
Perjalanan yang panjang dan melelahkan bagi Dinka. Dia digendong ala bridal style oleh Melvin kedalam kamar. Sedangkan Alfan mengantarkan Serin kerumahnya.
Melvin meletakkan istrinya diatas ranjang yang empuk. Matanya melihat wajah tidur istrinya yang begitu tenang. Itu mengingatkannya pada perkataan Dinka yang dia dengar sewaktu dihotel. Yang menyuruhnya untuk tidak membuat Dinka jatuh cinta. Sekilas senyum tipis terlihat dibibir Melvin.
Melvin beranjak dari samping Dinka. Tangannya di pegang oleh Dinka. Dalam tidurnya Dinka bergumam "ayah jangan pergi tinggalkan Dinka". Melvin menatap istrinya yang matanya mengeluarkan air mata.
'Bahkan disaat tidur pun kau menangis dasar gadis cengeng' batin Melvin. Tangannya melepaskan genggaman Dinka. Dia masuk kekamar mandi. Seusai mandi Melvin mengangkat telpon dari Serin.
Dia pergi ke ruang kerja nya agar Dinka tidak mendengar. Melvin dan Serin mengobrol cukup lama. Ada sebuah senyum tipis dibibir Melvin. Hatinya mulai mekar kembali seperti dulu.
Tiba-tiba wajah Dinka mulai terbayang di pelupuk matanya. Melvin menggeleng kepala dengan cepat. Setelah teleponan dengan bisa dibilang kekasih gelapnya Melvin kembali disibukkan dengan pekerjaan kantor. Karena pekerjaannya sekarang menjadi double. Namun dia menikmatinya.
Alfan mengetok pintu ruang kerja sang adik. "Bolehkan aku masuk?" tanya Alfan. "Masuklah" ucap Melvin.
"Ayah tadi telpon katanya kondisi bunda membaik semenjak dirawat disana, kita gak usah khawatir" jelas Alfan. Melvin menatap layar komputer didepannya.
"Boleh kakak tanya sesuatu pada mu?" tanya Alfan. "Tanya saja ada apa" ucap Melvin namun masih menatap komputer.
"Apakah kamu masih ada rasa pada Serin?" pertanyaan yang ditunggunya dari sang kakak lebih cepat dilontarkan dari dugaan Melvin.
__ADS_1
Bibir Melvin tersenyum sebelah. "Menurut kak Alfan?" tanya Melvin balik. Sorot mata Alfan benar-benar fokus pada bola mata sang adik. Dia memang paham betul pada ekspresi wajah adik angkatnya. Namun Melvin terlalu pintar menyembunyikan perasaannya. Jadi terkadang Alfan pun bisa terkecoh oleh Melvin.
Kali ini Alfan tidak bisa membaca raut wajah adiknya. "Mengapa aku terlalu bodoh bertanya tentang hal itu jelas-jelas aku sudah menjadi tunangannya" Alfan berkata dengan tersenyum. Melvin menatap sang kakak dan ikut tersenyum.
+++
Ada pepatah bilang berakit kehulu berenang kemudian. Bersakit dahulu bersenang kemudian. Dinka menatap cermin didepannya sambil memikirkan pepatah itu. Dia sudah selesai mandi namun masih betah berada dalam kamar mandi. Handuknya membalut tubuh indah Dinka.
"Kenapa juga hidup ku selalu berakit kehulu, terus kapan sampai ketepian" gerutu Dinka menghadap cermin. Dia mendekatkan wajahnya dengan cermin. "Masih disini juga" suara berat dari suaminya mengagetkan Dinka.
Dinka cengengesan di tatap oleh Melvin. "Keluar aku mau mandi" pungkas Melvin. Dinka mengeratkan handuknya yang sedikit kendur dan berjalan melewati suaminya. Tangan besar Melvin menangkap pinggang Dinka. Mendorong tubuh istrinya agar sejajar dengannya.
