Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
51. Sekilas tentang Bobby


__ADS_3

Bobby menemui gadis yang di jodohkan denganya oleh papah Armand. Dia anak sulung dari keluarga yang kaya raya. Namun ibunya menikah lagi dengan pria lain sewaktu dirinya masih kecil. Sehingga ayah yang sekarang bukan ayah kandungnya.


Namun papah Armand ini merupakan ayah yang baik pada dirinya. Dia punya adik tiri perempuan yang sudah remaja. Adiknya mewarisi wajah sang ayah. Bila dilihat bagi Bobby sekilas mirip Dinka.


Dia juga mencari tau latar belakang sang ayah tiri. Namun hasilnya belum mendapat info yang jelas.


Dia bersikap baik pada wanita baik dan berpura-pura baik pada wanita yang licik. Selama hidup diluar negeri dia mampu membedakan mana wanita yang baik dan mana wanita licik.


Bobby sudah hapal benar akan hal itu. 'Baiklah permainan dimulai' gumam Bobby dalam hati.


Setelah berjalan-jalan Bobby mengantarkan calon tunangannya kembali. "Makasih ya sayang udah mau kasih aku tas yang bagus" ucap Si wanita.


Dikejauhan Alfan sedang mengintai tunangannya yang berselingkuh. Namun kali ini dia tidak berhasil melihat siapa pria yang bersama Serin. Alfan memukul setir mobil. Dia benar-benar geram melihat Serin dengan pria lain.


"Masuklah" ucap Bobby. Dia melajukan mobilnya dengan cepat karena sudah tau dibuntuti oleh seseorang. Bibirnya tersenyum puas. Mobil yang mengikutinya tidak berhasil mengejar.


Ponselnya berbunyi nama Reta muncul dilayar. Bobby mengangkatnya. Spontan suara cempreng Reta terdengar. "Heh bego" ucap Reta dari seberang telpon.


Bobby yang mengenakan earphone langsung membuka dan membuangnya. Dia menepikan mobilnya di pinggir jalan.


"Apaan sih suara loe tuh kaya kodok kegencet tau gak" gerutu Bobby sambil menutup telinga. "Heh gue udah nunggu loe lama kenapa belum dateng juga sih" Reta berteriak diseberang telpon.


"Iya gue lagi kesana nih buat jemput loe" jawab Bobby. "Buruan" teriak Reta sambil menutup teleponnya. "Galak banget" ucap Bobby sendiri.

__ADS_1


Sampai dikampus Reta langsung berlari ke mobil Bobby dan mengajak Bobby kerumahnya. Belum juga Bobby melepas sabuk pengamannya namun Reta sudah masuk kedalam mobil.


"Ayo cepat kita kerumah gue" Reta memasang sabuk pengamannya. "Ngapain?" tanya Bobby bingung. Reta mendengus kesal.


"Buruan" jawab Reta mengeraskan suaranya sambil melotot. Bobby menuruti saja perkataan Reta.


Sampai di depan rumah keluarga Tama. Reta turun dari mobil dan berlari kelantai atas untuk menemui Dinka. Bobby dengan santainya berjalan masuk.


Pelayan melihat Bobby dengan kagum. Bobby termasuk pria yang tampan. Namun lebih tampan sang majikan pastinya. "Selamat sore tuan" sapa salah satu pelayan.


Bobby mengangguk sembari tersenyum. Matanya melihat kesekitar rumah yang besar dan megah itu. 'Jadi Reta anak konglomerat juga' gumam Bobby dalam hati.


"Tuan mau minum apa?" tanya pelayan yang kedua kali. Bobby baru tersadar dari lamunannya sambil melihat seisi rumah. "Oh apa saja" jawabnya tersenyum.


Alfan dan Melvin pulang dari kantor. Alfan merasa tidak asing dengan mobil yang terparkir di bagasi depan rumah. Beberapa pelayan dirumah ada yang bertugas menyambut Melvin dan Alfan pulang kerja.


Melvin melangkahkan kakinya kedalam kamar. Alfan sibuk mencari siapa yang punya mobil itu. "Bi ada tamu ya?" ucap Alfan lirih.


"Ada tuan sepertinya temannya non Reta tapi kali ini cowok tuan" jawab bi Nah antusias. Alfan menyatukan alisnya. "Cowok?" tanya Alfan memastikan.


"Iya tuan" jawab bi Nah tersenyum. Alfan mendekat kearah pintu belakang rumah. Matanya melihat kesetiap taman. Dia berhasil melihat seorang pemuda yang terbilang tampan. Dan mengira itu pasti pacarnya Reta.


Makan malam sudah tersedia dimeja. Jarang bagi keluarga itu berkumpul makan malam dirumah. Karena sering kali hanya Dinka yang makan malam seorang diri semenjak mertuanya pergi berobat. Melvin dan Alfan juga jarang makan malam dirumah.

__ADS_1


Melvin dan Alfan kompak menatap kearah Bobby disebelah Reta. Mereka mulai mengunyah makanan. "Siapa dia pacarmu?" tanya Alfan penasaran. Reta tidak menjawab.


"Lain kali tidak usah bawa pacar mu kerumah" kali ini Melvin yang berucap. Namun matanya melihat kedepan pada makanan.


"Pacar apanya" gerutu Reta. "Dia teman kami dikampus kak" jawab Dinka dengan cepat. Melvin melirik istrinya sambil mengunyah.


"Siapa yang mengizinkan mu berteman dengan lelaki" sahut Melvin. Wajahnya terlihat serius dan dingin.


Dinka menatap kembali makanannya dan langsung memasukan makanan kemulut tanpa berani menjawab suaminya. "Hey kau cemburuan sekali pada istrimu" ledek Alfan.


Bobby hanya bisa terdiam dan menikmati makanannya. "Anak muda apa yang kau suka dari adik tomboi ku itu? Bukankah wajahnya terlihat sadis dan galak" ucap Alfan.


"Kak Alfan" sahut Reta. Dinka tersenyum geli mendengar ucapan yang dikatakan Alfan memang benar. Bobby hanya merespon dengan senyuman.


"Kalau kamu memang suka pada adikku jangan pernah sakiti dia, kalau sampai adik tomboi ku menangis kau harus bersiap jadi kambing guling" ucap Alfan. Bobby hanya mengangguk. Biarlah dia dikira pacarnya Reta. Itu tidak masalah baginya.


Seusai makan malam Bobby dan Reta berpamitan. Sebagai lelaki yang baik dia menyalami tangan Alfan. Berbeda dengan Melvin sehabis makan malam langsung menuju keruang kerjanya.


Dinka mengantar sampai depan rumah. Alfan mengekori dari belakang. "Sepertinya Reta mulai membuka perasaannya untuk lelaki" ucap Alfan dari belakang badan Dinka.


Dinka menengok kearah kaka iparnya. "Mereka hanya teman kak kita akrab dikampus. Tapi yang lebih akrab dengan Bobby ya si Reta" sahut Dinka.


"Aku dengar kamu hamil selamat ya" ucap Alfan sembari menyalami tangan Dinka. "Terimakasih kak" jawab Dinka.

__ADS_1


"Wah sebentar lagi aku akan punya keponakan dong nih" ledek Alfan sambil mengangkat alisnya. Dinka tersenyum lebar. Jantung Alfan kembali berdetak cepat. Dia segera membuang mukanya dan berbalik kearah lain. Langkahnya begitu cepat meninggalkan Dinka didepan rumah. Dinka mengernyit melihat tingkah Alfan.


__ADS_2