Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
149. Diamnya sang istri


__ADS_3

Burung berkicauan tanda pagi hari telah tiba. Reta bersiap-siap untuk berangkat ke kantor milik keluarga sang kekasih. Hari ini hari pertamanya untuk pergi magang. "Hm udaranya cukup sejuk" ucap Reta sembari membuka jendela kamarnya.


Melihat di meja makan tak ada satupun orang yang duduk. Reta berjalan menuju kamar sang kakak. "Kak Melvin sarapannya sudah siap tuh" Reta mengetuk pintu kamar Melvin. Tidak lama kemudian Melvin muncul didepan pintu dengan mata sembab. "Kak Melvin tidak apa-apa?" tanya Reta yang bingung melihat wajah tampan sang kakak yang pucat.


"Apa kakak sakit?" tanya Reta lagi. Tangannya memegang kening sang kakak untuk mengecek suhu badan. Kakinya berjinjit untuk menggapai kening sang kakak karena tubuh kakaknya yang lebih tinggi dari Reta.


"Kamu apa-apaan sih" Melvin menangkis tangan Reta. "Kirain kakak sakit, habisnya mata kakak sembab" jawab Reta.


"Kakak mau mandi dulu, kamu tunggu di meja makan" ucap Melvin. Reta mengiyakan ucapan sang kakak dan berjalan menuju ruang makan. Terlihat kakak pertamanya datang dengan raut wajah yang lelah. "Kak Alfan kok pulang sepagi ini? Terus yang jaga Dinka siapa?" tanya Reta.


"Sudah ada bi Nah tadi pagi buta kesana dengan membawa baju gantinya Dinka" jawab Alfan sembari mendudukan pantatnya ke kursi. "Mana Melvin?" tanya Alfan.


"Tadi lagi mau mandi katanya" jawab Reta. "Kakak kira mau mogok makan dia" sahut Alfan. Kini dia memulai sarapannya terlebih dulu karena sudah lapar. Semalam dia tidak tidur untuk menjaga Dinka dirumah sakit. "Kak Alfan ada mata pandanya tuh" ledek Reta. "Biarin namanya juga jagain orang sakit ya gak tidur lah" sahut Alfan.


Suara mobil mendekat kearah rumah megah dan mewah milik keluarga Tama. Bobby memarkirkan mobilnya di halaman rumah. "Kekasih tomboi ku sayang" panggil Bobby dengan suara yang lantang dan keras. Karena Reta tidak mendengar jadi Bobby mengulanginya terus sampai batang hidung kekasihnya nampak. "Berisik tau" bentak Reta. "Hehehe habisnya kamu gak denger-denger sih" ujar Bobby cengengesan. "Pagi-pagi gini teriak-teriak dirumah orang malu-maluin" gerutu Reta.

__ADS_1


"Ini kan bakalan jadi rumah aku juga nantinya kalau kita sudah menikah sayang" jawab Bobby dengan antusias. "Ayo berangkat, kamu jemputnya terlalu pagi jadi aku gak bisa sarapan dulu" keluh Reta memarahi sang kekasih.


"Ya sudah ayo aku ajak kamu sarapan dulu ditempat biasa langganan kita" Bobby memperlihatkan senyum terbaiknya. Reta hanya tersenyum malas menanggapinya.


Melvin langsung pergi kerumah sakit untuk bergantian jaga dengan sang kakak. Sedangkan Alfan bergantian masuk kerja kekantor. Karena sudah cukup lama dirinya tidak berangkat kerja. "Wah suasananya sudah beda, tapi bau ruangannya masih sama" Alfan mencium aroma wangi ruang kerjanya yang terletak di samping ruang kerja Melvin.


Melvin memang sengaja merubah ruang kerja sang kakak menjadi lebih modis dan elegan sesuai selera Alfan. "Selamat pagi pak Alfan" sapa Silma sekretaris Melvin. "Pagi, kamu masih betah kerja disini?" tanya Alfan untuk meledek Silma. "Ya masih lah pak kan saya butuh uang, butuh cicis" jawab Silma dengan lugas sembari tersenyum lebar.


