Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
202. Insiden #2


__ADS_3

Bobby terbangun dengan mata masih memerah. Sejak tadi ponselnya terus berbunyi. Banyak panggilan tak terjawab dari Alfan maupun kepala pelayan keluarga Aryatama.


Tangannya mengucek mata karena masih merasa perih akibat mengantuk. Suara dering ponsel bergantian dengan gedoran pintu kamar. "Bobby bangun" ucapan dari ayah sambungnya membuat Bobby tersentak kaget.


"Bobby bangun...Bobby bangun" suara teriakan dari ayah disertai ketukan pintu berirama cepat. Sambil menguap Bobby berjalan menuju pintu kamar dan membukanya. "Iya pah ada apa?" Bobby bertanya dengan santai.


"Kamu ini kalau sudah tidur kaya badak susah sekali di bangunkan" gerutu Armand. "Bobby kan kurang tidur pah belakangan ini" jawab Bobby dengan entengnya. Matanya masih merem melek. Tapi tersadar.


"Kamu gak jawab telpon dari Alfan?" tanya Armand penasaran. "Ada apa si pah? kaya nya serius banget" sahut Bobby sambil menggaruk badannya. "Heh, sadar dulu" Armand menggoyangkan badan anak sambungnya itu.


"Reta masuk rumah sakit lagi. Dia memotong tangannya" ucapan dari Armand belum sepenuhnya di tanggapi oleh Bobby. "Ya biarin aja pah mungkin Reta mau buat sup ayam kali" sahut Bobby.


Armand hanya geleng-geleng kepala. "Calon istri kamu mau bunuh diri Bobby!!" Armand menekankan pada setiap perkataannya. Agar Bobby sadar dari rasa kantuknya yang tinggi.


Seketika mata Bobby langsung membulat sempurna. "Apa?" tanya Bobby.


"Reta masuk rumah sakit" sang ayah berucap sambil merasakan jengkel. "Punya anak cowok kok gini amat ya" keluh Armand.


Bobby langsung berlari menuruni anak tangga. Dia lupa bahwa kunci mobil masih berada didalam kamar. Untung lah sang ayah sambung mengejar Bobby sembari melemparkan kunci ke tangannya.


"Bobby tangkap" kata Armand sambil melempar kunci mobil. Tapi lemparannya tidak tepat sasaran. "Aduh papah kurang kenceng lemparnya" Bobby segera mengambilnya dan berlari. Disaat genting pun Bobby masih saja mengeluh.


Tanpa sadar dia hanya mengenakan kolor dan kaos biasa. Karena baru saja bangun tidur. Sandalnya pun tertukar satu sama lain.


"Ah bodo amat deh penampilan acak-acakan yang terpenting kondisi Reta" gumam Bobby bicara sendiri. Saking cepatnya mengemudi Bobby sampai di rumah sakit. Untung saja keadaan di jalan pagi ini tidak macet parah seperti biasa.

__ADS_1


Langkahnya langsung menuju ke ruang icu. Karena pasti Reta berada disana. Melihat Alfan dari kejauhan membuat Bobby langsung lari kocar-kacir. Nafasnya sampai terengah-engah.


Alfan dan Melvin langsung menatap kearah datangnya Bobby. "Kakak bagaimana kondisi Reta?" tanya Bobby sambil mengambil nafas pelan-pelan.


"Kamu tenang dulu, dia masih di periksa oleh dokter" jawab Alfan. Melvin hanya menatapnya tajam dalam diam.


"Kak kenapa bisa jadi begini? Ya ampun Reta" tubuh Bobby seketika jatuh kelantai rumah sakit. Alfan menarik tubuh Bobby agar kembali berdiri. "Tenang banyakin istighfar Bob, Reta pasti baik-baik saja" ucapan Alfan membuat Bobby sedikit tenang.


Airmatanya mengucur deras membasahi pipi dan sekitar mata. Disertai dengan air keringat karena berlari. "Kak aku gak sanggup kalau Reta kenapa-napa" keluh Bobby disela tangisannya.


"Kamu tenang jangan mikir macam-macam" Alfan sedikit memukul punggung Bobby. Agar Bobby tidak panik berlebihan. Ada perawat yang melewati mereka si barisan pria tampan. Tapi satu yang membuat perawat tersenyum. Karena sandal Bobby yang berbeda satu sama lain.


"Kamu bisa-bisanya memakai sandal yang berbeda sih" gerutu Alfan. "Aku tadi gugup banget kak" Bobby sedikit tenang sekarang.


"Duduklah" kata Alfan sembari mendudukkan Bobby di sebelah Melvin. "Tenang ya kita tunggu kabar dari dokter" Alfan kembali menepuk pundak Bobby.


