Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
71. Kesabaran berbuah manis #2


__ADS_3

Alfan melangkah keluar ruang kerjanya dan mendengar suara Melvin sedang menerima telpon. Terdengar juga suara wanita yang berbicara. Namun Alfan pikir itu suara Dinka. "Vin ayo makan siang bersama" ajak Alfan yang langsung membuka pintu tanpa mengetuk.


Terlihat raut wajah Melvin yang kaget. Alfan pun tertawa kecil melihat Melvin. "Kau kenapa terkejut begitu?" tanya Alfan.


Melvin langsung menutup telponnya. "Ayo kak" jawabnya. Melvin terkejut karena sedang telponan dengan Serin. Lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja.


Kakak beradik itu jalan berjejer. Alfan merangkul Melvin tinggi badan Melvin memang lebih tinggi sedikit dari sang kakak. "Mau makan apa nih" tawar Alfan. "Apa saja" jawab Melvin dengan santai.


Para karyawan menyapa bos mereka. Terlihat jajaran pria tampan berjalan di lobby. Bagi para karyawan wanita di perusahaan, Melvin dan Alfan merupakan objek pencuci mata untuk mereka.


Alfan dengan wajah sumringah dan hangat namun tampan. Melvin dengan wajah dingin dan sadis tapi jauh lebih tampan dari sang kakak. Keunggulan Melvin karena mewarisi wajah khas dari sang ayah. Yang apabila dipandang lama kelamaan membuat ketagihan para kaum hawa.


Garis wajah Melvin yang terlihat tegas dan dagu yang kokoh intinya telihat cool dan jantan. Tadinya Serin mengajak Melvin makan siang bersama. Tapi tidak jadi karena Melvin memilih makan siang bersama kaka angkatnya itu.


Kakak beradik itu memasuki sebuah restoran mewah tak jauh dari kantor. Mereka memang sengaja memilih yang dekat agar cepat kembali kekantor lagi. Pekerjaan Melvin pun masih menunggu untuk diselesaikan.


+++


Untuk menghibur kegalauan Dinka, Bobby dan Reta mengajak berjalan mengelilingi mall. "Ibu hamil jangan kelamaan sedihnya kasian dede bayinya nanti ikutan sedih" ucap Bobby untuk menghibur Dinka.

__ADS_1


Reta menatap Bobby sambil menyahuti ucapannya "eh sejak kapan loe jadi sok ngerti kaya gitu". Dengan bangganya Bobby menjawab "tau lah gue gitu loh".


Reta tertawa melihat Bobby sambil menonyor kepalanya. Bobby juga akan membalas namun Reta sudah berlari menghindar. Mereka berdua main kejar-kejaran. Secara tidak sengaja Dinka terhibur dengan tingkah teman-temannya itu.


"Kejar sampai dapet" teriak Dinka sambil tertawa. Puas kejar-kejaran Reta berhenti karena merasa lelah. "Udah gue nyerah" ucapnya melambaikan tangan.


Mereka bertiga melanjutkan berjalan-jalan disekitar mall. Dinka melihat boneka micky mouse yang besar didalam toko boneka. Langkahnya terhenti dan Reta yang berjalan dibelakang pun menabrak Dinka. "Kenapa tiba-tiba berhenti" gerutu Reta.


"Itu" ucap Dinka menunjuk kearah boneka micky mouse. Bobby ikut melihat kearah yang dimaksud Dinka. "Kau ingin boneka itu?" tanya Bobby.


Dinka manggut-manggut. Reta tau Dinka sangat menyukai tokoh kartun itu. Tangan Reta mendorong Bobby untuk membelikan boneka. "Buruan masuk" ucap Reta dengan cepat namun lirih.


Dinka masih melihat kearah boneka. Dirinya membayangkan Melvin pulang kerumah dengan membawakan boneka besar itu sebagai hadiah untuknya. Membayangkan saja membuat Dinka tersenyum.


Semakin lama langkah kaki Bobby semakin mendekat dan Dinka menghamburkan badannya memeluk boneka dan si pembawa boneka. Sontak Bobby terkejut karena dipeluk Dinka.


Dinka memeluk dengan sangat erat. Sungguh rejeki nomplok bagi Bobby bisa dipeluk Dinka. Reta sampai terdiam melihat Dinka yang mengira Bobby adalah Melvin.


Sebegitunya Dinka mencintai sang kakak. Reta tersenyum dan ikut memeluk Dinka dan boneka yang dibawa Bobby. Terlihat seperti adegan pelukan teletubies.

__ADS_1


Dinka meraih boneka dan mengucapkan terimakasih. Namun Dinka akhirnya tersadar bahwa yang membawa boneka tadi bukan Melvin melainkan Bobby. Padahal dirinya sudah begitu bahagia. Wajah Dinka menjadi cemberut lagi.


Dinka berjalan terlebih dulu dari Bobby dan Reta sembari memegang boneka yang besar itu. "Loe sih kenapa tadi pake nyahutin Dinka segala" gerutu Reta. Bobby mendesah seraya berkata "kenapa malah loe nyalahin gue, dia bilang terimakasih ya gue jawablah".


Reta mendelik menatap Bobby. Dia berjalan cepat untuk mengejar Dinka yang sudah berjalan didepan. "Kenapa cowok selalu salah dimata cewek" gerutu Bobby pada diri sendiri. Dia pun mengejar para gadis yang sudah berjalan cukup jauh.


Dinka duduk dikursi belakang sambil memeluk boneka mickey mouse. Reta memandangi sang kaka ipar lewat kaca spion. Niatnya pergi berjalan-jalan ke mall untuk menghibur Dinka. Tapi apalah daya Dinka kembali terlihat sendu.


Reta mendesah sambil menengok kesampingnya. "Bob" Reta menunjuk dengan dagunya kearah belakang.


Bobby melihat Dinka lewat kaca spion. Dia juga bingung harus bagaimana lagi menghibur Dinka.


Mobil sampai didepan rumah Dinka tersenyum pada Reta dan Bobby. "Makasih ya karena kalian aku terhibur" ucap Dinka. Dinka melepas sabuk pengamannya dan turun dari mobil. "Kamu gak mampir ta?" tanya Dinka.


"Kapan-kapan aja ka" ucap Reta tersenyum. Mobil pun melaju kembali. Pelayan kembar Dinka menunggu Dinka diteras rumah. Dinka menyerahkan boneka besarnya pada sikembar. "Bawa masuk kedalam kamar" ucap Dinka dengan lesu. Langkahnya memasuki rumah dan berjalan kearah dapur.


Maksud kamar dari Dinka ini adalah kamar sikembar. Namun yang dimaksud si kembar adalah kamarnya Dinka dan Melvin. Alini membawanya masuk kedalam kamar majikannya. Sedangkan Arini mengikuti Dinka kedapur.


"Mau saya buatkan makanan non?" tanya Arini. "Ambilkan buah saja" jawab Dinka. Dinka duduk termenung sambil jongkok diatas kursi didapur.

__ADS_1


Dia memang suka jongkok dikursi dapur karena kursi didapur lumayan rendah dari meja bila diduduki. Sehingga tubuh mungil Dinka agak susah bila mengambil makanan diatas meja. Posisi berjongkok itu lebih membuatnya nyaman dan posisi antara kursi dan meja juga pas.


Arini meletakkan buah dimeja depan Dinka. Arini terdiam melihat nona nya termenung.


__ADS_2