
Alfan berjalan menuruni anak tangga. Tubuhnya sudah memakai baju yang rapih dan bersiap untuk bergantian jaga dengan ayah angkatnya. "Kalian semua sudah siap?" tanya Alfan. Matanya melihat koper yang sudah berjajar rapih. "Maaf ya kakak gak bisa antar kalian ke airport. Kakak harus segera kerumah sakit" sambung Alfan.
"Sebelum ke bandara aku boleh ikut ke rumah sakit kak?" tanya Reta. "Iya kita mau lihat kondisi bunda dulu sebelum pulang" timpal Melvin. Alfan melihat arloji yang membulat ditangannya. "Waktunya tidak mencukupi untuk pergi kerumah sakit, sebaiknya kalian langsung saja ke bandara" saran Alfan.
Melvin juga melihat ke arah arloji mewahnya. "Ya sudah salam buat ayah sama paman Jay ya kak" sahut Melvin. Dinka segera menggandeng lengan suami tercintanya. "Ayo kita berangkat sekarang" ajak Dinka.
"Kakak salam ya buat ayah sama paman Jay juga" sahut Dinka sambil mengedipkan mata. Mata tajam Melvin melirik Alfan. "Mungkin Dinka lagi pengen main kedip-kedip mata ya" gurauan dari Alfan membuat Melvin sedikit cemburu. "Sayang kenapa sama mata kamu" Melvin beralih pada Dinka.
Reta dan Bobby sudah berjalan keluar rumah dan menaikan koper kedalam mobil. Bobby merasa aneh dengan koper milik Reta karena lebih berat dari kemarin. "Tomboi ku sayang koper mu kok jadi berat gini ya?" tanya Bobby. "Loe aja yang gak kuat angkatnya kali" sahut Reta.
"Kak Melvin ayo buruan" teriak Reta dari halaman rumah. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju ke bandara. Sepanjang jalan Dinka hanya menatap keluar jendela kaca. Melvin mengelus tangan sang istri yang lembut.
"Sayang apa kamu gak enak badan?" tanya Melvin lembut. Dinka menggelengkan kepalanya. Dia merasa bersalah pada sang suami sudah menyembunyikan sesuatu. Membuatnya berpikir sedari tadi.
__ADS_1
"Badan kamu sedikit panas, apa kamu demam?" tanya Melvin memastikan. Sambil tersenyum Dinka menjawab "engga kok sayang tenang aja". Dinka meletakkan kepalanya di bahu Melvin sebagai sandaran. Matanya terpejam tidak mau memikirkan rasa bersalahnya. Waktu pasti cepat berlalu dan ibunda mertuanya pasti bisa sembuh. Itu yang ada dibenak Dinka.
Melvin meletakkan tangannya di kening sang istri. Dan menyamakannya di keningnya sendiri. 'Badannya sedikit demam atau memang tubuh Dinka yang cenderung lebih hangat dariku' gumam Melvin dalam hati. Sekilas matanya melirik pada Dinka. Terlihat wajah cantik istrinya yang sedang menutup mata. Melvin pun terpejam sambil menyandar pada kursi mobil.
Perjalanan yang ditempuh menggunakan pesawat akhirnya berakhir di bandara tanah air. Melvin mendorong troli berisi koper di ekori oleh Bobby dan Reta. Langkah kaki Dinka sudah lebih dulu berjalan didepan. Biarpun sedang hamil Dinka ini terbilang aktif.
Satu persatu koper dimasukan dalam bagasi mobil. Sudah ada sopir yang menjemput mereka termasuk pak Mimin. "Selamat pagi menjelang siang tuan muda dan nona" sapa pak Mimin.
Dinka tersenyum seraya berkata "ini masih terbilang pagi kok pak". Melvin membukakan pintu mobil untuk sang istri. "Kak Melvin aku mau pergi sama Bobby ya jadi gak pulang dulu" timpal Reta. Bobby yang sudah bersiap untuk kembali tidur di mobil pun kaget mendengar ucapan kekasih tomboinya.
