
Alfan berencana menginap di kontrakan sederhana Enzi. Terdengar suara ketukan pintu yang sangat cepat. Karena Enzi takut membuka jadi Alfan yang membukannya.
Alfan tersentak kaget melihat sang adik yang datang. "Kakak mendingan cepetan kabur deh ayah bersama anak buahnya sedang menuju kesini" ungkap Melvin berkata dengan cepat. "Darimana ayah tau aku ada disini?" tanya Alfan gugup.
"Aduh itu aku jelasin nanti deh kak pokoknya kakak sama Enzi harus cepat pergi, buruan udah gak ada waktu lagi" desak Melvin. Alfan melihat wajah Melvin yang memar. Itu pasti pukulan dari sang ayah.
Melihat ada dua buah mobil yang berhenti didepan kontrakan membuat Alfan dan Melvin panik. Seketika Alfan menarik Enzi untuk cepat keluar dari dalam kontrakan. Melvin mencoba menghalau anak buah sang ayah.
"Kamu mau menghalangi ayah rupanya" ucap Arya pada Melvin. "Ayah cukup yah biarkan kak Alfan bahagia dengan wanita yang dicintainya" jelas Melvin. "Pukul saja dia" perintah Arya pada beberapa bodyguard yang dibawanya.
Melvin melawan satu persatu bodyguard ayahnya. Karena keahlian bela dirinya yang mumpuni membuatnya menang melawan bodyguard sang ayah.
Buuuugg
Kini pukulan sang ayah mendarat pada wajah tampan Melvin. Untuk yang kedua kalinya Melvin mendapat bogeman Arya. Tadi sewaktu akan pergi pun dia juga sudah mendapat tinjuan ayahnya.
Melvin kembali dipukul oleh Arya sampai jatuh tersungkur. Kali ini kemarahan Arya sudah memuncak. "Bawa dia kembali kerumah" ucap Arya pada bodyguardnya dengan keras. Kedua anak buahnya maju dan membawa Melvin pulang kerumah. Dan yang lain kembali mengejar Alfan yang sudah kabur.
__ADS_1
Alfan berhasil kabur ke suatu tempat yang cukup aman. Itu merupakan tempat persembunyian Melvin sewaktu dulu kabur dari rumah. Jika Melvin kabur ketempat itu ayahnya tidak akan bisa menemukannya. Kini Alfan sudah sampai ditempat itu. Enzi merasa sangat ketakutan. Alfan mencoba menenangkan wanitanya itu.
Melvin dikawal pulang menuju kerumah oleh bodyguard sang ayah. Wajah tampannya penuh luka lebam. Dinka terkejut melihat keadaan suaminya. "Astaga Melvin" Dinka meraih tubuh sang suami dari si bodyguard dibantu sikembar. "Apa yang sudah terjadi?" tanya Dinka. "Maaf nona kami tidak bisa menceritakannya, kami hanya disuruh untuk mengantarkan tuan muda pulang" jawab salah satu bodyguard.
Sarah kaget melihat keadaan Melvin yang babak belur dihajar suaminya. Seketika tubuhnya pun terjatuh kelantai. Dinka melihat bunda mertuanya yang telah pingsan. Melvin dengan susah payah segera mendekati tubuh sang bunda yang pingsan. "Bunda bangun" ucap Melvin panik.
Dinka juga ikut membangunkan mertuanya. Pak Mimin yang melihat istri majikannya pingsan dan segera menghubungi tuan besarnya. Dia juga menghubungi dokter yang biasa menangani Sarah ketika berada di indo.
Karena panik perut Dinka terasa sedikit nyeri. Diusapnya perut buncitnya. "Nona kenapa?" tanya Alini. "Hanya nyeri sedikit pada perutku" jawab Dinka. Tangan sikembar dengan sigap menuntun Dinka untuk duduk. Melvin masih sibuk dengan rasa cemasnya pada sang bunda. Di gendongnya sang bunda kedalam kamar. Rasa sakitnya seketika hilang melihat keadaan Sarah.
