Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
172. Ribetnya si tampan #2


__ADS_3

Melvin telah di letakkan di ruang sebelah Dinka. Dia terbangun oleh suara tangisan dari buah hatinya. Armand duduk di sofa dengan mata terpejam menunggu Melvin. Kepalanya masih terasa pusing karena teringat akan darah yang banyak. Mata Melvin melihat kearah Armand yang sedang tertidur sambil duduk. "Kenapa om Armand malah ada di sini" ucap Melvin berbicara sendiri. Tangannya mengucek mata karena belum melihat secara fokus.


Melvin berjalan mendekat pada Armand untuk membangunkannya. "Om Armand" Melvin menempuk lembut tangan Armand. Suara tangisan bayi terus terdengar. Membuat Melvin beralih pada bunyi suara. "Anakku" Melvin berjalan keluar dari ruang rawat lain dan menuju ke ruang persalinan Dinka.


Armand pun ikut terbangun karena mendengar suara tangisan bayi. "Melvin kamu sudah bangun" Armand sedikit berteriak. "Om Armand juga sudah bangun" ucap Melvin.


"Kamu kenapa pingsan, istri kamu lagi berjuang untuk melahirkan anak mu malah kamu pingsan" keluh Armand. "Gak kuat lihat darah banyak om" jawab Melvin cengengesan. "Kamu kalau mau pingsan beritahu dulu yang lain, agar om tidak susah payah membawa mu kesini" gerutu Armand.


Terdengar suara Armand yang sudah bisa berkata dengan santai membuat Melvin senang. Itu berarti sang mertua sudah tidak marah padanya lagi. "Maaf om, aku juga gak tau kalau bakalan pingsan" sahut Melvin.


"Ayo kita temui Dinka, dia sudah melahirkan anak laki-laki" Armand merangkul menantu tampannya. Terlihat ada pak Mimin dan Alfan yang berada di luar ruang persalinan. "Kakak" panggil Melvin.


"Bagaimana kondisi Dinka? bayinya laki-laki atau perempuan?" tanya Alfan tidak sabaran ingin tau keponakannya. "Laki-laki kak" jawab Melvin.


"Kakak mendengar dari perawat kalau kamu pingsan?" Alfan mengecek tubuh Melvin dari atas sampai bawah. "Aku gak papa kak" jawab Melvin. "Kamu kenapa bisa pingsan?" tanya Alfan. "Takut darah dia" Armand menjawab pertanyaan Alfan.


Alfan terkejut mendengar jawaban dari Armand. Matanya membesar dan mengangkat kedua alisnya. "Hahaha tidak salah tuh" sahut Alfan sambil tertawa terbahak-bahak. Melvin cemberut melihat dirinya di tertawakan oleh sang kakak dan pak Mimin. Namun pak Mimin hanya tertawa biasa sambil geleng kepala. "Badan aja kaya preman gede gini, masa lihat darah takut sampai pingsan" Alfan meninju lengan Melvin sedikit keras. "Sakit kak" gerutu Melvin sambil mengusap-usap lengannya.

__ADS_1


"Tuan muda apa sudah memberitahukan pada tuan besar dan nyonya?" tanya pak Mimin. Sontak Alfan memandang Melvin. "Iya vin bunda sama ayah sudah di kabari?" tanya Alfan. "Aku belum memberitahukan pada bunda dan ayah. Ponsel ku saja lowbet" jawab Melvin.


"Aku sudah memberi kabar pada Jay sebelum Dinka melahirkan" timpal Armand. "Terus bagaimana om?" tanya Alfan. "Mereka akan pulang paling cepat dalam minggu ini. Menunggu kondisi bunda kalian stabil terlebih dulu" imbuh Armand.


"Baiklah om pergi dulu, mau gantian berjaga dengan Bobby. Dan untuk kamu Melvin jaga baik-baik anak om ya" Armand menepuk dengan keras pundak Melvin. Dia sengaja melakukannya. "Iya om" Melvin mengernyit karena tepukan Armand sedikit membuatnya pegal.


"Pak Melvin ini anaknya tolong di adzani ya, silahkan masuk kedalam" ucap asisten dokter. "Baik dok" Melvin melangkahkan kakinya masuk kedalam dengan semangat. Senyumannya terus menghiasi wajah tampannya. Tangannya mengambil si kecil dan menggendongnya. Suara lantunan adzan menggema di telinga si bayi yang baru dilahirkan Dinka.


Dinka memasang senyuman manisnya melihat Melvin dan anak bayinya. Lengkap sudah kebahagiaan dan keluarga kecilnya. Dinka berharap Melvin bisa merubah watak dan sikapnya yang keras kepala dengan adanya buah hati ditengah-tengah mereka.


