Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
182. Rutinitas


__ADS_3

Alfan berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan. "Ribut-ribut ada apa?" tanya Alfan dengan polosnya. Karena teringat kejadian semalam membuat Melvin menghindar dari kakaknya. Tentu saja Alfan berjalan menghampiri Melvin. Sedangkan Melvin mendekati Dinka. Bau alkohol masih tercium dari tubuh Alfan. "Kamu pasti semalam mabuk" Arya berkata secara tegas. "Sedikit yah" jawab Alfan.


Arya mengendus bau tubuh anak sulungnya. "Sedikit kamu bilang" Arya berkacak pinggang. "Cuma minum sedikit yah beneran deh" sahut Alfan.


Alfan mengambil posisi duduk di sebelah Melvin. Tapi Melvin berpindah dan duduk di sebelahnya Dinka. Posisinya sekarang Dinka berada di tengah-tengah antara Alfan dan Melvin. "Kamu kenapa vin?" tanya Alfan. Melvin tidak menjawab pertanyaan kakak angkatnya. "Kak Alfan dan kak Melvin semalam pergi kemana?" tanya Reta. Dengan kompak Melvin dan Alfan menatap kepada si bungsu.


"Enggak jadi deh gak usah di jawab kak" Reta cengengesan karena takut di pandang kedua kakaknya. Dia tau dari teman sekampusnya yang melihat Melvin dan Alfan pergi ke suatu bar yang mewah. Jadi dia ingin menanyakannya.


Semua keluarga sudah berkumpul di ruang makan. Begitu pun menu sarapan sudah bersiap di meja makan. Formasi kali ini lengkap, di tambah ada keluarga dari orangtua Dinka. Serasa seperti makan bersama keluarga besar. "Ayah akan memeriksa kerjaan kalian selama ayah berada di singapura" kata Arya memulai pembicaraan.


Kini mereka semua sudah selesai sarapan. Melvin mengelap mulutnya dengan tisu. "Periksa saja yah, kinerja kami sangat baik" sahut Melvin dengan percaya diri. "Syukurlah kalau kinerja kalian bagus. Itu berarti ayah bisa mewarisinya pada kamu dengan rasa tenang" Arya menatap ke arah Melvin. "Melvin juga berhasil memenangkan tender proyek yang besar yah" Alfan memberitahu hasil kerja keras sang adik. "Tender besar itu dibantu oleh Armand kan jadi kalian bisa memenangkannya" sahut Arya.


Alfan menciut tidak lagi mampu berkata. Begitu pula dengan Melvin yang sedari tadi diam.

__ADS_1


"Memimpin sebuah perusahaan besar itu tidaklah mudah, jadi ayah sudah membiasakan kamu sejak dari muda untuk memegang kendali perusahaan di dampingi oleh Alfan" ungkap Arya. Melvin menengok arloji yang membulat indah di pergelangan tangannya. "Sudah waktunya aku pergi ke kantor" Melvin mendekati sang ibunda untuk berpamitan. Tidak lupa juga berpamitan pada istrinya dan mertuanya.


Alfan mengambil cuti tidak berangkat kerja untuk menyegarkan otak dan tubuhnya. Melvin berangkat terlebih dulu baru sang ayah. Reta juga ikut bersama satu mobil dengan Arya. "Seneng deh bisa berangkat kerja bareng ayah" Reta tersenyum. Dia duduk di samping ayahnya.


"Kamu sudah lama magang di perusahaan?" tanya Arya. "Baru beberapa hari yah, kak Alfan yang memindahkan ku magang di perusahaan. Tadinya aku magang bersama Bobby" jelas Reta mengadukan pada ayahnya.


"Memang kamu ingin magang di perusahaannya Armand lagi?" tanya Arya. Reta manggut-manggut dengan semangat. "Baiklah nanti ayah akan bicara pada Melvin" Arya mengelus puncak rambut anak perempuannya. "Makasih ayah, pokoknya ayah yang terbaik" Reta memeluk sang ayah dari samping. "Kamu ini sudah besar manja sekali" Arya membalas pelukan Reta. Biarpun anak angkat, tapi sejak kecil Reta sangat di manjakan oleh Arya. Berbeda dengan Alfan dan Melvin yang di didik dengan keras olehnya seperti didikan militer.