"Capek kali pak habis dari singapura langsung diajak pergi. Apalagi disana aku belum sempat bobo nyenyak" keluh Bobby. Reta masih terlihat berbincang dengan Melvin. "Bukannya hari ini kalau tidak salah ulang tahun nona tomboi ya tuan?" tanya pak sopir memastikan. Bobby mengerutkan keningnya menatap si sopir. Dia mengambil ponsel di saku celananya untuk melihat kalender.
"******" tangan kanan Bobby menepuk jidatnya sendiri. Dia lupa hari ini merupakan hari ulang tahunnya Reta. Bahkan dia belum menyiapkan kado ataupun kejutan apapun untuk Reta.
__ADS_1
"Ciye mau kencan" goda Dinka pada Reta. "Engga kok siapa juga yang mau kencan" sahut Reta tersipu malu. "Pulangnya jangan terlalu malam kalau bisa sore udah harus dirumah" ujar Melvin. Reta mengangguk sambil berjalan menuju mobil yang akan dinaikinya.
"Pak Mimin persiapan kejutan ulang tahunnya Reta apa sudah siap?" tanya Melvin. "Sudah tuan, semua sudah di siapkan oleh istri saya" jawab pak Mimin. Saking banyak pikirannya Dinka lupa bahwa itu hari ulang tahun sahabat yang kini sudah jadi adik iparnya. "Astaga aku sampai lupa kalau Reta ulang tahun" Dinka menatap suaminya. "Memangnya apa yang membuat kamu jadi lupa?" Melvin ikut menatap Dinka.
Dinka jadi gelagapan bingung menjawab pertanyaan yang dilontarkan suaminya. "Itu hanya...anu...emmm engga kok, bukan apa-apa" jawab Dinka. Telapak tangan Melvin mengelus lembut rambut sang istri. "Kamu jangan terlalu banyak berpikir yang tidak penting, itu gak baik buat kandungan kamu" ucap Melvin lembut. Dinka hanya meringis sembari menganggukan kepalanya.
Sampai dirumah Melvin membuka laptopnya untuk mengecek e-mail. Banyak pesan pekerjaan yang masuk dikotak inbox. Ada juga berkas dan dokumen yang menumpuk di meja kerjanya. "Baru di tinggal belum genap dua hari pekerjaan kantor sudah numpuk begini" keluhnya. Kali ini memang dia yang harus bekerja extra. Apalagi sang ayah hanya fokus pada pengobatan bundanya.
"Sayang kenapa langsung keruang kerja bukannya istirahat dulu atau tidur dikamar" Dinka berbicara dari balik pintu. Hanya kepalanya sedikit masuk mengintip kedalam ruang kerja. Melvin berjalan mendekati Dinka. Tangannya mendekap tubuh sang istri dan mencium bibir Dinka sekilas.
"Aku harus kerjakan beberapa dokumen kalo engga bisa numpuk, kamu tau sendiri kak Alfan dan ayah lagi pergikan. Jadi otomatis pekerjaan kantor semua aku yang handle" jelas Melvin. "Untuk pembukaan perusahaan cabang baru juga harus selesai segera mungkin. Kalau engga ayah bisa marah" imbuh Melvin. Tangannya mengelus perut buncit sang istri.
"Dan ini juga untuk masa depan si kecil kan" Melvin tersenyum mengakhiri ucapannya. "Yaudah aku buatin kopi sama bawain beberapa cemilan ya buat kamu" sahut Dinka antusias. "Kamu suruh pelayan saja, aku gak mau kamu capek sayang" kedua tangan Melvin memegang pipi chuby Dinka.
__ADS_1
"Aku gak terlalu capek kok, oiya untuk persiapan surprise buat Reta semua sudah siap jadi mau gimana nih ngerjain Retanya?" tanya Dinka. "Ya pasti buat dia marah-marah dulu dong baru buat dia terharu" Melvin tersenyum.
"Okeh kalau gitu aku buatin kamu kopi dulu ya" Dinka tersenyum dan pergi menuju dapur.