Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
170. Hadirnya malaikat kecil


__ADS_3

Melvin sampai di depan gerbang rumah mertuanya. Bobby dan Reta juga sudah menunggu sedari tadi. "Kakak di sebelah sini" Bobby melambaikan tangannya. Melvin melajukan mobil sportnya menghampiri Bobby dan Reta.


"Bagaimana aku bisa masuk? Sepertinya rumahmu di jaga ketat oleh para pengawal" keluh Melvin. "Lewat sini kak" Bobby menunjuk ke sebuah pagar beton yang tinggi. Reta mencubit kekasihnya. "Kamu mau nyuruh kakak ku buat memanjat ke tembok itu" ucap Reta ketus. "Ya mau gimana lagi, kalau gak lewat sini gak mungkin bisa kak Melvin masuk kedalam. Kan tau sendiri di gerbang saja di jaga ketat" jawab Bobby.


"Ya gimana kek caranya selain panjat tembok" sahut Reta. Bobby diam sejenak untuk berpikir. Melvin mengernyit melihat kearah Bobby. "Ah aku punya ide" Bobby mengatakan dengan antusias. "Apa?" tanya Melvin dengan cepat. "Bagaimana kalau kak Melvin menyamar saja jadi pelayan?" tanya Bobby sambil menunjukan barisan giginya. Reta menepuk kepala Bobby dengan keras. "Kamu mau nyuruh kakak buat jadi pelayan, gak salah denger" gerutu Reta.


"Ya terus apa dong sayang? Kamu kasih ide yang lebih brilian coba" Bobby mengelus kepalanya yang sakit. "Cara lain yang lebih pantes gak ada emang?" tanya Melvin. Bobby menggeleng dengan cepat.


Dari kejauhan terdengar bunyi suara ambulans. Ambulans itu masuk kedalam gerbang rumah Armand. Ambulans itu berhasil membuat Melvin panik. "Jangan-jangan kakak ipar mau melahirkan" ucap Reta. Melvin berlari masuk kedalam rumah namun di cegah oleh beberapa pengawal.


"Maaf tuan anda dilarang masuk" ucap pengawal mencegah Melvin. "Tapi istriku berada didalam. Dia mau melahirkan" ucap Melvin dengan tegas. Melvin terus berusaha memaksa masuk. Sebuah bogeman mendarat di wajah salah seorang pengawal.


Melvin memukul pengawal yang menghalangi jalannya untuk masuk. Bobby yang melihat pun ikut membantu Melvin memukul pengawal ayahnya. Dia tidak peduli akan di hukum sang ayah. "Ayo beb terus pukul sampai k.o" Reta memberi semangat pada kekasihnya. Mereka berdua membabat habis pengawal yang berjaga.

__ADS_1


"Kak Melvin masuklah biar aku yang menghadapi sisanya" saran Bobby. Mendengar arahan dari Bobby, Melvin langsung berlari menuju rumah Armand. Namun ambulans sudah kembali jalan.


Melvin pun menghalau laju ambulans. Dan menggunakan tubuhnya untuk menghadang di depannya. "Stoppppppp" teriak Melvin. Sopir ambulans menghentikan lajunya. Melvin segera membuka pintu mobil ambulans dan melihat siapa yang berada didalamnya.


"Dinka" panggil Melvin. Dua orang perawat kompak melihat kearah Melvin. Yang berada didalam ambulans ternyata bukan sang istri. Wajah tampannya sudah sangat panik. Melvin bernafas lega setelah tau yang berada didalam ambulans bukan istrinya. "Ada apa ini?" tanya perawat. "Maaf pak silahkan jalan" ucap Melvin sambil ngos-ngosan.


"Bob tante Betty" Melvin berteriak agar Bobby mendengarnya. Jari telunjuknya menujuk pada ambulans. "Apa?" tanya Bobby dengan berteriak juga. "Tante Betty yang ada di ambulans" sahut Melvin.


Bobby segera berlari menuju mobil dan melajukannya. Reta pun sampai di tinggal karena saking paniknya. Reta mendekat pada sang kakak. "Bukan kak Dinka yang ada didalam ambulans?" tanya Reta. Melvin hanya geleng-geleng sambil mengambil nafas berulang kali karena kelelahan. "Pasti penyakit jantungnya tante Betty kumat" ucap Reta.