Melihat Silma dirinya menjadi teringat akan sosok sang pujaan hati yaitu Enzi yang kini sedang berada di Singapura. Betapa sesak hatinya bila ingat dengan wanita itu. Alfan melonggarkan sedikit dasinya agar tidak terlalu mencekik lehernya. "Kenapa pak?" tanya Silma yang melihat Alfan melonggarkan dasi.


"Mulai sekarang untuk sementara saya yang akan memegang kendali atas perusahaan. Bila ada klien yang penting dari luar negeri baru Melvin yang turun tangan sendiri" jelas Alfan. "Baik pak siap" ucap Silma dengan semangat.


"Iya itu saya yang memecatnya" ujar Alfan dengan cepat. Silma sedikit terkejut dengan ucapan Alfan. "Kenapa pak?" tanya Silma penasaran.


"Kamu ingin tau lebih lanjut atau ingin seperti wanita itu?" tanya Alfan balik. "Maksudnya pak?" tanya Silma dengan wajah gugup. "Kalau kamu ingin tau alasannya kamu tidak usah bekerja lagi disini" ancam Alfan dengan tatapan yang serius. "Iya pak maaf, saya khilaf. Mungkin itu bukan urusan saya" ucap Silma tersenyum semanis mungkin.

__ADS_1


'Sejak kapan pak Alfan jadi serius dan menakutkan seperti ini ya biasanya waktu dulu tidak seperti ini' batin Silma. "Hey kenapa malah melamun" Alfan melambaikan tangannya didepan wajah Silma. Sampai Silma terkejut dan sadar dari lamunan.


"Kalau tidak ada yang mau di beritahukan kamu boleh keluar" ucap Alfan. "Iya pak permisi" Silma bergegas keluar dari ruang asisten presdir dengan cepat.


Dirumah sakit Melvin belum berani masuk kedalam ruang rawat Dinka. Didalam sudah ada bi Nah yang menemani istrinya. Terlihat Dinka begitu gembira mengobrol dengan bi Nah. Jikalau saja Dinka juga mau berbincang dengan dirinya seperti itu mungkin Melvin akan merasa sangat lega. Namun sayangnya sang istri belum mau berbicara dengan Melvin.


"Sayang aku harus bagaimana supaya kamu maafin aku dan percaya bahwa aku gak akan menghianati kamu lagi. Kejadian itu sama sekali tidak disengaja" ucap Melvin pada diri sendiri sembari melihat kedalam ruang rawat sang istri. "Sabar ya bro" terdengar suara yang khas dari arah belakangnya. Ternyata itu suara Ronald yang menyahuti perkataannya. "Ronald, sejak kapan loe datang?" tanya Melvin dengan tegas.


"Sedari tadi gue udah disini, loe nya aja gak sadar" ungkap Ronald. Melvin bingung dari mana Ronald tau dan bertanya "dari mana loe tau istri gue dirawat disini?"


"Kemaren kakak angkat loe datang ke rumah gue, disana dia ketemu Serin dan marahin Serin habis-habisan. Jadi gue cari tau ada apa kerumah loe dan kata pelayan istri loe dirawat disini. Ya gue langsung kesini lah" jelas Ronald panjang lebar. "Kak Alfan marah-marah sama Serin?" tanya Melvin lagi.


"Iya dia marah-marah sama Serin. Kenapa loe gak terima Alfan marahin Serin?" ledek Ronald. "Gila ya loe buat apa gue gak terima, kenapa gak dikirim aja sekalian tuh cewek ke kutub biar gak nampak lagi" Melvin menonjok bahu Ronald namun tidak keras. Hanya sebatas bentuk tidak terima.


"Iya-iya Serin gak bisa dapetin loe dan kakak loe dia ngincer gue sekarang. Dan bodohnya gue terlena sampai hamilin dia lagi" ungkap Ronald sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.

__ADS_1


"Bukannya loe emang suka sama dia dari waktu kuliah. Sudah lah ngapain juga bahas tuh cewek gak penting banget" gerutu Melvin.


Kedatangan Ronald kerumah sakit untuk menjenguk istri teman karibnya itu. Niat lainnya dia memang ingin bertemu dengan Dinka. Karena cukup lama Ronald tidak bertemu dengan istri Melvin. Ronald sedikit tertarik pada Dinka. Mungkin bila Dinka belum menikah Ronald pasti akan mengejar Dinka sampai dapat.


__ADS_2