
Untuk sementara ini Alfan bersembunyi bersama Enzi. Karena Enzi ketakutan selalu mengajak pulang. Baru pertama kalinya dia seperti itu. Hidup harus bersembunyi bagaikan buronan. Bagi Alfan dia sudah biasa merasakan karena disaat Melvin kabur dari sang ayah pun dia pernah ikut. Resiko punya orangtua yang galak dan sadis membuatnya bisa menjadi kuat dari segi apapun. Ya walaupun Arya bukan ayah kandungnya. Tapi dia diperlakukan seperti itu sudah seperti anak kandungnya sendiri.
Biasanya Alfan selalu menuruti perintah sang ayah. Tapi kali ini dia lebih memperjuangkan cintanya dari pada harus menuruti permintaan ayah angkatnya itu. "Kita pulang aja ya aku takut" Enzi menangis tersedu-sedu. Alfan selalu menenangkan Enzi agar tidak tertekan. "Tenang ya kita bakal aman kok disini" sahut Alfan. Dia memeluk Enzi dengan erat.
Suara ketukan pintu kembali terdengar. Itu membuat Enzi bergetar dan matanya membulat. "Pak Alfan itu siapa?" tanya Enzi yang kembali mulai takut. "Tenang ya kamu tenang dulu" Alfan mengelus rambut Enzi.
Dengan perlahan Alfan berjalan kearah pintu. Tangannya ragu untuk membuka. Karena mana mungkin Melvin yang datang malam-malam begini. Yang tau tempat persembunyian itu hanya mereka berdua. Suara ketukan pintu terdengar lagi namun pelan.
Alfan memberanikan diri membukanya tapi perlahan. Nampak sosok tubuh seorang pria. "Bobby" panggil Alfan. Tangannya memegangi dada karena merasa lega. "Kak Alfan aku bawakan makanan" ucap Bobby sambil menunjukan kantong plastik besar. Bobby memang membawakan bahan persediaan makanan untuk Alfan dan Enzi.
Karena tak memungkinkan bagi Alfan keluar dari tempat persembunyian itu. Bisa gawat kalau sampai tertangkap anak buah Arya. "Ayo masuk" ajak Alfan. Bobby masuk kedalam rumah yang terlihat biasa dari depan namun cukup mewah didalam.
"Darimana kamu tau tempat ini?" tanya Alfan. "Kaka ipar yang memberitahu sekaligus menyuruhku untuk kesini" Bobby meletakkan kantong plastik di meja makan. Enzi terduduk sambil menekuk kakinya dan tangannya digunakan sebagai tumpuan kepala. Wajahnya terlihat ketakutan.
"Kak Alfan" Bobby memanggil Alfan sembari menunjuk Enzi dengan dagunya. Bobby ingin tau kenapa Enzi terlihat seperti itu. Alfan mengajak Bobby ke ruang tamu. "Dia ketakutan" jawab Alfan lirih.
__ADS_1
Melihat raut wajah Enzi seperti itu membuat Bobby jadi sedikit iba. "Kak Alfan..kata Reta..tante Sarah pingsan setelah melihat keadaan kak Melvin" ucap Bobby dengan perlahan. "Apa bunda pingsan" Alfan yang tadinya duduk langsung berdiri.
Tangannya segera meraba tubuh mencari ponselnya. "Oiya ponsel ku hilang entah kemana" gumam Alfan lirih. "Keadaan tante Sarah baik-baik saja kok kak mungkin hanya pingsan" Bobby mencoba menenangkan Alfan agar tidak panik.
Enzi berjalan kedepan dan duduk disebelah Alfan. "Aku takut" ucap Enzi lirih sembari memegangi tangan Alfan.
"Kita udah aman kok disini" Alfan mengajak Enzi kedalam kamar untuk beristirahat. Karena Enzi pasti merasa lelah. "Bob sebentar ya aku tinggal dulu" ucap Alfan. Bobby tersenyum dan mengangguk. Dia pun membuat minuman sendiri karena merasa haus.
