Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
190. Hari pertunangan #3


__ADS_3

Bagi Alfan siang itu terasa berlalu begitu cepat. Sembari menatap indahnya langit senja, Alfan berusaha memantapkan hati. "Mungkin ini yang terbaik, Enzi memilih mempertahankan kehamilannya. Dan aku memilih keselamatan kalian berdua" gumam Alfan lirih sambil memandangi langit. "Apa yang kakak lakukan" Melvin tiba-tiba muncul. "Tidak apa" jawab Alfan. Wajahnya terlihat murung.


Alfan berjalan lebih dulu di depan Melvin. Kali ini Melvin bergantung pada rencana B yang di serahkan pada Ronald. "Semoga saja Ronald berhasil membawa Enzi kembali dengan utuh" Melvin berbicara sendiri.


"Ayo pulang, ngapain masih di situ" ucap Alfan. "Iya kak" Melvin berlari menghampiri sang kakak dan masuk kedalam mobil. "Kali ini biar aku saja yang mengemudi" ucap Melvin. Alfan kembali terlihat melamun. Melvin tak mengajak bicara hanya menatapnya.


Sampai di rumah Alfan langsung masuk kedalam kamarnya. "Nak Alfan sudah pulang" ucap Siti. Alfan hanya tersenyum tak menjawabnya. "Bu" Melvin mencium tangan sang mertua. "Ada apa dengan nak Alfan?" tanya Siti. "Aku juga kurang paham bu" jawab Melvin.


Melvin melangkah masuk kedalam kamar. Dinka tidak ada di dalam kamar hanya ada sang buah hatinya saja. "Sayangnya ayah sendirian ya" Melvin mencoba bermain dengan si kecil. "Bunda kemana?" Melvin berbicara pada si kecil sambil melihat ke sekitar kamar. Terdengar bunyi gemercik air dari kamar mandi. "Apa bundamu sedang mandi ya" Melvin mengelus pipi anaknya.


Munculah sifat usil Melvin. Dia membuka pintu kamar mandi yang tidak di kunci oleh Dinka. Melihat pemandangan indah lekuk tubuh sang istri membuatnya sumringah. Walaupun ada gumpalan lemak di perut sang istri akibat hamil. Tetap saja di mata Melvin sang istrilah yang paling cantik. "Sayang" ucap Melvin berjalan mendekat. "Melvin" Dinka sedikit terkejut. "Kamu ngapain masuk" gerutu Dinka.


"Emang gak boleh mandi bareng sama istri sendiri" ucap Melvin. "Awas nanti lihat jus semangka mengalir lho" sahut Dinka. "Jus semangka? Mana ada sayang" Melvin memeluk tubuh istrinya dari belakang. "Tuh lihat kebawah" sahut Dinka. Melvin menatap ke bawah. "Gak ada apa-apa sayang" jawab Melvin.

__ADS_1


"Hahaha di bohongin mau aja" Dinka tertawa dengan riang. "Kamu ngerjain aku ya" Melvin membalikkan tubuh sang istri. Tangannya meraih leher jenjang Dinka untuk di cium. "Melvin aku masih masa nifas, kamu tahan dulu dong" keluh Dinka. "Cuma pengen nyium leher doang kok" gerutu Melvin. Dinka mendorong tubuh sang suami. Tangannya bergerak cepat mengambil jubah handuk untuk dipakai.


"Pelit banget sih kamu" Melvin memasang tampang memelas. "Biarin" Dinka menjulurkan lidahnya sambil berjalan keluar. "Kamu sengaja mancing ya" Melvin kembali meraih pinggang sang istri. "Lepas vin" Dinka ingin melepaskan diri namun tak bisa. Melvin mendaratkan ciuman pada pundak dan beralih ke leher. Sengaja meninggalkan bekas merah di tiap ciumannya di tubuh Dinka.


Dinka mencubit tangan Melvin dengan kuat. Sampai Melvin mengaduh sakit. "Makanya jangan main hakim sendiri, udah di bilangin aku masih masa nifas" keluh Dinka. Tidak lupa kaki sang suami pun turut di injaknya. "Sayang kamu tega banget sih" Melvin mengangkat salah satu kakinya yang di injak. Drama di dalam kamar mandi telah berakhir. Kini gantian Melvin yang mandi.


Tempat acara pertunangan sudah siap. Acara di adakan di aula hotel milik keluarga Tama. Banyak tamu undangan pun sudah datang. Arya dan sang istri sengaja datang lebih dulu dari yang lain. Untuk menyambut tamu undangan. Melvin menawarkan dirinya untuk mengantar sang kakak. Dia sudah meminta izin pada sang ayah. "Dengan begini kesempatan untuk membawa kak Alfan kabur dari acara sangat mudah" gumam Melvin bicara sendiri. "Sayang kamu barengan sama pak Mimin aja ya mobilnya. Sebab aku mau secara eksklusif mengantar kak Alfan" jelas Melvin. "Iya sayang" Dinka manggut-manggut.


