Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
191. Hari Kemenangan


__ADS_3

Alfan dan Melvin gembira karena sudah lolos dari pengawal sang ayah. "Kita sebaiknya kemana dulu nih kak sambil menunggu acaranya selesai?" tanya Melvin. "Ke apartemen kamu saja bagaimana?" tanya Alfan balik. "Baiklah kita kesana, lagipula ayah juga tidak tau tentang apartemen ku yang itu" jawab Melvin dengan riang.


Mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang. "Tapi dengan kakak kabur seperti ini apa ayah akan menghentikan pertunangannya" ucap Alfan. "Tuan rumah kan tidak ada mana mungkin bila acaranya di teruskan. Kakak ini bagaimana sih" sahut Melvin. Alfan merasa cemas dengan keadaan Enzi. "Tapi Enzi..." ucapan Alfan terpotong oleh Melvin. "Sudah lah kak jangan terlalu dipikirkan. Lihat tuh wajah kakak sampai berkeriput gara-gara memikirkan ini semua" ledek Melvin. Alfan menatap malas sang adik.


Sampai di apartemen Alfan dan Melvin langsung masuk kedalam. Alfan merebahkan tubuhnya di ranjang empuk milik sang adik. Begitu juga dengan Melvin berbaring di sebelahnya. "Akhirnya bisa istirahat juga" ucap Alfan sembari memejamkan matanya.


Tiba-tiba suara bel pintu berbunyi. "Vin ada tamu tuh" Alfan menengok ke samping. Namun sang adik tidak ada. "Vin ada tamu" ucap Alfan dengan suara keras. "Buka aja kak aku lagi buang hajat dulu" sahut Melvin dengan suara keras juga. Alfan membuka pintunya. Dan mulutnya langsung di bekap oleh seorang pria yang berbodi besar.


Merasa ada yang janggal, Melvin langsung keluar dari kamar mandi. "Mana kak Alfan" Melvin berbicara sendiri. Dia melihat pintu terbuka. Disaat itulah Melvin tau sang kakak pasti di bawa oleh pengawal sang ayah. "Kakak" Melvin mencari sang kakak namun tidak ada. Dia berlarih ke balkon apartemen. Benar dugaannya sang kakak di bawa oleh pengawal ayahnya. Melvin melihat Alfan di paksa masuk kedalam mobil. "Sialan" Melvin memukul teralis pengaman yang ada dibalkon. Langkahnya dengan cepat menuruni anak tangga untuk mengejar pengawal ayahnya.


Mobil yang membawa sang kakak tidak berhasil di kejar. Tapi Melvin tau kemana sang kakak akan di bawa. Dia segera memacu laju mobilnya dengan cepat menuju ke hotel tempat acara pertunangan di adakan. Sampai di dalam hotel sudah banyak yang hadir dan Alfan sudah berdiri di samping sang ayah dan bundanya.

__ADS_1


"Melvin" panggil Dinka. "Kamu kemana saja, kenapa baru datang dan tidak bersamaan dengan kak Alfan?" tanya Dinka penasaran. "Ceritanya panjang" jawab Melvin. "Kak Alfan" Melvin menggelengkan kepala untuk menghentikan Alfan. Arya hanya memandang tajam pada anak kandungnya itu. Melvin sama sekali tidak peduli di pandang oleh ayahnya.


Alfan juga sudah tidak bisa menghindar lagi. Mau tidak mau dia harus bertunangan dengan Clarisa. Cincin di sematkan di jari manis Clarisa dan begitu pula sebaliknya. Clarisa juga memakaikan cincin pada jari manis Alfan. Suara riuh tepuk tangan tamu undangan meramaikan suasana.


Tiba-tiba ada sekelompok orang datang. Semua tamu yang fokus pada Alfan dan Clarisa beralih memandang kedatangan Enzi yang dikawal oleh beberapa pria berbadan besar dan sangar. Di belakang Ronald dengan percaya diri berjalan berjajar dengan Reta dan Bobby. Merasa kemenangan di depan mata bagi Ronald yang telah berhasil membawa Enzi secara utuh kehadapan Alfan dan tamu undangan. Sesuai rencana cadangan yang di rencanakan olehnya dengan Melvin.


Ronald bermain mata dengan Melvin sambil tersenyum puas. Alfan tercengang melihat kedatangan Enzi dengan perut yang sudah membesar. Di perkirakan sekitar usia 8 bulan kehamilannya. "Enzi" panggil Alfan dari atas panggung. Clarisa menengok pada lelaki yang sudah menjadi tunangannya itu.


