
Alfan berjalan mondar mandir kesana kemari. Menunggu di luar ruang rawat Dinka. Sang dokter keluar dan menjelaskan semua pada Alfan. Bi Nah datang dengan pak Mimin secara bersamaan. "Tuan muda bagaimana dengan keadaan kandungannya nona?" tanya bi Nah cemas. "Bibi tenang aja Dinka udah baik-baik saja" jawab Alfan. "Duh tuan saya sangat cemas setelah tau non Dinka dibawa kerumah sakit secara mendadak" keluh bi Nah.
"Tadi saya sudah beritahukan pak Jay asistennya tuan besar bahwa non Dinka dibawa kerumah sakit, setau saya nona mau melahirkan jadi saya menghubungi asistennya tuan besar" jelas pak Mimin. Alfan menepuk jidatnya mendengar ucapan kepala pelayannya. "Kenapa malah menghubungi paman Jay pak, harusnya jangan dulu" sahut Alfan.
"Maaf tuan kalau saya salah" ujar pak Mimin. "Tuan Alfan saya mau melihat keadaan non Dinka ya" timpal bi Nah sembari berjalan masuk kedalam ruang rawat rumah sakit.
Melihat Melvin terduduk lemas membuat bi Nah sedih. Belum pernah dirinya melihat anak majikannya yang super duper dingin tampilannya itu terlihat tak berdaya disamping sang istri.
Melvin terlihat begitu kalut dengan kondisi Dinka. Dia jadi merasa bersalah pada istrinya. Walaupun secara langsung itu bukan salahnya. "Tuan muda yang sabar ya, nona pasti kuat" ucap bi Nah menenangkan Melvin. Tangannya juga mengelus pundak Melvin. Anak majikannya itu sudah dianggap seperti anak sendiri olehnya. "Bi Nah kapan datang?" tanya Melvin dengan suara yang parau karena menangis.
"Barusan tuan" jawab bi Nah pelan dan lembut. "Biar bibi yang menjaga nona muda, tuan Melvin istirahat menenangkan diri terlebih dulu" saran bi Nah. Tanpa menjawab Melvin berdiri dari duduknya dan mengelus rambut sang istri. Tidak lupa mencium keningnya.
"Titip Dinka ya bi" ucap Melvin dan berjalan keluar dari ruang rawat. Alfan dan pak Mimin berjaga diluar ruangan. Segera bangun dari duduknya setelah melihat Melvin keluar. "Vin" panggil Alfan. Melvin berjalan menghampiri sang kakak dan memeluknya. Tangisan di matanya pun kembali membanjiri pipinya. "Aku sudah salah kak, aku salah" ungkap Melvin. Alfan menepuk perlahan untuk menenangkan sang adik. "Aku gak tau harus bagaimana kalau Dinka dan anak ku kenapa-napa" lanjut Melvin. Kali ini Melvin tidak malu bersikap manja pada sang kakak. Sedari kecil Alfan lah kakak sekaligus teman yang terbaik bagi Melvin. Melvin merasa beruntung bisa bertemu dengan Alfan.
Setiap kali Melvin dalam keadaan gundah dan pada titik yang sangat lemah, Alfan lah tempat bersimpuh dirinya. Setiap kali ada masalah apapun itu. Ketika mendengar sang ibunda punya penyakit serius Melvin pun bersimpuh pada sang kakak. Baginya Alfan tempat ternyaman.
__ADS_1
Sudah lama sekali Alfan baru melihat lagi titik saat lemahnya Melvin. "Kamu gak salah ini semua hanya kebetulan terjadi, yang penting sekarang Dinka dan anak kamu baik-baik saja" ucap Alfan sambil mengelus pundak Melvin.
Pak Mimin cukup kaget melihat Melvin seperti anak kecil yang minta peluk pada sang ibu. Baru kali ini dirinya melihat Melvin seperti itu. Melvin yang biasa dilihatnya sebagai pria tangguh dan tampan itu bisa bersikap sedemikian rupa pada kakak angkatnya. Melvin memang belum pernah bersikap seperti itu pada kedua orangtuanya.