"Tidak usah takut, kakak akan terbebas dari semua beban ini" ucap Melvin lirih. "Ayo" Melvin melambaikan tangan mengajak sang kakak masuk kedalam mobil. Alfan tidak tau rencana gila apa yang akan di jalankan oleh sang adik. "Terbebas dari beban" Alfan mengernyit sambil menatap Melvin. Yang di tatap hanya tersenyum lebar sambil memainkan alisnya. Alfan menghela nafas.


Mobil Melvin meluncur di urutan paling belakang. Dia sengaja membawa mobil sport edisi terbatas. "Kamu tumben bawa mobil ini?" tanya Alfan. "Hanya ingin menggunakannya saja kak" jawab Melvin. Alfan beralih memandang keluar jendela mobil. Dia sadar sudah salah jalan. "Vin kita mau kemana? Ini bukan jalan menuju ke hotel" ucap Alfan.


Tiba-tiba Melvin menambah kecepatan laju mobilnya. Membuat Alfan terkejut. "Vin kamu ini gila ya" gerutu Alfan. "Ada yang membuntuti kita kak" Melvin sadar bahwa ada mobil yang mengikutinya sedari tadi. Alfan menengok kebelakang.

__ADS_1


"Pasti ayah menyuruh pengawal untuk mengikuti kita" ucap Melvin sambil menambah kecepatannya. Namun mobilnya berhasil di salip oleh mobil yang mengikuti. "Mau main balapan dengan ku" Melvin kembali menambah kecepatannya. "Ayo akan ku ladeni permintaan kalian" imbuhnya. Alfan berpegangan dengan sangat kuat karena takut. Sewaktu muda dia tidak seliar sang adik. Memanglah Melvin suka balapan sewaktu masih sekolah dulu. "Vin kamu gila ya ini cepat banget" gerutu Alfan memarahi sang adik. "Ayolah kak sekali-kali main kaya gini, sudah begitu lama aku tidak sesenang ini mengendarai mobil" sahut Melvin sembari fokus pada jalanan.


Beberapa bodyguard sudah di siapkan oleh Arya untuk mengawal mobil Melvin dari belakang tanpa sepengetahuan anaknya. Arya sengaja menyiapkan pengawalan agar Melvin tidak bisa berbuat sesuatu.


Ada polisi yang sedang patroli malam. Melihat dua mobil saling beradu kecepatan, polisi pun ikut mengejar. "Sial kenapa ada polisi juga" keluh Melvin. Mendadak dia berpindah lajur. Kebetulan saat itu keadaan jalanan sedikit lengang. Melvin sengaja mengemudikan mobilnya secara zig-zag agar tidak terkejar. Alfan merasa seperti naik roller coaster. "Vin jangan terlalu cepat kakak merasa mual" gerutu Alfan sambil berpegangan dengan erat. "Kaka nikmati saja" sahut Melvin dengan suara yang lantang.


Salah satu pengawalnya ada yang melaporkan bahwa Melvin berhasil kabur. Tapi itu tidak membuat Arya marah. Karena dia sudah memasang gps pada ponsel Alfan untuk berjaga-jaga. Para pengawal pun mengikuti instruksi dari majikannya itu.


"Sepertinya kita sudah aman kak" Melvin memperlambat laju mobilnya dan menepi ke sebuah pinggiran jalan yang sepi. Tidak ada jawaban dari sang kakak, Melvin menengok kesebelahnya. "Kakak kenapa?" tanya Melvin. Alfan terlihat mabuk darat. Wajahnya yang sudah suram kini terlihat pusing. Merasa ada yang aneh dengan perutnya Alfan segera keluar dari mobil.


Huekkkk.


Seketika semua isi di perutnya keluar begitu saja. Melvin pun langsung keluar dari mobilnya. "Kakak tidak apa-apa?" tanya Melvin. "Kamu gila ya kamu hampir membuat kakak mati sia-sia" gerutu Alfan. Melihat wajah Alfan yang lucu membuat Melvin tertawa terbahak-bahak. "Ekspresi wajah kakak sangat lucu" Melvin memegangi perutnya. Tidak terima di tertawai, Alfan mendekati sang adik dan memukul kepalanya namun tidak keras. "Aduh kak sakit" keluh Melvin. Alfan hanya geleng-geleng kepala.

__ADS_1


__ADS_2