Setelah Enzi tertidur Alfan kembali ke ruang tamu untuk berbicara dengan Bobby. "Lalu bagaimanakah sekarang keadaan bunda? kamu sudah dapat kabar lagi dari Reta?" tanya Alfan dengan cepat karena khawatir. "Sepertinya tante Sarah sudah siuman tadi aku dapat sms dari Reta begitu" jawab Bobby.
Bobby menggeser secangkir teh ke sisi meja didepan Alfan. "Minum dulu kak supaya lebih tenang" ucap Bobby. "Makasih ya" ujar Alfan.
"Hufftt ada-ada saja ya kak masalah didunia ini" keluh Bobby. Alfan meminum teh yang disajikan oleh Bobby. "Kamu ada masalah sama Reta?" tanya Alfan. Bobby menggelengkan kepala. Badannya disandarkan ke sofa. Kedua tangannya dilipat digunakan sebagai bantalan kepala.
"Kak Alfan belum tau kalau papah tiri ku itu ayah kandung Dinka?" tanya Bobby. "Sudah" Alfan kembali meminum tehnya. "Karena itu Dinka kayanya menghindariku, sewaktu aku pergi kerumahnya untuk menemui Reta malah dia gak mau ketemu" keluh Bobby.
__ADS_1
Kini giliran Bobby mencurahkan isi hatinya yang gundah. "Reta juga ikut-ikutan lagi kalo lagi barengan sama Dinka dia gak mau ketemu sama aku" ungkap Bobby. Melihat ekspresi wajah Bobby yang lucu membuat Alfan tersenyum.
Wajah Bobby ini ketika curhat bukannya terlihat sedih malah raut wajahnya terlihat lucu. Apalagi cara bicaranya yang membuat wajahnya bertambah lucu. "Kamu ini sedang curhat padaku" timpal Alfan. Bobby langsung menengok kearah Alfan. "Kak Alfan gak tau sih di cueki oleh dua wanita cantik gimana rasanya" gerutu Bobby.
"Yaelah Bob cuma dicuekin cewek tinggal dirayu doang apa susahnya" ejek Alfan. "Wah wah mulut kak Alfan ini sama aja kaya kak Melvin dan Reta" Bobby geleng-geleng kepala.
Alfan melihat jam tangannya karena malam semakin larut dia menyuruh Bobby pulang. "Kamu gak dicariin mamah mu kalau pergi sampai selarut ini?" tanya Alfan berniat meledek. "Ngejek amat kak" gerutu Bobby sambil melirik Alfan. Alfan tertawa kecil sudah berhasil membuat Bobby kesal.
"Sanah pulang nanti dicariin mamah, kata Reta kamukan anak mamah. Dipukul sedikit sama Reta langsung ka'o" ledek Alfan. Bobby pun berdiri dan berjalan keluar dari ruang tamu. "Ya sudah kalau ada apa-apa kak Alfan hubungi aku ya" ucap Bobby.
Alfan menghela nafasnya kasar. "Mau nelpon pake apa? Ponsel ku kan hilang" keluh Alfan. Bobby cengengesan sambil memandangi Alfan. Dia mengambil ponselnya dan diletakkan di meja. "Untuk sementara pake punyaku deh, sebagai calon adik ipar yang baik aku rela gak kontekan sama Reta demi membantu kak Alfan" sahut Bobby dengan antusias.
"Ponselmu nanti dilacak lagi sama ayah" ungkap Alfan. "Gak tenang aja kak" Bobby berkata sambil menggerakan tangannya. "Aku pamit ya kak" ujar Bobby. Alfan ikut mengantar Bobby sampai ujung depan rumah. Dia kembali kedalam rumah tempat persembunyian.
Matanya pilu melihat Enzi yang terlelap. Karena dia Enzi jadi ketakutan. Alfan mengelus rambut Enzi. Dan dia merebahkan tubuhnya di sofa kamar. Alfan belum mau tidur bersama Enzi walaupun dia sudah pernah menyentuhnya dua kali. Alfan masih menghormati Enzi disaat seperti ini.
__ADS_1