Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
68. Pilihan


__ADS_3

Melvin bergandengan tangan dengan Serin sambil berjalan menuju kesebuah cafe yang belum lama buka. Melvin sengaja memarkirkan mobilnya di tempat yang lumayan jauh dari cafe, karena Serin ingin berjalan kaki. Agar serasa romantis pikir Serin. Cafe tersebut memang sedang digandrungi oleh banyak anak muda. Juga terkenal di media sosial karena menu makanan yang enak namun ramah dikantong.


Serin sengaja mengajak Melvin ke cafe itu karena ingin mengingat masa-masa remaja. "Lihat bukankah yang kesana itu hanya anak-anak SMA" ucap Melvin. "Tidak semua kok ayo masuk" Serin menarik tangan Melvin.


Melvin tidak tau kalau sang istri pun ada di cafe yang sama dengan mereka.


Bobby senyum-senyum sendiri karena berhasil membawa Dinka makan malam berdua. Itu seperti kencan bagi Bobby. Dia berhasil membawa Dinka dengan sengaja membuat Reta sakit perut agar tidak jadi ikut. Sungguh terlalu si Bobby ini.


Bobby memberikan setangkai bunga mawar pada Dinka. "Ini untuk mu" ucap Bobby tangannya menjulurkan bunga pada Dinka. "Untukku?" tanya Dinka bingung.


"Iya spesial buat kamu" sahut Bobby. Dinka tertawa dan berkata "aku kira kamu sudah pacaran beneran sama Reta kenapa malah memberiku bunga".


Bobby menjadi salah tingkah. "Aku tidak berpacaran dengan Reta" jawab Bobby. Pelayan datang membawakan pesanan. "Kamu pesen makanan sebanyak ini?" tanya Dinka. Bobby mengangguk "habiskan ya".


"Siap" ucap Dinka antusias. Setelah mereka makan dan mengobrol Dinka pergi toilet cafe. Langkah kakinya terhenti setelah melihat Melvin dan Serin keluar dari cafe itu. Tangan mereka terlihat bergandengan. Airmata jatuh kepipi Dinka yang mulus.


Dinka mengejar sang suami keluar cafe namun tidak berhasil. Dinka menghela nafasnya sambil mengusap kasar airmatanya. Yang dipikir Dinka sang suami sudah lepas hubungan dengan tunangan kakak nya itu.


Tapi dugaannya selama ini salah. Dinka pikir Melvin sudah mulai mau membuka hati untuknya. Selama ini dirinya salah paham atas perlakuan Melvin yang baik. Airmatanya mengucur deras membasahi pipinya. Dinka berjongkok sembari menangis. Tangannya digunakan untuk menjadi sandaran wajahnya.

__ADS_1


Bobby kalang kabut mencari Dinka. Karena sudah cukup lama bagi Dinka pergi ke toilet. Bobby keluar dari cafe untuk menunggu Dinka. Namun dia mendapati Dinka menangis dibawah pohon sambil berjongkok.


Bobby segera berlari menghampiri Dinka. "Kau kenapa?" Bobby bertanya sambil mengelus rambut Dinka.


Dinka mendongak melihat Bobby. Suara tangisan yang tadinya lirih kini mengeras. Bobby pun ikut berjongkok. "Kenapa menangis?" tanya Bobby dengan lembut.


"Aku mau pulang" jawab Dinka. Dia berdiri dan berjalan terlebih dahulu. Bobby langsung mengikuti Dinka ke parkiran mobil.


Didalam mobil Dinka mengusap airmatanya dengan tisu. Bobby tidak berani bertanya kenapa. Dia hanya fokus mengemudi.


Sesampainya di pintu gerbang utama mobilnya Bobby berhenti karena Dinka ingin turun. Dinka menutup pintu mobil tanpa bilang apapun pada Bobby. Suasana hatinya benar-benar buruk.


"Masuk" ucap Melvin. Dinka melanjutkan berjalan lagi tanpa merespon sang suami. Melvin melajukan mobilnya sedikit kedepan untuk mengimbangi Dinka.


"Aku bilang masuk" ucap Melvin dengan nada yang ketus. Dinka tetap saja berjalan tanpa melihat Melvin. Dia mencoba menahan airmatanya agar tidak keluar.


Melvin langsung turun dari mobil dan menarik tangan Dinka. Sontak Dinka mengibaskan tangannya dari Melvin. "Kenapa?" tanya Dinka mulai menangis.


Melvin tidak mengerti ada apa dengan istrinya. "Kau ini kenapa?" tanya Melvin. "Kau gak usah sok peduli padaku" Dinka berkata dengan keras. Melvin hanya diam melihat istrinya.

__ADS_1


Dinka mulai melampiaskan semua unek-unek didalam hatinya.


"Kenapa kamu beraninya mengambil hatiku, kenapa kamu peduli padaku, kenapa kamu menghamili ku. Kalau memang kamu tidak suka padaku jangan pernah membuat aku jatuh cinta padamu. Bila kau ingin bersama Serin kenapa kau tidak menikahinya saja. Kau selalu memperlakukan ku seenak hati mu, aku tetap diam dan menerimanya" bentak Dinka. Tiba-tiba hujan turun dengan deras.


Dinka mengambil nafasnya dengan cepat karena benar-benar marah. "Cukup sampai disini, aku akan berhenti mencintai mu. Cukup sakit yang kurasa selama ini" lanjut Dinka sambil mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipi.


Dinka kembali berjalan dibawah derasnya hujan. Melvin berdiri terdiam mematung. Wajah tampan dan tubuhnya basah kuyup terguyur air hujan. Melvin berlari mengejar Dinka dan memegang tangannya. "Maaf" ucap Melvin. Dia mendekatkan bibirnya dan melumat bibir Dinka. Cukup lama mereka berciuman dibawah hujan.


Melvin memeluk tubuh sang istri. Dinka hanya diam. Melvin melepaskan pelukannya dan menatap mata istrinya. Dinka menundukan kepala. Tangan Melvin menuntun Dinka masuk kedalam mobil.


Melvin memarkirkan mobilnya di bagasi. Dinka turun dari mobil tanpa bilang sepatah katapun. Langkahnya masuk kedalam rumah dengan baju yang basah kuyup. Pelayan kembarnya melihat Dinka dan menghampirinya.


"Astaga nona kenapa bisa basah kuyup begini?" tanya Arini. Dinka tetap berjalan tanpa merespon pelayannya. Di belakang terlihat Melvin melihat Dinka yang masih terdiam.


"Astaga tuan muda kenapa juga basah kuyup?" tanya Arini lagi. "Apa Dinka tidak berkata apapun?" tanya Melvin. "Tidak tuan" jawab Alini.


Di anak tangga Dinka berpapasan dengan Alfan. "Adik ipar kenapa dengan bajumu? Kau habis main hujan-hujanan?" tanya Alfan. Dinka berjalan melewati Alfan tanpa menjawabnya.


"Kenapa dengannya?" Alfan berbicara sendiri. Melvin melangkahkan kakinya keatas anak tangga. Kini Alfan melihat sang adik yang basah kuyup. "Kalian bermain hujan-hujanan tanpa mengajak ku?" tanya Alfan meledek. Melvin mendesah dan menatap jengah sang kakak.

__ADS_1


__ADS_2