
Dinka merasa aneh dengan kelakuan suaminya. Pasti ada yang di sembunyikan oleh Melvin. Tapi dia tidak berani bertanya lagi. Takut menyinggung perasaan Melvin.
Bi Nah mengetuk pintu kamar Dinka. "Ada apa bi?" Dinka membuka pintu kamarnya. "Ada tuan Armand yang mencari nona di bawah" ucap bi Nah. Dinka berjalan turun kebawah dan menemui ayahnya.
"Bapak ada apa?" tanya Dinka sembari mendudukan pantatnya ke sofa. Armand langsung pada inti maksud dari kedatangannya. "Kamu pindah dari sini ya, tinggal bersama bapak" pinta Armand.
Dinka merasa semakin aneh. Pasti ini ada hubungannya dengan masalah yang di bahas oleh Melvin dan Alfan. "Ada apa pak?" tanya Dinka penasaran.
"Pokoknya mulai sekarang kamu harus tinggal bersama bapak" Armand berucap dengan tegas. "Cepat kamu bereskan baju-baju kamu" sambung Armand sambil mengajak Dinka pergi. Pak Mimin melihat Armand memaksa Dinka untuk pergi. Dia segera melaporkan hal itu pada Melvin.
Melvin berada di ruang kerjanya di rumah. Dia sibuk dengan pekerjaannya di bantu oleh sang kakak. Pak Mimin datang dan mengetuk pintu. "Tuan muda boleh saya masuk?" tanya pak Mimin. "Ada apa pak?" tanya Alfan.
"Begini tuan di bawah ada tuan Armand dan saya lihat sepertinya ingin membawa nona pergi" ucapan dari pak Mimin berhasil membuat Melvin panik seketika.
"Apa" Melvin bergegas keluar untuk mencegah Dinka dan Armand. Langkah kakinya berlari menuruni anak tangga yang lumayan banyak. Karena ruang kerjanya berada di lantai tiga. Sedangkan ruang tamu ada di lantai satu. Usahanya sia-sia sang istri sudah di bawa oleh Armand. "Bi mana Dinka?" tanya Melvin tidak sabaran. "Itu baru saja keluar tuan" jawab bi Nah.
"Dinka tunggu, Dinka" Melvin mengejar Dinka yang akan masuk kedalam mobil. Dinka dipaksa masuk oleh ayahnya. "Melvin" panggil Dinka sambil menangis. "Cepat masuk" bentak Armand. Itu baru pertama kalinya Dinka di bentak oleh sang ayah. Dinka hanya menuruti sang ayah dan masuk kedalam mobil. Dirinya sama sekali tidak tau masalah apa yang terjadi. Mobil melaju dengan cepat menuju ke gerbang utama.
__ADS_1
"Sayang tunggu" Melvin mengejar istrinya sampai pertengahan jalan ke arah gerbang utama. "Melvin" Dinka membuka jendela kaca mobil. "Pak berhenti" perintah Dinka pada sopir sang ayah. "Jalan terus jangan berhenti" sahut Armand. Sang sopir menjadi bingung, dan hanya menuruti ucapan majikannya.
"Bapak kenapa begini pada ku dan Melvin, dia salah apa sama bapak" Dinka berbalik memarahi sang ayah. "Kamu harus berpisah dengannya setelah kamu melahirkan" ucapan dari Armand terdengar seperti petir di siang bolong. "Apa maksud bapak?" tanya Dinka penasaran. Airmatanya mengalir deras mendengar perkataan ayahnya itu.
"Dia sudah berselingkuh di belakang mu. Kamu masih tidak tau apa yang sudah dia lakukan selama ini" ungkap Armand. Ekspresi wajah Dinka tidak terkejut membuat Armand mengernyit.
"Jadi kamu sudah tau tentang kelakuan suami kamu selama ini diluar" lanjut Armand. Dinka hanya diam sambil menatap ayahnya. Tangannya mengusap airmata yang jatuh di pipi. "Jadi ini yang membuat bapak bersikeras untuk memisahkan ku dengan Melvin" sahut Dinka.
Armand memandang ke depan dan tidak menggubris anak sulungnya. "Ini masalah rumah tanggaku dengan Melvin, bapak tidak berhak ikut campur" keluh Dinka.
"Bapak sudah tega meninggalkan aku dengan ibu dan lebih memilih menikahi janda kaya raya itu kan" lanjut Dinka. Hampir saja tangan Armand menampar wajah mulus sang anak. Namun tidak jadi. Armand menghela nafasnya begitu dalam.
