Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
186. Kabar kabur


__ADS_3

Sampai di depan gerbang rumah Clarisa, Alfan langsung pamit pulang. "Tunggu fan, kamu gak mau mampir dulu?" tanya Clarisa. Alfan tidak langsung menjawab. "Ayo seenggaknya mampir dulu menyapa mamih sama papih aku" pinta Clarisa sambil memohon. "Tidak, terimakasih" sahut Alfan.


Clarisa menatap mata Alfan sambil tersenyum manis. Tangannya dengan sigap menarik kerah kemeja yang di pakai Alfan. Sebuah kecupan mendarat di bibir Alfan. Sontak Alfan langsung menjauhkan wajahnya dari Clarisa. "Aku yang kamu lakukan" Alfan mengelap bibirnya. "Aku hanya ingin mencicipi rasa bibir mu" ucap Clarisa dengan rasa percaya diri yang tinggi. "Kamu cepat turun" Alfan mengalihkan pandangannya ke depan.


Melihat Alfan yang marah Clarisa segera turun dari dalam mobil. "Alfan makasih" ucap Clarisa sebelum melangkah ke dalam gerbang rumahnya. Alfan tidak menggubris dan segera menancapkan gas mobil. "Apa kamu tidak menyukaiku sama sekali fan?" Clarisa bertanya-tanya. Matanya melihat kepergian mobil Alfan yang melaju kencang.


Sepanjang jalan Alfan memikirkan tentang pujaan hatinya. 'Bagaimana keadaan Enzi, apakah dia bahagia atau tidak' batin Alfan. Sampai dirumah dia memarkirkan mobil di halaman rumah. Pak Mimin sedang berada di teras. "Malam tuan muda, sudah pulang" sapa pak Mimin. "Iya pak, tolong masukan garasi ya pak mobilnya" perintah Alfan.


"Baiklah" sahut pak Mimin. Wajah Alfan terlihat murung. Pak Mimin menduga pasti ada yang terjadi. Tapi dia tidak berani untuk menanyakan. Alfan langsung masuk kedalam kamar, namun sang ayah memanggil. "Alfan, ayah ingin bicara sebentar" pinta Arya. "Baik yah" Alfan menghela nafasnya. Kali ini apalagi yang akan di minta sang ayah padanya. Alfan sama sekali tidak tau.


Alfan menemui sang ayah di ruang tamu dan mendudukan pantatnya di sofa. "Bagaimana tanggapan mu tentang Clarisa?" tanya Arya. Alfan berpikir sejenak, tidak langsung menjawabnya. "Menurut ayah dia pantas untuk kamu jadikan istri. Dia wanita baik dan dari keluarga yang baik pula. Ayah ingin menggelar acara pertunangan kalian dua hari lagi" ungkap Arya. Alfan tercengang mendengar ucapan sang ayah. "Tapi yah itu...apa tidak terlalu cepat" ucap Alfan.


"Lebih cepat lebih baik. Dan sebaiknya kamu patuhi ucapan ayah. Jangan membangkang seperti dulu" ucap Arya dengan tegas. "Kamu itu anak ayah, walaupun kamu bukan anak kandung ayah. Tapi ayah sudah anggap kamu sebagai anak sendiri. Ayah hanya ingin membuat masa depan kamu jelas dan itu yang terbaik untuk mu dengan menikahi Clarisa" jelas Arya. Alfan hanya bisa diam membisu. Dia sudah tidak bisa berkutik. Arya bangun dari duduknya. "Ayah harap kamu tidak berbuat kesalahan atau kalau tidak orang lain yang akan menanggung resikonya" imbuh Arya. Dia sebenarnya tidak bermaksud untuk mengancam. Namun Arya menggunakan Enzi sebagai tameng agar rencananya terwujud.


Setelah selesai mengucapkan kata-katanya, Arya berjalan menuju ke kamarnya. Sedangkan Alfan masih betah duduk di sofa. "Ayah" panggil Melvin. Dia berpapasan dengan ayahnya. Mata Melvin tertuju pada sang kakak yang berada di ruang tamu. Pasti telah terjadi sesuatu pikir Melvin. Sang kakak terlihat termenung. "Kak Alfan ada apa?" tanya Melvin sambil berjalan mendekat. Alfan tersadar dari lamunannya. "Apa yang terjadi?" tanya Melvin lagi.

__ADS_1


"Kakak bingung vin" jawab Alfan. Wajahnya terlihat muram. "Apa yang ayah katakan barusan? Apa ayah mengancam kakak?" tanya Melvin penasaran.


Alfan tidak menjawabnya. "Katakan saja kak" Melvin masih terus mencecar sang kakak dengan ucapannya. "Kakak harus bagaimana, kakak benar-benar bingung. Kakak tidak tau harus berbuat apa" Alfan memegangi kepalanya. "Apa yang terjadi, kalau kakak tidak beritahu padaku mana mungkin aku tau" sahut Melvin dengan cepat.