"Enzi" Alfan menepis tangannya dan berlari memeluk Enzi. Airmatanya menetes dengan deras. "Sayang kamu baik-baik saja kan" Alfan memeluk sang pujaan hati dengan begitu erat. Wajah Arya memerah karena sangat marah. Tapi dia masih mencoba mengendalikan diri agar tidak marah di depan publik. Itu sama saja mempermalukan diri sendiri. Bagi Arya menjaga image adalah hal penting.


Clarisa marah-marah karena Alfan mengacuhkannya dan sekaligus mempermalukannya. "Aku umumkan pertunangan ini batal" Alfan berbicara dengan keras dan lantang. Cincin yang sudah melingkar manis di jarinya segera di lepas. Dia pun memegang tangan Enzi dan mengajaknya keluar. Beberapa pengawal ayahnya mencegah didepan pintu masuk. Tapi Melvin mengarahkankan agar Alfan di beri jalan. Arya hanya berdiam kaku di tempatnya berdiri. Dia tidak menyangka rencananya digagalkan oleh segerombolan anak muda yang masih bau tengik.

__ADS_1


"Bagaimana? Aku hebatkan. Cepat puji aku" ucap Ronald dengan bangganya. Kini mereka berada di depan hotel. "Heh kau ini baru segitu saja sudah merasa hebat" gerutu Melvin. "Ya iya dong. Ronald gitu lho" sahut Ronald. Dinka dan Reta tertawa melihat reaksi Ronald yang sangat percaya diri. Melvin meninju lengan Ronald tapi tidak keras. "Hai cantik puji abang dong, kan pengen nih sekali-kali di puji sama wanita secantik eneng" Ronald berkata pada Dinka. "Iya kak Ronald memang hebat" Reta yang menyahuti perkataan Ronald. "Bukan kamu, tapi dia" gerutu Ronald.


"Aku juga cantik kok kak" Reta cemberut. "Iya beb kamu memang cantik" Bobby mengelus rambut Reta. "Awas ih" Reta menangkis tangan Bobby. "Iya kak Ronald hebat" celetuk Dinka. Melvin segera menoleh pada sang istri dan memasang wajah marahnya. "Ada yang cemburu nih" imbuh Dinka. Seketika tawa memecah keheningan malam. "Bibir kamu kenapa tuh?" tanya Melvin menunjuk kearah Bobby. "Ini kena bogeman sewaktu menyelamatkan Enzi" jawab Bobby. Melvin beralih memandang Ronald meminta penjelasan. "Iya aku sengaja mengajak Bobby ke singapura biar ada teman yang ikutan bonyok juga" ucap Ronald cengengesan.


"Lagian kalau bukan berkat bantuan dari Bobby mana mungkin aku berhasil dalam misi menyelamatkan Enzi. Bobby kan punya pengawal jadi ku manfaatkan dong. Aku juga bisa menghemat uang dari mu untuk menyewa preman bayaran itu" lanjut Ronald menjelaskan. Karena merasa geram Melvin mencubit perut temannya itu. "Apa salahku kenapa kamu mencubitku" Ronald mendekat pada Dinka. "Neng suami kamu nakal banget main cubit sembarangan" Ronald mengadu pada Dinka dengan suara manja.


"Iya kamu tenang ya abang nanti suami ku biar aku cubit balik" Dinka menanggapi ucapan Ronald. "Kok kamu malah belain dia sih" keluh Melvin dengan nada yang tidak kalah manjanya. Reta dan Bobby tertawa dengan tingkah konyol antara Melvin dengan Ronald. Dinka menguap karena mengantuk. "Ayo pulang sayang, aku dah ngantuk nih" ucap Dinka.


Mereka pun pulang kerumah masing-masing. Namun berbeda dengan Alfan yang membawa Enzi entah kemana. Semua tamu juga sudah membubarkan diri. Begitu pula Arya dan sang istri juga telah pulang kerumah lebih dulu.


Kebahagiaan kini berpihak pada Enzi dan Alfan. Berbeda dengan Clarisa dan keluarganya yang merasa telah di permalukan oleh keluarga Tama. Mungkin Clarisa akan membalas dendam semua perbuatan Alfan padanya itu.

__ADS_1


__ADS_2