
Seusai makan malam mereka semua saling berbincang. Kecuali Melvin yang tengah berperang dengan banyak dokumen diruang kerjanya. Alfan menggendong anak Bella dan Abimanyu. "Siapa namanya?" tanya Alfan. "Namanya Abel om" jawab Bella.
Ayah tiri Dinka menanyakan dimana menantunya. "Den bagus mu kemana ndo?" tanya Rama pada Dinka. "Mas Melvin lagi menyelesaikan pekerjaanya pak" jawab Dinka. "Sudah malam kok kerja terus apa nda lelah ya pak" sahut sang ibu.
Alfan merasa tidak enak hati karena sang adik masih tetap saja sibuk dengan pekerjaan disaat ada kedua mertuanya. Namun apa boleh buat karena memang pekerjaan Melvin juga banyak.
Semua orang sudah berada di kamarnya masing-masing. Rama pun keluar dari kamarnya dan ingin mengajak si menantu berbincang. Dia memandang kesana kemari berharap ada pelayan yang belum tidur. Pak Mimin pun melintas. Rama memanggil pak Mimin untuk mengantarkannya pada Melvin.
Pak Mimin mengetuk pintu ruang kerja Melvin. "Tuan muda ini ada ayah mertua" ucapnya dari balik pintu. Melvin pun meregangkan ototnya yang kaku dan berjalan keluar. "Kalau begitu saya undur diri tuan" ucap pak Mimin. Rama pun manggut-manggut melihat kesopanan pak Mimin.
"Nak Melvin bapak ingin banyak bercerita dengan mu, apakah bapak mengganggu?" tanya Rama. "Sama sekali tidak pak" jawab Melvin sambil tersenyum.
Rama mengajak Melvin main catur di temani dengan minuman kopi. "Ayo tanding main catur sama bapak" ajak Rama. "Boleh pak" sahut Melvin.
Mereka berdua duduk beralaskan karpet bulu yang tebal. Melvin membuka papan caturnya dan menata satu persatu buah/bidak catur. "Apa anak bapak membuat kamu repot?" tanya Rama memulai percakapan. "Justru Melvin lah yang belum bisa membahagiakan Dinka pak" jawaban jujur dari Melvin membuat Rama senang.
__ADS_1
"Ayo kamu duluan yang mulai main" tantang Rama. Melvin pun menyanggupi tantangan ayah mertuanya. "Dinka itu anak yang sangat penurut dan penyayang, walaupun sejak kecil dirinya selalu di perlakukan kasar oleh ibu dan Bella namun dia tetap menyayangi mereka" ungkap Rama.
"Iya pak" jawab Melvin. "Dinka itu juga anak yang sangat menerima apa adanya bila dijahati dia lebih baik diam daripada harus membalasnya beda sekali dengan adiknya itu. Walaupun bapak ini bukan orangtua kandungnay tapi bapak tau bagaimana kepribadian Dinka" lanjut Rama.
Melvin mendengar sambil menyeruput kopinya. "Sejak kecil dia haus akan kasih sayang dari ibunya, karena ibunya itu selalu memperlakukan Dinka dengan kasar. Bapak merasa sangat kasihan pada dia. Tapi karena itu dia tumbuh menjadi wanita yang kuat dan pintar. Dinka selalu mendapat rangking satu selama disekolah, dia ingin membuktikan pada ibunya bahwa dia patut dibanggakan. Dan semua itu tidak membuat ibunya bangga" ungkap Rama menjelaskan pada menantunya.
"Dan setelah mendengar Dinka akan menikah dengan kamu bapak merasa lega dan bahagia, pada akhirnya Dinka mendapatkan suami yang mapan dan tampan seperti nak Melvin ini" sambung Rama. Melvin jadi teringat ketika dia menyiksa sang istri diawal pernikahannya. Padahal orangtua Dinka sudah mengira bahwa dirinya bisa membuat Dinka bahagia.
"Maaf ya pak, Melvin belum bisa membahagiakan Dinka selama ini. Melvin sudah banyak berbuat salah sama anak bapak. Tapi Melvin akan berusaha untuk bisa membuat Dinka bahagia" ucap Melvin sambil menunduk. Rama mengambil cangkir kopi dan meminumnya.
Melvin mengantarkan ayah mertuanya kekamar takut kalau tersesat lagi. Melvin pun masuk kedalam kamarnya. Melihat sang istri sudah tertidur.
Melvin memeluk Dinka seperti biasa. Tangannya tidak lupa mengelus perut Dinka. Melvin merasa senang kalau Dinka tidak menyingkirkan tangannya. "Jelaskan yang terjadi dikantor" suara Dinka terdengar sendu.
"Sayang kamu belum tidur?" tanya Melvin. Dinka tidak menggubris pertanyaan Melvin. "Maaf sayang apa yang kamu lihat dikantor itu sebuah kesalahpahaman" Melvin mengambil posisi duduk di belakang Dinka.
__ADS_1
Dinka pun ikut duduk. Matanya menatap sang suami dengan seksama. Terlihat sorot mata Melvin yang tidak berbohong. "Aku habis selesai meeting dan kemudian aku kembali keruangan ku. Aku kaget melihat Serin sudah ada disana, aku gak tau bagaimana dia bisa masuk sayang" ucap Melvin.
"Lalu" sahut Dinka sembari memeluk bantal. "Jangan kaya gitu dong sayang nanti perut mu kegencet" sahut Melvin sambil membuang bantal yang di pegang Dinka.
"Dan setelah itu dia nyerocos macem-macem gak karuan. Aku aja sampai lupa apa yang dia omongin. Dia juga minta maaf. Aku langsung manggil sekretaris buat ngusir Serin, aku gak tau tiba-tiba dia meluk aku dari belakang dan aku denger suara benda yang jatuh baru aku tau bahwa kamu dateng" jelas Melvin. Mata Melvin menatap mata Dinka dengan dalam.
Melvin meletakkan tangan Dinka didada bidangnya sebelah kiri. "Kamu percaya sama aku kan sayang, aku cinta banget sama kamu. Sudah cukup buat aku nyakitin kamu dan mulai sekarang kita harus bahagia" kata-kata Melvin terdengar sangat manis di telinga Dinka.
Itu membuat pipinya merah merona. Melvin melihat pipi Dinka yang merona. Disaat inilah Melvin mengambil kesempatan untuk meraih bibir Dinka dan menciumnya. Mereka berciuman cukup lama. Tangan Melvin mulai nakal dan memegang bagian dada sang istri.
Tangan Dinka menyingkirkan tangan Melvin. Di lepaskannya tautan bibir Melvin untuk mengambil nafas. Melvin kembali mencium sang istri. Tangannya memang tidak bisa diam. Bergerak melalang buana di tubuh sang istri.
Melvin membisikan bahwa dia menginginkan Dinka malam ini. Dinka menggeleng menolak permintaan suaminya. "Yang waktu itu aja masih terasa perihnya vin" ucap Dinka. "Baiklah aku tidak akan memaksa kamu" ujar Melvin sambil menunjukan barisan gigi putihnya.
Dinka jadi ingin makan yang manis-manis. Melvin pun mengambilkan buah didalam kulkas. "Nih makan yang banyak" Melvin memberikan seranjang buah.
__ADS_1
Direbahkan tubuhnya sambil menonton televisi untuk menemani sang istri. Rasa kantuknya menyerang. Lambat laun Melvin terlelap.