"Kamu salah paham pada bapak, setelah sampai rumah akan bapak ceritakan semua yang terjadi kenapa bapak dulu meninggalkan kamu dan ibumu" Armand menyandarkan tubuhnya di jok mobil sembari menarik nafas dalam-dalam. Dinka menatap sang ayah dengan intens.
Setelah sampai di kediaman ayah kandungnya. Dinka tidak langsung turun dari mobil. "Ayo nak turun" ajak Armand.
Bobby dan Reta sedang menikmati waktu berduaan di balkon depan rumah. "Lho itu bukannya kakak ipar" Reta menunjuk kearah Dinka. "Iya" Bobby ikut menatap ke arah yang di tunjuk Reta. "Ada perlu apa kakak ipar mu datang malam-malam begini?" tanya Bobby. Reta menggelengkan kepalanya. "Mana aku tau beb" jawab Reta dengan cepat.
__ADS_1
Dinka pun akhirnya keluar dari mobil setelah di yakinkan oleh sang ayah. Dia pun meminta penjelasan yang telah ayanhnya ucapkan tadi.
"Dulu bapak di jodohkan dengan ibumu, sebenarnya bapak tidak cinta dengan ibumu tapi ibumu yang mencintai bapak" ucap Armand memulai pembicaraan. Dinka duduk dengan manis mendengarkan ayahnya.
"Bapak takut mengecewakan kedua orangtua bapak jadi bapak menyetujui permintaan mereka. Karena juga mereka berhutang pada keluarganya ibumu. Harga diri bapak sudah di tukar dengan uang untuk melunasi hutang. Bapak sangat malu waktu itu" jelas Armand panjang lebar.
"Dulu keluarga bapak sangat miskin, dan saat bapak sudah menikah dengan ibumu bapak setiap hari di cela oleh orangtua ibumu" Armand menundukan kepalanya karena menangis. Sebenarnya dia malu menangis di depan si sulung. Tapi penderitaannya dulu sangat menyakitkan.
"Setiap kali bapak pulang kerja selalu di marahi oleh kedua orang tua ibumu, bapak tidak pernah dihargai disana. Ibu mu sebenarnya orang yang baik. Dia tidak pantas untuk bapak" kata-kata Armand terdengar menyayat hati bagi Dinka. Dia sama sekali tidak tau menahu tentang kehidupan ayahnya yang dulu sebelum dia lahir. Airmata pun ikut mengalir di pipi mulusnya.
"Sampai pada suatu hari, bapak mendengar tentang kehamilan ibumu, yaitu pada saat ibumu mengandung kamu. Bapak sangat senang dan bersyukur. Bapak berpikir bapak harus tabah dan sabar menghadapi mertua bapak demi kamu. Niat hati bapak ingin meninggalkan ibumu karena bapak sudah tidak tahan. Bapak bersabar dengan cemoohan setiap hari yang di lontarkan oleh kakek dan nenekmu" Armand menjelaskan sembari menangis. Dinka mendekati sang ayah dan mencium tangannya. "Maafin Dinka pa" sahut Dinka. Armand mengelus rambut anak perempuannya itu dengan perlahan dan lembut.
"Bapak benar-benar tidak kuat lagi menahan semuanya. Jadi bapak tidak berpikir panjang dan akhirnya pergi meninggalkan kalian tanpa sepatah katapun. Bapak tidak mau membuat ibumu bertengkar dengan orangtuanya jadi bapak tidak mengatakan apapun padanya. Cukup saja mengubur semua ini menjadi kenangan" Armand menghela nafasnya dengan dalam. Dinka menyesali ucapannya sewaktu di mobil yang telah menuduh sang ayah berselingkuh.
"Maafin Dinka ya pa, Dinka gak tau kalau bapak menanggung begitu banyak beban waktu dulu" ungkap Dinka. Armand tersenyum lembut pada Dinka dan memegang pipinya. "Kamu tidak bersalah sayang, kamu sudah mau menerima bapak juga bapak sudah sangat senang" ungkap Armand.
"Bapak beruntung bisa bertemu dengan orang sebaik tante Betty dan kami akhirnya saling jatuh cinta. Waktu bapak menikah dengan tante Betty usia Bobby baru lima tahun" Armand menjelaskan semuanya pada sang anak. Agar Dinka tau yang sejelas-jelasnya.
__ADS_1