
Melvin berjalan dengan cepat keluar dari ruang rawatnya sambil menuntun Dinka. "Tuan muda mau kemana" bi Nah mencegat dari luar pintu. "Aku mau pulang bi, mau mengurus administrasi dulu" jawab Melvin. "Apa tuan muda sudah baikan, kenapa secepat ini pulangnya?" tanya bi Nah. "Udah bosen bi di rumah sakit" sahut Melvin.
"Tau nih nunggu keputusan dokter dulu, kalau sudah boleh pulang ya kita pulang" nasehat Dinka. "Tapi aku gak betah sayang berada lama-lama di rumah sakit" gerutu Melvin. "Kalau dihati kamu aku betah". Melvin mengangkat kedua alisnya menggoda sang istri. "Biasanya juga kamu bisa berhari-hari dirumah sakit kalau nungguin bunda" sahut Dinka dengan gemas pada Melvin.
"Itu beda sayang, kan bukan aku yang sakit" timpal Melvin tidak mau mengalah. "Itu alasan kamu aja kan?" tanya Dinka lagi. Melvin tersenyum melihat wajah Dinka. "Kalau dokter belum ngijinin buat pulang gak boleh pulang dulu" ucap Dinka tegas sambil berkacak pinggang.
"Iya-iya" Melvin cemberut. Dinka mendorong tubuh sang suami agar masuk kedalam ruang rawat lagi dan berbaring. "Bi coba panggilkan dokternya ya" perintah Dinka. "Baik nona" bi Nah berjalan menjauh dari keduanya.
Melvin mulai bersikap usil pada istrinya. Tangan Melvin mulai nakal memegang bagian sensitif milik istrinya. "Vin tangan kamu" geruru Dinka. "Pegang doang sayang, pelit amat" keluh Melvin. "Mentang-mentang aku udah maafin kamu tapi jangan semena-mena ya ini di rumah sakit" jelas Dinka. Mereka duduk di sofa secara berdekatan. Dinka asik menghabiskan buah yang ada dimeja.
Tangan Melvin tidak ada jeranya. Kini kembali memegang bagian atas tubuh Dinka. Tidak ada perlawanan dari sang istri membuat Melvin semakin melancarkan aksinya. Tanganya membuka kancing baju yang dikenakan sang istri. Tangannya pun di tangkis oleh Dinka. "Mau apa?" mata Dinka melotot pada Melvin.
Melvin berhenti sejenak menunggu Dinka diam. Tangannya kembali membuka kancing baju Dinka secara perlahan. Kembali Dinka menangkis tangan sang suami. Sampai pada akhirnya Melvin menyerah dan tidak menargetkan bagian dada sang istri. Kini beralih pada leher jenjang nan mulus milik istrinya.
Melvin memegang pinggang Dinka dan mendekatkan wajahnya pada bahu Dinka minta dipeluk. Dinka menuruti kemauan sang suami. Kepala Melvin bersandar tepat di leher sang istri. Kesempatan yang bagus menurut Melvin. Bibirnya mencium lembut leher sang istri. Dinka belum sempat menghindar tapi Melvin sudah mengecup lama leher istrinya. Sebuah tanda kemerahan di leher Dinka. Membuat Melvin tertawa kecil sambil menjulurkan lidah untuk menggoda sang istri. Dinka memasukan buah jeruk yang sudah dikupas secara mendadak pada mulut Melvin. "Kalau laper nih makan" ucap Dinka.
__ADS_1
"Udah tau leher ku bukan makanan, main gigit aja. Kamu mau jadi vampir gigitin leher" gerutu Dinka. "Engga sayang cuma pengin cicipin leher kamu, habisnya melambai-lambai minta dicium" sahut Melvin cengengesan.
"Yang melambai-lambai itu bendera bukan leher" gerutu Dinka. Melvin kembali mengusili sang istri dengan mengecup bibirnya dengan spontan. Tepat saat Melvin mengecup bibir Dinka, sang dokter pun datang. Mata si dokter tercengang melihat pemandangan didepannya. "Maaf mengganggu kalian" kata si dokter. Dinka segera menepis tangan Melvin dari pipinya.