"Kau sengaja membuat junior ku terbangun?" tanya Melvin dengan berbisik. "A..apa maksud mu?" tanya Dinka balik.
"Keluar sesudah aku merasa puas" bisik Melvin. Bisikan dari Melvin membuat debaran di jantung Dinka. Melvin meringis dan merasakan jantung istrinya berdebar dengan cepat. Memulainya dengan sebuah ciuman. Dan perlahan ciuman itu turun kebawah.
Setelah Dinka melayani sang suami dia langsung membungkus tubuhnya dengan handuk. Meninggalkan sang suami didalam kamar mandi.
'Aku tidak boleh jatuh cinta padanya, tidak boleeehhhh' batin Dinka sambil berjalan kesebelah ruang kamarnya. Pantang baginya untuk jatuh hati pada Melvin.
__ADS_1
'Aku gak boleh memupuk rasa ini cukup cinta pertamamu saja yang kandas selanjutnya kamu harus melabuhkan hatimu untuk orang yang berhak Dinka. Melvin tidak berhak mendapatkan hatimu' gumam Dinka dalam hati. Dinka menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Kenapa dengan kepala mu" ucap Melvin. Lagi-lagi suaminya itu mengagetkannya. Dinka mendesah. Dia sudah rapih dengan bajunya. Tinggal dirias oleh pelayan kembarnya.
Melvin menatap kepergian Dinka dari kamar. Lama kelamaan istrinya bertingkah aneh. Atau dirinya lah yang tidak peka terhadap istrinya. Hanya peka terhadap rangsangan. Apalagi rangsangan dari sang istri pastinya.
Melvin turun dengan gagahnya dari anak tangga sambil membetulkan kancing di lengan kemeja. "Bantu aku memakai dasi" ucapnya yang tertuju pada Dinka. Namun para pelayan wanita yang maju.
"Aku bilang pada Dinka" ucapnya masih memasang wajah dingin. "Aku" Dinka menunjuk dengan jarinya pada diri sendiri. Melvin mengangguk dan menjulurkan dasi kearah Dinka.
"Tapi tangan ku sudah kotor" tolak Dinka sengaja memegang ayam yang sedang dimakannya. Dia sudah memulai sarapannya terlebih dulu tanpa menunggu suami dan kaka ipar. Masa bodoh Melvin akan marah karena dia memang sungguh lapar. Karena memang Melvin lah yang sudah membuatnya lapar. Untuk meminta melayaninya dipagi hari.
Mulai sekarang Dinka akan menutup rapat-rapat hatinya untuk Melvin. "Biar saya saja tuan" ucap pelayan menawarkan diri. Alfan keluar dari kamarnya. Mengambil dasi ditangan Melvin. "Sini biar aku saja" tawar Alfan. Melvin mengambil kembali dasinya dari tangan Alfan.
Dasi Melvin seketika menjadi bahan rebutan antara si pemilik dengan sang kakak. Dinka geleng-geleng kepala sedangkan para pelayan melihatnya dengan tersenyum.
Dinka sudah selesai dengan sarapannya ketika Melvin dan Alfan memulai sarapan. "Mau kemana?" tanya Melvin. "Aku sudah selesai sarapan suami jadi hamba mohon pamit undur diri dari meja makan" ucap Dinka dengan nada yang sangat lembut.
Alfan tertawa terbahak-bahak melihat ejekan dari Dinka pada Melvin. Padahal bukan maksud Dinka mengejek suaminya. "Kau mengolok-olok diriku?" tanya Melvin penuh penekanan disetiap kata.
__ADS_1
"Tidak" Dinka menggerakan tangan dan menggeleng dengan cepat. Dia melarikan diri dari hadapan suami dan kaka iparnya. Karena marah Melvin berjalan kedepan dan menyuruh para sopir untuk tidak mengantarkan Dinka.
Terpaksa Dinka harus berjalan kaki dari rumah menuju gerbang utama. Itu lumayan jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki. Dinka mendelik menatap suaminya. Melvin hanya memasang wajah dinginnya tapi tampan.