'Jadi orang yang sering terlihat kuat pun punya titik tak berdaya saat orang yang sangat terkasih sakit ya seperti tuan muda Melvin sekarang' batin pak Mimin. Dia ikut mencoba menenangkan anak majikannya. "Tuan muda harus kuat demi non Dinka, tuan muda secara langsung tidak bersalah. Benar kata tuan Alfan ini hanya kebetulan semata" ucap pak Mimin.
Melvin masih memeluk erat sang kakak. Airmatanya belum juga berhenti dari tempatnya. "Sudah kamu harus tenang sekarang" Alfan mengelus pundak sang adik. Kini Melvin pun sedikit merasa tenang. "Pak Mimin tolong belikan air mineral di minimarket terdekat ya" pinta Alfan. "Baik tuan" jawab pak Mimin dengan cepat.
Ada beberapa orang yang berjalan melihat kearah Alfan dan Melvin. Itu membuat Alfan sedikit malu. Mereka mengira Alfan dan Melvin yang tidak-tidak. Karena terlihat dari cara memandangnya. "Hei bung mau sampai kapan kamu meluk kakak begini, memang gak malu apa?" ledek Alfan.
"Nih kamu bersihin pakai ini" ledek Alfan lagi. Tanpa menunggu lama Melvin mendekat dan mengusap-usapkan wajah tampannya pada dada sang kakak. Alfan hanya bisa diam membisu atas kelakuan sang adik. Padahal itu hanya lelucon agar Melvin sedikit terhibur. Namun Melvin menanggapinya dengan serius.
Mereka berdua duduk sembari menunggu pak Mimin. Setelah beberapa menit pak Mimin muncul dengan dua botol air mineral ditangannya. "Ini tuan muda silahkan diminum" pak Mimin menyerahkan botol air mineral pada Alfan. "Nih kamu minum dulu biar tenang" Alfan menyodorkan air pada sang adik.
Melihat Melvin menghabiskan satu botol air mineral sekaligus membuat Alfan dan pak Mimin tidak berkedip. "Kembung vin" celetuk Alfan.
__ADS_1
Reta dan Bobby segera pergi kerumah sakit setelah mendengar kabar dari pelayannya. "Sayang tunggu dong, larinya jangan terlalu cepat" keluh Bobby. Reta sudah berlari meninggalkan Bobby di belakang cukup jauh.
"Astaga kenapa gue bisa jatuh cinta sama cewek kaya gitu sih" ucap Bobby sendiri sembari mengambil nafas dalam-dalam agar tidak ngos-ngosan.
Reta melihat kedua kakaknya sedang duduk dan mendekatinya. "Kak Alfan kak Melvin bagaimana kondisi kakak ipar dan keponakanku? Apa sudah lahir?" tanya Reta tidak sabaran. Belum juga dijawab oleh Alfan maupun Melvin. Reta sudah bertanya lagi "bayinya cewek apa cowok?".
"Dek sabar dong kalau mau tanya satu persatu, jangan kaya kereta main nyambar aja kaya gitu" nasehat Alfan. "Aku tadi denger dari pelayan kalau kak Dinka mau melahirkan. Jadi aku langsung kesini sama Bobby" jelas Reta.
"Dinka belum melahirkan" jawab Alfan dengan cepat. Melvin duduk sembari melamun juga tidak tau kedatangan adik angkatnya.
Melihat Melvin melamun Reta menunjuk dengan dagunya pada Melvin. Dan meminta penjelasan pada Alfan tanpa bicara. "Biarin aja" ucap Alfan lirih dan menyuruh Reta untuk tidak mengganggu Melvin.
"Katanya kamu datang sama Bobby mana dia?" tanya Alfan. Reta baru sadar bahwa Bobby tertinggal entah dimana. "Astaga iya ketinggalan dimana tuh orang ya" sahut Reta sambil menepuk jidatnya.
Alfan geleng-geleng kepala secara kompak dengan pak Mimin. "Kamu kan tau Bobby itu buta arah, harusnya kamu tunggu dia dong" gerutu Alfan.
__ADS_1
Reta pun kembali ke lobby rumah sakit untuk mencari sang kekasih yang tertinggal.