
Dengan berat hati Dinka membawa ponselnya yang sudah dirusak oleh adik iparnya. Dia juga tidak enak kalau memarahi Reta. Karena Reta memang sedang sangat emosional. Apalagi mengenai masalahnya dengan Bobby.
Dirinya pulang kerumah dijemput oleh sopir pribadi sang suami. "Kenapa non tuh muka kok ditekuk, nanti tidak cantik lagi" ledek pak Iwan sembari melihat kearah belakang dengan spion.
"Ponsel ku pak di banting sama Reta jadi rusak deh" gerutu Dinka. "Wah kok bisa non?" tanya pak Iwan. "Biasa pak kaya gak tau Reta aja gimana kalo lagi marah" sahut Dinka.
Mobil pun sampai di depan rumah. Pak Iwan berniat membukakan pintu mobil untuk Dinka. Tapi Dinka sudah membukanya sendiri lebih dulu. Dinka berjalan masuk kedalam rumah. Sikembar menghampiri Dinka dan menawarkan beberapa makanan pada nona nya.
Sehabis mengisi perutnya Dinka masuk kedalam kamar dan berjalan kearah balkon kamar. Angin bertiup sepoi-sepoi menerpa wajah cantik Dinka. Tangannya sambil mengusap perutnya yang sudah sedikit membuncit. "De udah kenyang ya" ucapnya mencoba mengajak bicara janin diperutnya.
Karena terpaan angin membuatnya ngantuk. Direbahkannya badan pada kursi santai yang berada dibalkon kamar. Perlahan Dinka pun tertidur. Panggilan dari pelayan kembarnya juga tidak didengarnya.
Sore menjelang Alfan mengajak Melvin pulang bersama karena mobil Alfan dipinjam oleh Silma dan Enzi. "Vin ayo pulang" ajak Alfan. Melvin sibuk dengan ponselnya jadi tidak mendengar ajakan dari sang kakak angkatnya.
Alfan mengetuk pintu ruang kerja adiknya sedikit keras. Barulah Melvin mendongak untuk melihat siapa yang mengetuk pintu kantornya.
"Ayo pulang kakak nebeng ya" ajak Alfan. Melvin langsung menolak ajakan kakaknya. "Aku ada urusan kak, maaf ya" Melvin langsung berjalan keluar dari ruangannya.
Merasa curiga dengan sang adik Alfan diam-diam mengikuti mobil Melvin dengan menaiki taksi. Tumben Melvin diajaknya pulang bersama menolak kecuali akan pergi bersama Dinka. Namun kali ini feeling Alfan mengatakan ada yang tidak beres pada Melvin.
"Pak ikutin mobil itu ya" suruh Alfan pada sopir taksi. Mobil Melvin tiba dirumah sakit. Alfan turun dari taksi dan mengikuti arah langkah Melvin.
__ADS_1
Matanya terbelalak melihat siapa yang ditemui Melvin dirumah sakit. Betapa terkejutnya Alfan dan tidak menyangka. Terlihat Melvin memegang dan mengelus tangan Serin.
Alfan berjalan perlahan keluar dari rumah sakit. Dirinya memang kecewa tapi hatinya tidak sakit karena rasa cinta pada Serin untunglah sudah pudar. Mungkin kalau belum pudar melihat hal tersebut sangatlah menyakitkan.
Dia malah berpikir bagaimana dengan reaksi Dinka setelah tau ini semua. Alfan kembali menyetop taksi untuk pulang kerumah.
Dilihatnya hanya pelayan kembar Dinka dan beberapa pelayan lainnya. "Kembar mana nona kalian?" tanya Alfan. "Dari tadi sepulang kuliah habis makan langsung masuk kedalam kamar tuan" jawab Alini.
Alfan harus memberitahukan semua ini pada Dinka. Tapi Alfan merasa khawatir dengan kandungannya Dinka. Namun masalah itu akan jadi bertambah parah jika dia tidak cepat memberitahukan pada adik iparnya. Setelah berpikir keras akhirnya Alfan memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Melvin.