Arya sengaja mendidik kedua anak lelakinya dengan keras agar keduanya bisa menghadapi kenyataan hidup dan dapat mengemban tanggung jawab yang berat. Berbeda dengan anak perempuannya, dia sangat memanjakan Reta namun masih dalam batas wajar. Reta yang dulunya sangat dimanja pun juga memutuskan untuk hidup mandiri sewaktu masih kuliah.


Asisten pribadinya sudah ikut berjajar rapih di depan pintu masuk lobby kantor. "Sepertinya itu bukan kak Melvin yang menyuruh mereka, mungkin saja paman Jay ayah" ucap Reta. Arya hanya tersenyum dan melihat keluar jendela. Sang supir membukakan pintu mobil untuk Arya. Reta tidak ikut keluar dari mobil karena malu. Dia tidak ingin karyawan sang ayah tau bahwa dirinya adalah anak dari Arya. Dia juga tidak mau di perlakukan khusus hanya karena anak dari pemilik perusahaan. Itu pula juga alasan Reta tidak magang di perusahaan keluarganya.


"Kamu kenapa tidak keluar?" tanya Arya di depan pintu mobil. "Ayah saja duluan, aku mau ikut ke parkiran" jawab Reta. Si supir melajukan mobilnya dan memarkirkan di parkiran bawah tanah.

__ADS_1


Reta keluar dari mobil. Langkahnya menuju pintu masuk. Sekelompok orang yang menyambut sang ayah sudah tidak ada. Dia berjalan dengan santainya. Namanya di panggil oleh seorang lelaki. Reta menoleh mencari orang yang memanggilnya. "Danu" Reta berhenti sejenak. "Hai, kamu magang disini juga" seorang pria yang bernama Danu menghampiri Reta.


"Iya nih baru beberapa hari" sahut Reta. "Sama dong, aku juga magang disini. Kenapa bisa kebetulan gini ya" ucap Danu tersenyum. "Mungkin hanya sebuah kebetulan belaka" Reta tersenyum tipis. "Kamu di departement apa?" tanya Danu.


Reta tidak langsung menjawabnya. Dia berpikir untuk tidak memberitahukannya. "Hanya bagian yang tidak pentinglah" jawab Reta sambil berjalan masuk. Danu mensejajarkan dirinya dengan Reta. "Kamu gak tanya nih aku di bagian apa" timpal Danu. "Kamu di bagian apa?" tanya Reta dengan nada yang malas. "Aku di departemen perencanaan dan pengembangan" jawab Danu dengan bangganya. "Oh" Reta menanggapinya dengan singkat.


"Kalau begitu aku duluan ya" ucap Reta sambil berlari menuju lift. Dia tidak mau berlama-lama mengobrol dengan teman sekampusnya itu. "Ada apa dengannya" gumam Danu lirih.


Dirumah Dinka menina bobokan sang anak. "Timang-timang anakku sayang, bobo yang nyenyak" ucap Dinka dengan nada bernyanyi. "Nona apa tidak ingin mempekerjakan babysiter? " tanya bi Nah.


"Enggak bi, Melvin maunya aku dan dia sendiri yang merawat anak kita" jawab Dinka. "Iya benar lebih baik di rawat sendiri saja kan bunda juga tidak ada hal yang dilakukan. Kalau kamu kewalahan bisa minta tolong bunda" suara Sarah terdengar menyahuti.


"Iya kamu tidak usah sungkan pada ibu mertuamu ndo" timpal Siti. "Iya bu" sahut Dinka.

__ADS_1


Alfan sedang sibuk main catur bersama dengan Rama dan Abimanyu. "Bapak kenapa mahir sekali sih main caturnya" keluh Alfan yang terus menerus kalah dari Rama. "Kamu saja yang tidak konsentrasi mainnya" sahut Rama. "Mungkin kamu tidak pandai main catur" celetuk Abimanyu. "Coba gantian kamu main lawan bapak" saran Alfan pada Abimanyu. "Siapa takut" jawab Abimanyu dengan cepat.


Rama melihat ada ketegangan di antara Alfan dan Abimanyu. "Sudah-sudah biar kalian saja yang main catur bapak jadi penontonnya" saran Rama. "Tapi aku malas main catur lawan Abimanyu pak" keluh Alfan. "Memangnya kamu saja" sahut Abimanyu dengan suara keras. Rama hanya bisa menghela nafasnya melihat tidak ada yang mau mengalah diantara mereka berdua.


__ADS_2