"Ayah...dia menyuruhku untuk menikah dengan Clarisa dan dua hari lagi hari pertunangan kami" Alfan menunduk. Melvin sedikit tercengang. "Apa ayah tidak tau kalau kakak tidak mencintai Clarisa" ucap Melvin.


"Percuma aku tidak bisa menolak permintaan ayah" Alfan berkata dengan suara yang lemah. "Ayolah kak ini bukan saatnya menyerah, kakak masih ada waktu esok untuk menghindari malasah ini" Melvin memegang bahu sang kakak.


"Kakak tidak bisa pergi kalau tidak nyawa Enzi dan anakku dalam bahaya" Alfan mulai mengeluarkan tetesan airmata. Otaknya sudah buntu tidak dapat berpikir apapun. Melvin menatap dalam sang kakak. Jadi sang ayah mengancam kakak angkatnya itu dengan nyawa Enzi sebagai taruhan.


Alfan berdiri dan berjalan menuju kekamar tanpa mengatakan apapun. Melvin hanya memandangi langkah Alfan yang semakin menjauh.


Pagi pun tiba, Alfan sama sekali tidak bisa tidur tadi malam. Semua pikirannya tertuju pada keselamatan Enzi. Langkahnya menuruni anak tangga dengan lunglai. Terlihat sekali wajah pucat yang kurang tidur. Melvin dan Dinka juga kebetulan baru keluar dari kamar. Melihat sang kakak ipar dengan wajah pucat membuat Dinka bertanya-tanya.


"Kak Alfan kenapa? Apa dia sakit?" tanya Dinka pada sang suami. Bola mata Melvin bergerak menatap Alfan menuruni anak tangga. "Sayang?" Dinka menarik setelan jas milik suaminya.

__ADS_1


"Iya" jawab Melvin. "Kak Alfan kenapa?" tanya Dinka lagi dengan suara yang lirih. "Ada masalah yang terjadi, tapi aku belum bisa memberitahumu" jawab Melvin. Dinka melanjutkan langkahnya menuju ruang makan.


"Wah cucu ku" Sarah menghampiri Dinka dan merebut si kecil. "Udah ganteng mau kemana nih, mau jalan-jalan ya" ucap Sarah pada cucunya. Kini giliran Arya yang mendekati istrinya. "Ayah juga mau menggendongnya bun" Arya merentangkan kedua tangannya.


"Baru juga bunda menggendong si kecil, ayah malah mau mengambilnya" gerutu Sarah. Reta datang dan langsung menyerobot masuk diantara bunda dan ayahnya. "Sini biar ikut sama tante aja" Reta juga merebut dengan paksa si kecil.


"Kamu ini datang tiba-tiba malah merebut cucu bunda" keluh Sarah. "Ya habisnya ayah sama bunda tuh selalunya rebutan si kecil, ya udah biar aku aja yang menggendong" ucap Reta dengan antusias.


"Mau kamu namakan siapa vin?" tanya Arya. "Iya bunda ikut namai si kecil boleh kan?" tanya Sarah. "Tentu boleh dong bun" jawab Dinka. "Wah beneran nih, aduh namakan siapa ya. Bunda jadi bingung" Sarah berkata dengan semangat.


"Bagaimana kalau Melviano Alfarezel Shaquill Artama" ucap Arya. "Ayah ini kenapa malah ikut-ikutan sih" gerutu Sarah. Dinka memikirkan nama yang di ucapkan sang ayah mertua. "Kayaknya bagus tuh yah. Menurut kamu gimana vin?" tanya Dinka.


"Terserah saja" sahut Melvin. "Kalau bunda pengennya siapa?" tanya Dinka. "Bunda pengennya Davinno atau Devanno din" jawab Sarah. "Ya itu juga bagus bunda" timpal Dinka. "Yang penting harus ada embel-embel nama keluarga kita" celetuk Arya. "Baiklah sepakat nama si kecil Melviano Devan Alfarezel Artama saja" ucap Reta.


"Bagaimana dengan keluarga besan?" tanya Sarah pada Rama dan Siti. "Terserah saja kalau saya" sahut Rama. "Iya benar siapa pun namanya kami mengikuti dari pihak keluarga nak Melvin saja" imbuh Siti.

__ADS_1


"Baik sepakat Melviano ya, tapi dipanggilnya bukan Melvin. Nanti sama dong kaya ayahnya" jawab Dinka dengan senyuman. "Iya di panggilnya Farel saja" sahut Sarah. Alfan hanya mendengarkan tanpa berbicara apapun. Otaknya sibuk memikirkan sang kekasih.


__ADS_2