"Adik ipar apa kamu didalam?" tanya Alfan sembari mengetuk pintu. Dinka baru selesai mandi dan sedang memakai pakaiannya. "Sebentar kak" ucap Dinka sedikit berteriak.
Alfan menarik tangan Dinka tanpa berkata apapun. "Kak Alfan ada apa?" tanya Dinka sambil berjalan mengikuti Alfan.
"Kamu akan tau sendiri. Dan kamu harus tau sekarang" jawab Alfan. Setelah meminta kunci dari pak Iwan Alfan melajukan mobilnya sedikit cepat. Dinka masih penasaran akan dibawa kemana dirinya.
Mobil sampai di parkiran rumah sakit. Alfan mengajak Dinka untuk masuk. Dinka berpikir kakak iparnya itu membawanya kerumah sakit untuk periksa kandungan. Padahal bulan ini dia akan memeriksakan kandungannya dengan sang suami.
"Kak Alfan kenapa ngajak aku kesini?" tanya Dinka bingung. "Kamu ikut saja" jawab Alfan. Wajahnya sudah mulai serius.
Sampai diruangan tempat Serin dirawat ternyata tidak ada orang. Dinka ikut melongok kedalam ruang rawat. Dia masih belum tau apa yang akan ditunjukan Alfan padanya.
__ADS_1
Alfan melihat kesekeliling dan menanyakan pada perawat yang melintas. Setelah mendapatkan jawaban Alfan mengajak Dinka ketaman samping rumah sakit. Di lorong rumah sakit tanpa sengaja yang dicari Alfan tampak. Mereka berempat berpapasan di lorong.
Seketika mata Dinka terbelalak melihat sang suami sedang mendorong kursi roda wanita yang sangat dibencinya. Tak kalah terkejutnya Melvin melihat Alfan dan sang istri. "Melvin" panggil Dinka air matanya mulai menggenang di pelupuk mata.
Alfan menggelengkan kepalanya melihat kedua makhluk didepannya. Tanpa pikir panjang Dinka langsung berlari menjauh. Kejadian itu sampai membuatnya lupa kalau ada janin dikandungannya. Melvin langsung mengejar sang istri dan meninggalkan Serin. Alfan pun ikut menyusul Melvin dari belakang.
"Melvin kamu mau kemana?" teriak Serin dengan kesal karena ditinggal begitu saja. Dinka yang larinya tidak terlalu cepat pun kekejar oleh sang suami.
"Sayang aku bisa jelasin" Melvin memohon sambil mencegat istrinya. Dinka hanya terdiam sambil menangis. "Sayang maaf ya maaf banget" ucap Melvin kedua tangannya memohon.
Dinka tersenyum, air matanya masih terjatuh membasahi pipi mulusnya. "Cukup vin! Aku pengen sendiri dulu, percuma juga kamu jelasin sekarang karena aku sudah bener-bener kecewa sama kamu" jawab Dinka dengan ketus.
Melvin kali ini membiarkan Dinka pergi begitu saja. Alfan melihat sang adik dan adik iparnya dari kejauhan. Karena disaat inilah dia tidak berhak ikut campur urusan rumah tangga sang adik.
Dinka menangis sepanjang jalan. Di kiranya Melvin sudah benar-benar meninggalkan Serin untuknya namun apa yang dikatakan Melvin padanya hanya kebohongan belaka.
Dinka menyetop taksi untuk pulang kerumah. Kali ini dia sudah tidak kuat lagi menahan semuanya. Dinka menghubungi ayah mertuanya untuk menceritakan semuanya. Bahwa dia ingin di pulangkan pada kedua orangtuanya didesa.
Kuliah pun sudah tidak dipikirkannya. Karena kali ini hatinya sudah hancur sehancur-hancurnya. Otaknya pun tidak bisa berpikir jernih karena saking kecewa pada Melvin.
Dinka berjalan kelantai bawah dan meminjam ponsel milik pak Mimin. Karena diantara pelayan yang lain hanya pak Mimin yang tau nomer ponsel ayah mertua.
__ADS_1