"Golongan darahnya apa ya dok?" tanya Alfan. "Golongan darahnya b positif. Apakah disini ada yang golongan darahnya sama?" tanya sang dokter.


Ketiga lelaki di hadapan dokter saling menatap satu sama lain secara bergantian. "Tidak dok" jawab Alfan mendahului. "Kami sudah menghubungi pihak bank darah namun hanya ada satu kantong untuk jenis golongan darah itu. Dan pasien butuh paling tidak tiga kantong darah" jelas pak Dokter.


Alfan menghela nafasnya dengan berat. Serasa masalah kian hari bertambah saja. "Baiklah kita akan mengusahakan mencarinya dok" timpal Melvin.


Kini mereka merasa bingung. apalagi golongan darah itu lumayan jarang. "Kak Melvin bukannya waktu dulu kaka ipar pernah mendonorkan darah untuk almarhumah" celetuk Bobby. Alfan menggelengkan kepala memberi kode pada Bobby untuk tidak mengatakan apapun pada Melvin.


Tapi Bobby sudah berkata dengan cepat. "Beda jenis golongan darahnya" jawab Melvin sambil termenung. "Golongan darah Dinka ab- bukan b+" ungkap Alfan menyahuti.

__ADS_1


Jam dinding berdetak dengan cepat. Tapi ketiga lelaki tampan itu masih merasa betah menunggu satu wanita spesial.


"Melvin kau pulanglah pasti Dinka cemas menunggu mu" saran Alfan. Karena sejak tadi memikirkan sang adik Melvin lupa akan sang istri. Mungkin saking paniknya. Melvin menanggapi dengan anggukan.


"Kak Alfan juga pulang saja. Biar aku yang berjaga disini" Bobby menawarkan diri. Alfan memandangi Bobby sejenak sebelum berucap. Yang ditatap pun menjadi salah tingkah.


"Kau ini kenapa terlalu baik sih" Alfan menepuk-nepuk pundak Bobby. "Terimakasih" ucap Bobby sambil mencoba tersenyum. "Kalau ada sesuatu segera hubungi aku atau Melvin ya" pinta Alfan. Anggukan dari Bobby tanda mengerti.


Alfan bersiap untuk pergi ke kantor bersama Melvin. Tapi Melvin bersikukuh untuk menyuruh Alfan ikut menjaga Reta. Di antarlah sang kakak kerumah sakit.


"Kamu yakin bisa menanganinya sendiri?" tanya Alfan memastikan. "Untuk masalah pekerjaan aku bisa menghandle nya. Kakak temani Bobby menunggu Reta saja" Melvin kembali melajukan mobilnya. Sang kakak hanya diantar sampai depan rumah sakit.


Siang pun berganti sore. Waktu berlalu begitu cepatnya. Melvin yang di sibukkan pekerjaan itu hanya berdiam didalam ruangannya selama waktu kerja. Sampai makan siang pun Silma yang memesankan. Karena saking banyak nya pekerjaan yang menumpuk. Bila di tunda esok-esok pasti akan tambah menumpuk lagi.


"Silma masuk" perintah Melvin melalui sambungan telepon. Silma merapihkan kemeja yang dikenakan. "Permisi pak" Silma mengetuk dan melangkah masuk.


"Ada apa ya pak?" tanya Silma dengan senyuman. "Hari ini kalian lembur ya" jawab Melvin tanpa menatap. Fokus matanya tertuju pada laptop.


"Tumben banget pak bos minta lembur" batin Silma. "Oh iya pak baiklah" Silma undur diri. Langkahnya kembali menuju tempat kerjanya. Dalam hatinya merasa heran karena Melvin sangat jarang menyuruh mereka untuk lembur di kantor.


Arloji mewah yang membulat di tangan Melvin sudah menunjukan pukul tujuh malam. Kini sudah waktunya dia pulang.


Silma melihat pak bos nya keluar dari ruang kerja. "Apa kita pulang sekarang pak?" tanya Silma dengan nada hati-hati. Melvin hanya menatap kedua sekretarisnya. Vasi malah fokus melihat wajah tampan bosnya itu.


"Kalian pulang nanti jam 8 bersamaan dengan tim sebelah" ucap Melvin secara gamblang. Silma mengerutkan dahinya. Pertanda mereka hanya berdua saja di lantai teratas gedung perusahaan. "Pak yang benar saja" keluh Silma tidak sengaja.

__ADS_1


Melvin hanya menatapnya dan berlalu pergi. Tanpa rasa bersalah meninggalkan dua sekretarisnya untuk bekerja lembur. "Kenapa sih kak Silma kan enak kerja lembur jadi gajinya bertambah" ungkap Vasi dengan riang.


"Heh kita di sini cuma berdua doang" gerutu Silma yang sedikit takut. Berbeda dengan Vasi yang pemberani asalkan gajinya bertambah.


__ADS_2