"Nih kamu bawa mobil kakak aja" Melvin melemparkan kunci mobil pada Reta. Tangan Reta menangkap kunci mobilnya. Dan bergegas menyusul sang kekasih.


Melvin melangkahkan kakinya ke taman samping rumah. Dinka sedang duduk lesehan di rumput dan menyantap eskrim. "Sayang" mata Melvin berbinar-binar melihat istrinya yang cantik. Seketika Melvin menghamburkan dirinya pada sang istri dan memeluknya dengan erat. "Aku kangen sama kamu" ucap Melvin.

__ADS_1


"Aku kira kamu gak bisa masuk karena banyak pengawal" Dinka berkata dengan nada menggoda. "Bisa dong, kalau cuma menghadapi pengawal bukan tandingan ku" Melvin menyombongkan diri. "Dih sok banget sih" Dinka memanyunkan bibirnya yang masih belepotan eskrim. "Kamu sengaja ya" Melvin mendekatkan wajahnya dan mengecup sekilas bibir istrinya.


"Minggir aku lagi gak mood" Dinka melepaskan bibir Melvin. "Bapak sama ibu datang kerumah. Kamu pulang denganku ya" ajak Melvin. "Iya pulang sekarang aja ayo pumpung bapak lagi kerumah sakit nganterin tante Betty" saran Dinka.


Melvin menggendong istrinya. Ada pengawal yang melihat mereka berdua. "Nona sebaiknya anda tidak pergi dari sini, itu perintah tuan besar" ucap seorang pengawal. Melvin menurunkan Dinka dari gendongannya. "Apa hak mu berbicara seperti itu, aku ini suaminya" bentak Melvin. "Maaf tuan muda kami di perintahkan oleh tuan Armand agar nona Dinka tidak pergi dari sini" sahut pengawal.


Melihat kondisi Dinka yang tidak memungkinkan untuk berlari, jadi Melvin mencari siasat lain agar bisa membawa kabur sang istri. Melvin membisikkan rencana untuk kabur pada istrinya. "Baiklah untuk kali ini aku tidak akan membawa Dinka pergi" ucap Melvin sambil melihat pada sang istri. Matanya berkedip satu untuk memberi kode. "Ya sudah aku mau masuk saja" sahut Dinka dengan ketus sembari menubruk bahu si pengawal. Dinka memahami maksud suaminya. Dia bergegas mencari pelayan untuk di mintai bantuan.


"Bibi" Dinka menghampiri seorang pelayan yang sedang membersihkan dapur. "Iya non ada apa?" tanya pelayan. "Mau duit gak?" Dinka menunjukkan lima buah uang kertas berwarna merah. "Tentu mau dong non" si pelayan manggut-manggut.


"Kalau begitu bantu aku ya" Dinka memohon dengan memasang wajah memelas. "Bantuan apa itu non?" tanya pelayan lagi. Dinka mendekat dan membisikan sesuatu pada pelayan tadi. "Aduh non itu sangat beresiko untuk saya, kalau saya dipecat bagaimana non. Saya sangat butuh pekerjaan ini" jelas si pelayan. "Kalau di pecat datang saja ke rumah suamiku. Kamu pasti di beri pekerja kok tenang aja, aku tulis ya alamatnya" Dinka mencari sebuah kertas dan pena. Ditulisnya alamat rumah suaminya. "Beneran ini non?" tanya pelayan memastikan. Dinka mengangguk.


Melvin sudah menunggu di jalan yang tidak jauh dari rumah mertuanya. Matanya terus melihat ke spion mobil memastikan sang istri sudah berhasil keluar atau belum. Dia sudah benar-benar tidak sabar menanti.

__ADS_1


Tak sampai satu jam Dinka berhasil keluar dan berjalan sedikit cepat sambil memegangi perut buncitnya. Tiba-tiba perutnya terasa kencan dan terasa sakit. Dinka menghentikan langkahnya sambil mengambil nafas dalam-dalam. Namun tetap saja dia sudah tidak mampu berjalan lagi.


Dari kejauhan Melvin melihat sang istri yang terduduk di pinggir jalan. Dengan cepat langkahnya berlari menghampiri sang istri. "Vin sepertinya aku mau melahirkan, perutku sakit banget" ucap Dinka sembari menahan rasa sakit. "Sayang kamu tahan ya aku panggil taksi dulu" Melvin menggendong sang istri ala bride style dan mencari taksi. Untung saja mereka mendapatkan taksi dengan cepat.


__ADS_2