"Ini mirip denganku" Alfan meledek Melvin. "Itu anak ku dengan Dinka kak, mana mungkin bisa mirip dengan kak Alfan" Melvin mendekati Alfan.


Pak Mimin ikut masuk kedalam dan memberitahukan bahwa ada panggilan dari sang ayah. "Tuan muda ini tuan besar katanya mau bicara dengan nona" ucap pak Mimin. "Astaga aku lupa membawa ponsel" sahut Alfan sambil merogoh saku jaket dan celananya.


"Punya kamu vin" Alfan beralih memandang Melvin. "Ponsel ku lowbet kak belum di charge" keluh Melvin. "Ya sudah kamu pulanglah, mandi lalu pergi ke sini lagi. Untuk sementara biar kakak yang menjaga Dinka" perintah Alfan.


"Baiklah kak" Melvin menghampiri sang istri untuk berpamitan. "Sayang aku pulang dulu ya, nanti aku kesini lagi" Melvin mencium kening sang istri. Dinka manggut-manggut mengiyakan.

__ADS_1


Sesampainya Melvin di rumah disambut oleh keluarga Rama di teras rumah. "Nak Melvin apakah Dinka sudah melahirkan?" Rama menghampiri menantunya. "Bapak ibu" Melvin mencium tangan mertuanya secara bergantian. "Dinka sudah melahirkan anak laki-laki secara normal" imbuh Melvin.


"Syukurlah, bagaimana sekarang keadaannya?" tanya Rama. "Dinka dan bayinya baik-baik saja pak" jawab Melvin. "Bapak ini orang menantu kita baru pulang dari rumah sakit kenapa ditanya terus sih" gerutu Siti. Melvin hanya tersenyum melihat kedua mertuanya. "Ibu ini, namanya juga orang khawatir ya tanya-tanya terus lah. Lagian nak Melvin yang bapak tanyai saja tidak komplen seperti ibu kok" sahut Rama. "Iya gak papa kok bu" Melvin tersenyum. Melihat Abimanyu yang diam sedari tadi, membuat Melvin tersenyum sebelah sambil menatapnya.


Langkah kaki Melvin masuk kedalam rumah. Melvin merasa sudah menang karena bisa mendapatkan Dinka sekaligus hatinya. Kini Abimanyu yang merana, apalagi mereka berdua sudah di karuniai anak. "Mas kenapa?" tanya Bella yang melihat wajah kusut Abimanyu.


"Gak papa" jawab Abimanyu secara singkat. "Oiya nak Melvin akan ke rumah sakit lagikan? Apa boleh bapak ikut?" Rama mencegat Melvin. "Tentu saja boleh pak, sekalian sama ibu juga ya" ajak Melvin pada kedua mertuanya.


"Iya nak tampan ibu pasti akan ikut. Pasti cucu ibu mirip dengan mu ya dan sama-sama tampan seperti ayahnya" pujian dari Siti membuat Melvin melambung tinggi. "Ibu bisa saja" ucap Melvin tersenyum senang.


"Baiklah kalau begitu aku mau mandi dulu dan bersiap-siap" Melvin kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah. Dia pun mandi dan bersiap-siap untuk kembali kerumah sakit. Dengan mengenakan pakaian kasual membuatnya terlihat fresh. Berbeda saat sepulang dari rumah sakit.


Setelah selesai Melvin mendengar ada pertengkaran di balkon belakang rumah. Dia menengok siapa yang sedang membuat keributan di rumahnya. Terlihat dari kejauhan Bella dan suaminya sedang beradu pendapat. "Ada masalah apa lagi?" Melvin terheran-heran sambil geleng-geleng kepala.


"Apa mereka setiap hari berantem, kenapa selalu saja kalau kemari tidak pernah akur kedua insan itu" gumam Melvin berbicara sendiri. Dia pun turun kelantai bawah menuju garasi mobil. Karena akan membawa mertuanya dia tidak menggunakan mobil sport yang biasa di pakainya.


Melainkan mobil dengan kapasitas orang banyak. Kedua mertuanya sudah berkumpul di depan bersama dengan bi Nah. "Mana Bella dan Abimanyu pak, apa mereka tidak ikut?" tanya Siti. "Bapak tidak tau bu" jawab Rama. "Ya sudah kita tinggalkan saja mereka berdua" gerutu Siti. "Nah itu mereka" Melvin menunjuk pada pasangan suami istri.

__ADS_1


__ADS_2