "Ayah mau kita ngabisin waktu berdua aja" sahut Melvin. Tanpa menjawab apapun Dinka beranjak dari tempat tidur.
"Sayang ini ayah yang minta lho bukan aku" sambung Melvin. Dinka menoleh dan mengangguk. Dengan terpaksa dirinya mau menuruti permintaan sang ayah mertua.
Melvin melompat gembira karena Dinka mau berlibur. Waktu berduaan dengan sang istri akan di gunakan dengan sebaik mungkin. Tatapan tajam Dinka terarah pada suaminya. Melvin pun menghentikan lompatannya. "Pasti ini rencana kamu kan?" tanya Dinka dengan tegas. "Engga sayang bukan kok" jawab Melvin dengan cepat. Melvin mengangkat kedua jemarinya keatas dan berucap "suer".
Dinka meninggalkan Melvin didalam kamar. Kembar menyerahkan segelas susu pada Dinka.
"Kaka ipar kenapa belum siap-siap?" tanya Reta. "Penerbangan Melvin dan Dinka besok pagi mereka akan berlibur ke hongkong" jawab Arya. "Lah kenapa ke hongkong yah? Bukannya kita harus pulang" ujar Reta. Alfan menggetok kening Reta. "Kamu ini bodoh ya mereka mau berlibur berdua" timpal Alfan. Otak Reta dengan cepat memahaminya.
__ADS_1
Setelah berpamitan Melvin ikut mengantar kebandara namun Dinka di tinggal dirumah. Sepanjang perjalanan ke bandara Melvin digoda habis-habisan oleh kakak dan adiknya. Pak Mimin juga ikut-ikutan.