
Melvin pulang dari kantor dengan cepat. Alfan sudah pulang terlebih dahulu karena malam ini acara pertunangannya. Alfan berjalan mondar mandir didalam kamarnya. Otaknya benar-benar kacau memikirkan situasi yang sedang dialaminya.
Dia ingin sekali menolak permintaan sang ayah namun tidak berani. Bisa-bisa jadi santapan singa buas bila dirinya menolak. Disisi lain dia merasa bersalah pada Enzi. Walaupun hubungan mereka masih sebatas berdekatan tapi dia tau bagaimana perasaan Enzi bila tau dirinya bertunangan.
"Sayang bisa telpon Reta suruh kesini sekarang?" tanya Melvin. "Reta lagi pergi sama Bobby" ucap Dinka. "Kok kamu tau?" tanya Melvin lagi. "Ya iyalah dia tadi mampir nganterin siomay yang aku mau" jawab Dinka.
Melvin pun beranjak pergi ke kamar mandi. Tangannya membuka sedikit pintu kamar mandi. "Sayang ikut mandi sini" rayu Melvin sembari menggerakkan kedua alisnya. Dinka hanya menatap jengah sang suami.
"Ayolah" bujuk Melvin. Karena tubuhnya sudah tidak mengenakan apapun Melvin pun meraih handuk untuk menutupi bagian tubuhnya. "Ayolah sayang emang gak kepengin" Melvin mendekati Dinka dan memegang pinggangnya.
Dinka melepaskan tangan Melvin. "Aku udah mandi tadi" ucap Dinka. Melvin membujuk rayu sang istri agar mau melayani gairahnya. Ditariklah perlahan tangan Dinka masuk kedalam kamar mandi. Dinka pun tidak menolak ajakan Melvin. Bila tidak menuruti pasti suaminya itu bakal terus memaksa sampai dirinya mau. Terjadilah adegan mesra dan romantis dari sepasang suami istri didalam kamar mandi.
Alfan mengetuk pintu kamar Melvin berulang kali. Tapi tetap tidak ada jawaban dari dalam. Alfan berdiri sambil diam didepan kamar Melvin. "Vin udah dong" Dinka berusaha keluar dari kamar mandi. Tapi Melvin masih menahan Dinka didalam.
Bibir Melvin masih terus menciumi tubuh indah sang istri. Karena Dinka merasa sudah melakukan yang di mau sang suami, dirinya berusaha melepaskan diri.
"Vin lepas" Dinka berkata dengan nada tinggi. Namun perkataannya tidak di repson Melvin. Dinka meraih handuk dan melepaskan diri dari Melvin. "Udah cukup lama kita melakukannya" Dinka berjalan keluar dari kamar mandi. Melvin menghela nafasnya dalam. Dirinya masih ingin bermesraan dengan sang istri.
__ADS_1
Dinka mendengar suara ketukan pintu. Tangannya membuka pintu sambil bersembunyi dibalik pintu karena masih mengenakan handuk. "Melvin mana?" tanya Alfan. "Masih mandi kak, sebentar ya" jawab Dinka.
"Nanti suruh temui kakak di taman belakang ya" pinta Alfan. "Baiklah" sahut Dinka. Melvin keluar dari kamar mandi dan kembali memeluk Dinka dari belakang. Tangannya mengelus perut buncit Dinka. "Kamu dicariin kak Alfan tuh" ucap Dinka.
"Kak Alfan" ujar Melvin. "Iya ditunggu di taman belakang rumah" Dinka mengalihkan tangan Melvin dari perutnya.
Melvin menemui sang kakak ditaman belakang rumah. Kedua tangannya membawa dua buah cangkir. Dia melihat Alfan yang kembali melamun sambil duduk di ayunan taman.
Melvin mendekat sembari menjulurkan sebuah cangkir berisi teh. Alfan mendongak melihat sang adik. Tangannya menerima cangkir dari Melvin. "Secangkir teh untuk membuat kakak sedikit tenang" ucap Melvin.
