
Bisa dikatakan Dinka sudah mulai terbiasa atas perlakuan kasar suaminya. Ya memang mau tidak mau siap tidak siap harus menjalani hidupnya yang penuh lika-liku. Dinka menghela nafas beratnya. 'Aku harus semangat' batinnya.
Dinka pergi menemui Reta di sebuah cafe. Langkah kakinya masuk kesebuah cafe yang tidak jauh dari kantor sang suami. "Kaka ipar sebelah sini" Reta melambaikan tangan.
Dinka mendekat kearah meja Reta. Dia tercengang melihat banyak makanan yang sudah tersaji di meja. "Apa ini?" tanya Dinka. "Duduk dulu" bujuk Reta.
Dinka bertanya melalui pandangan matanya pada Reta. "Ini semua buat loe makan" Reta menjawabnya dengan tersenyum. Dia memberikan sendok dan garpu pada Dinka.
"Aku sudah makan dirumah ta" ungkap Dinka. "Udah makan aja" suruh Reta. Dinka memakan sedikit demi sedikit makanan yang tersaji namun tidak menghabiskannya.
Reta sangat senang melihat Dinka makan banyak. "Nih gue udah catetin materi kuliah siang ini" Reta memberikan buku catatan pada Dinka.
"Makasih" ucap Dinka dengan mulut penuh dengan makanan. "Kunyah dulu baru ngomong" celetuk Reta. Dia mengusap sisa makanan di bibir Dinka.
"Habis ini temenin aku pergi ke toko buku ya ada yang mau aku beli" pinta Dinka. "Males ah kalo ketoko buku" gerutu Reta. "Ya sudah aku beli sendiri aja" sahut Dinka cemberut. "Baiklah gue temenin tapi bentaran aja ya" ujar Reta. Dinka mengangguk dengan cepat.
Mereka sampai di sebuah toko buku. Reta langsung naik ke lantai atas untuk mencari buku komik. Kesukaannya buku komik bergenre action dan horor.
Dinka melihat-lihat buku fiksi. Matanya melihat-lihat ke rak buku. Dia ingin mengambil buku di bagian teratas rak. Namun tidak terjangkau oleh tangannya. Salah seorang pemuda menghampiri dan mengambilkan buku untuk Dinka.
Pemuda itu tersenyum melihat Dinka yang kesusahan sambil memberikan bukunya. "Apakah buku ini yang mau diambil?" tanya si pemuda.
__ADS_1
Dinka hanya mengangguk seraya berkata "Terimakasih". Dinka menuju ke rak lainnya. Pemuda itu masih terlihat memandanginya sekilas.
"Ngelihatin apaan sih?" tanya Reta. Dinka terkejut melihat Reta yang tiba-tiba didepannya. "Astaga kamu selalu saja bikin aku kaget" Dinka mengusap dadanya.
"Sudah dapatkan ayo pulang" ajak Reta menarik tangan Dinka. Mereka membayar buku di kasir. Dibelakang Dinka ternyata ada pemuda yang menolongnya tadi. Pemuda itu tersenyum pada Dinka. Namun Dinka hanya menatapnya.
+++
Malam hari udara begitu dingin karena turun hujan. Dinka mengajak si kembar bermain permainan ludoking. Mereka asik memainkan sampai kepulangan sang suami tidak diketahui Dinka.
Dinka tertawa begitu lepasnya setelah sekian lama. Melihat wajah Alini penuh dengan bedak tabur akibat ulah darinya dan Arini. "Sudah ya non wajah ku penuh dengan bedak begini" keluh Alini. "Tidak jangan pokoknya masih harus lanjut bermain" sahut Arini.
"Tuh adikmu saja masih mengajak untuk bermain" ujar Dinka. Bi Nah menghampiri mereka yang berada di balkon belakang rumah. "Non dipanggil tuan Melvin" ucapnya.
Dinka berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah kamar. Melvin sedang asik berendam air hangat dalam bathup. Dinka mengetok pintu kamar mandi.
"Masuklah" ucap Melvin. Dinka menundukan pandangannya pada Melvin. Karena suaminya sedang dalam keadaan tidak memakai sehelai benangpun. "Mendekatlah" ujar Melvin.
Dinka perlahan mendekati Melvin. "Pijat badanku" Melvin memandang istrinya. Dinka manggut-manggut. Dia mulai memijitin badan suaminya.
"Agak kuat sedikit dong keluarkan tenaga mu" suruh Melvin. Dinka mendengus sebal. Tapi Melvin merasakannya. "Kenapa?" Melvin menengok kebelakang. "Tidak ada apa-apa" ujar Dinka.
__ADS_1
Terdengar suara pintu diketok dari luar. Dinka membuka pintu kamarnya. "Ada apa bi?" tanya Dinka. "Itu non si nyonya pingsan lagi dan tuan akan membawanya ke rumah sakit" ungkap bi Nah.
Dinka memberitahukan pada Melvin dan bergegas turun kebawah. Dia lebih dulu ikut naik mobil bersama Alfan dan Arya. Alfan melajukan mobilnya dengan cepat.
Arya mencoba membangunkan istrinya dikursi belakang. "Cepat sedikit fan bunda mimisan" ucap Arya yang panik.
Alfan menambah kecepatan laju mobilnya. Mereka sampai di rumah sakit biasa tempat Sarah dirawat. Dinka mondar mandir didekat pintu UGD. Melvin akhirnya sampai juga di rumah sakit.
"Bagaimana keadaan bunda?" tanya Melvin pada Alfan. "Masih diperiksa dokter" jawab Alfan. Dokter yang menangani Sarah keluar memberitahukan pada Arya.
"Kali ini jantungnya yang bermasalah akibat penyumbatan yang terjadi waktu itu" jelas sang dokter. Arya tercengang mendengar penjelasan dokter.
"Saya sudah menghubungi pihak rumah sakit di Singapura alangkah lebih baiknya pasien dibawa berobat kesana, karena ini sudah benar-benar parah" sambung dokter.
"Saya sudah melakukan cek darah untuk mengetahui penyebab mimisan pada pasien. Silahkan ikut saya untuk melihatnya" dokter berkata pada Arya. Melvin dan Arya mengikuti dokter keruangannya. Dinka dan Alfan berjaga di depan ruang UGD.
Reta menangis sepanjang jalan kerumah sakit. Dia langsung menghamburkan badannya ke pelukan Dinka. "Bunda baik-baik saja kan ka" ucap Reta disela tangisannya. Dinka mengusap punggung Reta. "Kita berdoa semoga bunda baik-baik saja ya".
Arya termenung setelah mendengar penjelasan dokter. Bahwa istrinya menderita dua penyakit yang parah. Kondisinya memang menurun belakangan ini. Alfan masuk keruang UGD setelah mendengar bundanya tersadar.
"Mana Melvin?" tanya Sarah dengan suara yang lemah. "Dia lagi sama ayah menemui dokter bun" jawab Alfan.
__ADS_1
Melvin bergantian masuk keruang UGD. Tidak tau apa yang dibicarakannya dengan bunda Sarah. Melvin keluar dari ruangan dengan melirik tajam pada Dinka. Dia menarik tangan Dinka. Membawanya keluar dari rumah sakit. "Kak Melvin ada apa?" tanya Reta bingung. Arya dan Alfan hanya melihat kepergian mereka.