Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
Kesalahan kecil berakibat besar


__ADS_3

Melvin keluar dari kamar karena mendengar suara dari lantai bawah. Dia memergoki istrinya sedang melamun. Dinka terduduk dilantai kedua kakinya masuk diselah-selah tiang tangga. Tingkah istrinya itu memang terkadang terlihat konyol.


"Ngapain" ucapan Melvin membuat Dinka kaget. Suara berat suaminya membuat kepalanya kepentok pegangan pada tiang tangga.


Dinka berdiri dan mengelus kepalanya yang sakit akibat terbentur. Tatapan mata Melvin terlihat dalam pada istrinya. Dinka hanya meringis merasakan sakit di kepala. Melvin menuruni anak tangga.


"Nah itu Melvin" ucap bunda Sarah. Serin sedari tadi menunggu Melvin keluar dari kamarnya. Melvin mendudukan bokongnya di sebelah sang ayah.


"Apa kabar vin?" tanya Serin tersenyum. Sebenarnya Serin sangat ingin memeluk Melvin. Untuk menghilangkan rasa rindu padanya. Namun dihadapannya masih ada kedua orangtua Melvin.


"Baik" jawab Melvin singkat. "Lho mana istri mu tidak disuruh kebawah sekalian?" tanya Sarah.


"Sibuk bun lagi ngerjain tugas" jawab Melvin. Arya memanggil pak Mimin untuk menyuruh Dinka ikut bergabung dengan mereka.


Kebetulan Reta datang kerumah utama. Dia akan mengerjakan tugas bersama kaka iparnya. "Pantesan rame" ucap Reta.


Seketika orang yang ada diruang keluarga menoleh kearah suara Reta. "Lagi pada ngumpul nih" sahut Reta. Sarah tersenyum menghampiri anak tomboynya. "Sayang kamu juga datang kesini" ujar Sarah.


Reta menyalami tangan bundanya kemudian menyalami tangan ayahnya. "Iya Reta mau ngerjain tugas sama Dinka bun" jawabnya.


"Kamu masih ingatkan dengan Serin" ucap Sarah. Reta mengangguk dan berkata "masih dong bun siapa sih yang bisa lupa sama dia". Reta melembutkan suaranya berniat untuk menghina Serin. Namun sepertinya Serin tidak merasa demikian. Reta ini memang benci pada Serin.


Dinka turun dari kamarnya. Langkah kakinya berjalan menuju ruang keluarga. Sebenarnya dia merasa canggung bertemu dengan si Serin ini.

__ADS_1


"Hai kaka ipar" sapa Reta. Dia mendekat pada Dinka. Serin menoleh melihat kearah Dinka.


Wanita yang mungil dengan kecantikan alami. Itu kesan pertama yang di lihat Serin pada Dinka. Begitu polos ternyata istri dari Melvin.


"Dinka sini" bujuk Sarah. Dinka tersenyum dan menghampiri sang mertua. "Kenalin ini Serin calon istrinya Alfan yang nanti juga akan menjadi kaka ipar kamu" imbuh Sarah.


Serin mengangkat tangannya menjabat tangan Dinka. "Salam kenal ya" suara lembut keluar dari mulut Serin. 'Wah suara nya saja se lembut itu' batin Dinka.


"Salam kenal juga" sahut Dinka tersenyum. Serin juga memperlihatkan barisan gigi putihnya. Terlihat begitu cantik dan anggun dimata Dinka.


Reta mengajak Dinka naik kelantai atas. Kini mereka mengerjakan tugas dibalkon kamar Melvin dan Dinka. Wajah Dinka terlihat kusut. Seperti baju yang sudah lama tidak disetrika.


"Woy" ucap Reta dengan suara tinggi. Dinka menatap wanita yang membuatnya kaget. "Apaan sih" gerutu Dinka. "Kenapa muka loe kusut gitu?" tanya Reta.


Arya geleng-geleng kepala mendengar teriakan Reta. Sarah mendesah mendengar teriakan anak gadisnya. "Sudah buat ulah lagi dia, besok kamu saja yang kekampusnya adik mu itu" suruh Arya pada Melvin.


"Melvin juga harus kekampus sebagai wali Dinka yah" ujar Melvin. Arya menengok kesebelahnya. "Dinka....astaga Reta sudah membawa dampak buruk bagi Dinka" gerutu Arya.


"Nanti biar bunda yang menasehati Reta yah" ucap Sarah. Alfan menawarkan diri untuk kekampus Reta.


Puas berbincang ria Alfan mengantar Serin ke rumahnya. Melvin masuk kedalam kamar. Mendapati Dinka dan Reta belum selesai mengerjakan tugas.


"Mau dilembur sampai jam berapa?" tanya Melvin. Wajahnya terlihat begitu dingin. "Udah selesai kok kak ini juga Reta mau balik ke asrama" ucap Reta cengengesan. "Minta diantar sama pak sopir jangan pulang sendiri" nasehat Melvin.

__ADS_1


"Baik kakak ku yang tampan" sahut Reta tersenyum. Dinka sudah menangkap tatapan mata suaminya yang tajam. Kali ini dirinya pasti tidak bisa tertidur dengan nyenyak.


Dinka menelan ludahnya. Kerongkongannya tiba-tiba merasa kering. Dinka mengemasi buku dan laptopnya.


Dia berjalan melewati Melvin yang masih berdiri disebelah ranjang. Tangan kekar Melvin mencengkeram kuat pinggang Dinka.


Dinka menoleh menatap suaminya. Wajahnya terlihat sedikit takut pada Melvin. "Kenapa terlihat ketakutan" ujar Melvin. Dinka tersenyum kecut merespon suaminya.


Melvin mengambil buku dan laptop yang dipegang sang istri. Meletakkannya diatas meja. Dirinya mulai membuka jubah baju tidur nya. Dinka menunduk tangannya bergetar.


Itu bukan yang pertama atau kedua kali baginya. Namun ada rasa trauma karena suaminya melakukan dengan kasar bukan dengan cara yang halus. Tangan Melvin mencengkeram dagu Dinka dan menaikannya agar memandang kearahnya.


Kaki Dinka berjinjit untuk menyesuaikan tinggi badan suaminya. Tetap saja tingginya dan tinggi suaminya jauh berbeda walaupun dia sudah berjinjit. Setidaknya itu bisa mengurangi rasa sakit akibat cengkraman dari si raja es. Yang entah kapan bongkahan es itu akan mencair.


"Kau sudah berani berbuat kesalahan ya di kampus" suara Melvin terdengar lirih namun sangat keras bagi Dinka. Cengkeraman didagunya bertambah kuat. Dinka merintih kesakitan.


Melvin mencium bibir istrinya secara tiba-tiba. Ciuman yang dipaksakan dan menuntut itu sangat menyakitkan bagi Dinka.


Melvin merebahkan tubuh Dinka ke ranjang. Dorongannya membuat Dinka terkejut. Melvin mulai menjamah tubuh istrinya. Intim tubuh Dinka belum siap dimasuki milik Melvin. Dinka merintih merasakan sakit di area bawah tubuhnya. Namun Melvin tetap memaksakannya untuk masuk.


Setelah tubuhnya lelah dia tertidur. Keringat bercucuran membasahi badan keduanya. Dinka menangis sambil menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara.


Hanya sekali saja Melvin melakukan itu dengan lembut padanya. Dan malam ini kembali lagi kasar padanya.

__ADS_1


__ADS_2