Bokongnya didudukan dikursi dekat sang kakak. "Kakak bingung vin" ucap Alfan. Melvin diam sembari menatap kakaknya. "Malam ini acara pertunangannya, kakak harus gimana" lanjut Alfan sembari meminum teh yang diberikan Melvin. Tanpa sadar teh itu sudah di campur sesuatu oleh Melvin.
Melvin pun tersenyum sambil menatap sang kakak. "Kakak percaya kan sama rencana ku dan Reta" sambung Melvin. Ada maksud terselubung dibalik senyuman dan kata-kata sang adik. Alfan tidak tau sama sekali rencana dari kedua adiknya itu.
"Ya udah kakak siap-siap sanah, harus kelihatan tampan dan keren" Melvin mengedipkan satu matanya. Alfan masih belum mengerti maksud adiknya. "Ayolah kak bangun. Kan kak Alfan harus berangkat lebih dulu untuk menghormati tamu ayah" Melvin menarik tangan Alfan.
Disisi lain Reta dan Bobby sudah berhasil menculik seorang wanita yang disuruh oleh Melvin. Reta dan Bobby membawanya ke sebuah hotel sedikit jauh dari pusat kota. Wanita yang pingsan itu diletakannya di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Bob loe jaga dia ya supaya gak kabur" suruh Reta. "Tomboi ku sayang dia gak akan kabur kan udah kita kasih obat bius" sahut Bobby. "Mending kita langsung pergi ke acara pertunangan kak Alfan deh buruan sebelum acaranya dimulai" Bobby menarik tangan Reta. Ada beberapa orang yang diminta Bobby untuk berjaga didepan pintu kamar hotel.
Keluarga besar Tama sampai di sebuah hotel mewah miliknya. Tempat diadakannya acara pertunangan Alfan sekaligus acara anniversary pernikahannya. Arya menyalami satu persatu tamu undangan. Melvin dan Dinka sudah tiba di tempat acara bersama Rama dan sang istri. Begitu pula Bobby dan Reta.
Namun yang akan bertunangan tak kunjung datang ke acara. Padahal Alfan sudah pergi lebih dulu. Melvin mencoba menyembunyikan ekspresi wajah gugupnya agar tidak ketahuan oleh sang ayah.
"Melvin Dinka sinih" panggil Arya. "Ini anak kandung saya ini istrinya dan yang akan bertunangan malam ini abangnya dia" Arya memperkenalkan anak dan menantunya pada kolega-kolega bisnisnya dari luar negeri. Mereka pun bercakap ria seputar bisnis. Dinka hanya mendengarkan karena tidak tau hal mengenai bisnis.
Calon besannya pun datang. Arya dan Sarah menyambutnya. Setelah memperkenalkan pada keluarga yang lain mereka melanjutkan bercakap ria. Armand dan istrinya datang sedikit terlambat. Armand menggandeng sang istri menghampiri ke arah Arya.
Gelas yang ada ditangan Siti terjatuh. Seketika pandangan semua orang tertuju padanya. Dinka juga ikut menatap sang ibu. "Ada apa bu?" tanya Rama yang berada di sebelahnya.
Pandangan mata Siti tertuju pada Armand dan istrinya. Dia sama sekali tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan lelaki yang sudah membuatnya menderita cukup lama.
Airmata Siti jatuh ke pipi. Armand tercengang melihat wanita yang sudah ditinggalkannya dulu. Tanpa berkata apapun Siti berlari keluar dari aula hotel. Dinka melihat sang ibu dan mencoba mengejarnya. Tapi tangan Melvin sigap menahan sang istri.
"Pasti ada yang terjadi sama ibu vin" ucap Dinka mulai kebingungan. Melvin pun mengajak Dinka untuk mengejar ibunya. Terlihat Rama mendengarkan ucapan sang istri. Dinka mendekat dan bertanya "ibu ada apa?".
__ADS_1
"Ibu mau pulang, ibu tidak mau disini lagi" jawab Siti dengan cepat. Rama mengelus pundak sang istri. "Dia melihat ayah kandung kamu ndo" jelas Rama. Dinka terkejut mendengar ucapan ayah tirinya.
"Ayah kandung Dinka?" tanya Melvin. Dinka dan Melvin saling berpandangan satu sama lain.