Sang dokter merasa iba melihat wajah tampan Melvin yang lebam dan penuh luka. Merasa ditatap aneh sang dokter Melvin mengalihkan wajahnya memandang kearah lain.
Dinka dituntun oleh pelayannya masuk kedalam kamar sang bunda. Dengan cepat Melvin menghampiri Dinka. "Sayang kamu kenapa?" tanya Melvin kembali panik. "Aku gak papa kok, ini si kembar yang maunya nuntun aku terus" jawab Dinka. Melvin melihat tangan sang istri memegangi perutnya.
"Apa ada yang kamu rasakan?" tanya Melvin lagi. Dinka tidak menjawab malahan fokus pada wajah Melvin. "Sayang muka kamu" mata Dinka mulai berkaca-kaca. Tangannya memegangi pipi Melvin yang merah karena luka.
"Aku obati ya" Dinka pun mengajak Melvin kelantai bawah. "Kembar bilang sama bi Nah suruh jagain bunda ya" perintah Melvin. "Baik tuan muda" jawab Arini.
__ADS_1
Tidak berselang lama sang ayah datang. Arya langsung berlari menuju kekamarnya. Dilihatnya sang istri masih terbaring diatas ranjang tempat tidur. Dokter yang memeriksa juga sudah pamit.
"Bi kenapa Sarah bisa pingsan?" tanya Arya. "Mungkin karena melihat wajah tuan muda Melvin yang penuh luka tuan" jawab bi Nah. Arya mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Otaknya sedang kacau memikirkan Alfan namun kini masalah bertambah karena sang istri pingsan. Itu juga merupakan kesalahannya sudah menghajar Melvin jadi membuat sang istri pun pingsan.
Arya duduk di samping ranjang dan mengelus tangan Sarah. "Saya permisi dulu tuan" ucap bi Nah.
Dinka perlahan menempelkan es batu diwajah suaminya. "Pasti sakit banget ya" ucap Dinka. Melvin tersenyum sedikit sambil menahan rasa perih di ujung bibirnya. "Gak usah senyum kalau perih" ucap Dinka.
Reta mendengar sang bunda yang pingsan dari sikembar. Dengan cepat dia langsung datang setelah mendengar kabar itu. "Kakak bunda dimana?" suara khas dari Reta terdengar. Seketika Dinka terkejut mendengar suara Reta yang kencang. "Astaga dek jangan keras-keras kalau ngomong istri kakak jadi kaget tuh" gerutu Melvin.
"Bagaimana keadaan bunda kak, kata kembar bunda pingsan" Reta kelabakan. "Bunda hanya pingsan" jawab Melvin dengan suara lirih. Reta pun langsung berlari menuju kekamar orangtuanya tanpa mendengar jawaban Melvin.
"Tidak sopan sekali sih aku lagi ngomong malah ditinggal pergi gitu aja" keluh Melvin. Dinka tersenyum mendengar keluhan sang suami. "Bagaimana dengan kak Alfan?" tanya Dinka. "Dia pasti sudah aman kok di tempat persembunyianku yang dulu" jawab Melvin.
"Kasian ya kak Alfan, kenapa juga ayah tidak mau merestui mereka berdua sih" ujar Dinka. "Sayang apa om Armand sudah menemui mu?" tanya Melvin dengan pelan. Dinka tidak menjawab suaminya. Kini dia mengoleskan salep ke muka Melvin agar luka lebamnya cepat sembuh.
"Sayang" panggil Melvin. "Jangan bahas masalah itu ya" sahut Dinka. Melvin mengerti perasaan sang istri. Dia pun mengalihkan pembicaraannya. "Aku bakal bantu kak Alfan memperjuangkan cintanya" Melvin mengelus perut Dinka. Matanya memandangi Dinka. "Harus dong" ujar Dinka. Mata mereka saling bertatapan.
__ADS_1