"Masuk aja dok" ucap Dinka sembari berdiri. Sang dokter memeriksa keadaan Melvin. Dan Melvin pun diperbolehkan pulang karena sudah baikan.
Mereka menggunakan taksi karena tidak mengabari sang kakak untuk menjemput. "Apa tidak sebaiknya memberitaukan suami saya saja tuan untuk menjemput" saran bi Nah. "Gak usah bi naik taksi aja, lagian udah lama banget gak naik taksi" pinta Melvin. Selama ini dirinya memang seringkali menggunakan mobil pribadi. Melvin ingin merasakan suasana yang berbeda kali ini.
"Ya sudah ayo" ajak Melvin menggandeng tangan Dinka. Dinka menukar tangannya agar menggandeng sang suami. Melvin tersenyum senang. Di belakang bi Nah juga ikut senyam-senyum sendiri.
Alfan diam sejenak. "Hallo fan kenapa diam?" tanya Clarisa. "Gak papa, aneh aja kamu mau bawa aku ke acara arisan keluarga" jawab Alfan. "Aneh dimananya, papih aku juga nanyain kamu lho. Aku pernah cerita ke papih tentang kamu, jadi dia ingin bertemu" jelas Clarisa.
Alfan tersenyum lebar. "Hahah kamu ini apa-apaan sih, pasti buka aib aku ya" ujar Alfan. "Engga dong, aku cerita semua tentang kamu yang baik-baik dong, kata papih kamu menantu idaman. Dia juga penasaran sama kamu dan kebetulan juga ingin berbesan dengan om Arya katanya" jelas Clarisa.
"Apaan sih" sahut Alfan sembari berjalan. "Seriusan fan" jawab Clarisa dengan cepat. "Sudah dulu ya" ucap Alfan sambil menutup teleponnya. Langkahnya tidak terasa sudah tiba didepan ruang rawat sang adik. Setelah membuka pintu, Alfan terkejut karena ruangan sudah kosong. Alfan bergegas menuju tempat perawat yang berjaga untuk menanyakan adiknya.
__ADS_1
"Sialan udah pada pulang kenapa gak ngasih tau aku" gerutu Alfan berbicara sendiri. Dia pun kembali ke parkiran dan melajukan mobilnya menuju rumah.
Di perusahaan milik Armand tempat Reta dan Bobby magang di gunakan untuk berduaan. Mereka sudah beberapa hari magang di sana. "Kalian bukannya kerja malah mojok disini" ucap asisten pribadi Armand pada Bobby dan Reta. Sontak keduanya melihat ke sumber suara.
"Apaan sih om ganggu aja" gerutu Bobby. "Mau saya laporkan pada pak dirut" ancam asisten Armand. "Jangan dong om, nanti malah bisa jadi brabe" ucap Bobby cengengesan.
Bobby mengkode Reta agar berpindah ke tempat lain. Mereka menuju tempat yang sepi di perusahaan. "Kita ke pantry aja gimana?" tanya Bobby sembari menatap Reta dengan genit. "Mau ngapain, mau nyuruh aku buat kopi" sahut Reta.
"Nerusin yang tadi sayang" ungkap Bobby. Dia berusaha merayu Reta, mumpung sang kekasihnya itu mau di ajak bermesraan. Mereka berdua masuk kedalam sebuah ruangan yang memang jarang karyawan biasa bisa masuk.
Bobby memeluk Reta dengan erat dan memegang kedua pipinya. Fokus mata Bobby tertuju pada bibir manis nan tipis milik Reta. Perlahan Bobby mendekati bibirnya ke bibir Reta. Reta pun memejamkan matanya. Mereka hanya sering bergandengan tangan biasa. Kini kesempatan tersebut dimanfaatkan baik oleh Bobby.
Bibirnya semakin mendekat namun belum menempel. Aksinya itu di pergoki oleh sang ayah yang sedari tadi sudah berada di ruang arsip perusahaan. "Ehem" Armand berdehem sembari menatap tajam ke arah kedua sejoli yang sedang memadu kasih.
Spontan Reta mendorong Bobby sampai terjungkal kebawah.
__ADS_1