Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
137. Insiden kecil


__ADS_3

Sampai di kantor Melvin di sambut seperti biasa oleh sekretarisnya. Sudah lama Silma hanya bekerja seorang diri sampai kewalahan karena saking banyaknya yang harus di kerjakan. Sampai-dampai menyambut bosnya saja dia lari terbirit-birit dari lantai tertinggi di gedung tersebut. "Selamat pagi pak" sapa Silma dengan keringat di keningnya. "Kamu habis marathon ya?" tanya Melvin. "Iya nih pak dari lantai paling atas sampai loby" jawab Silma cengengesan. "Bagaimana beberapa hari ini?" tanya Melvin.


"Banyak kerjaan pak bos seperti biasa kalau pak bos libur beberapa hari kan pekerjaan numpuk, apalagi saya bekerja seorang diri kan pak sekarang" keluh Silma panjang lebar. Melvin berjalan menuju lift di ekori oleh sekretarisnya. Biasanya para petinggi perusahaan juga ikut menyambut namun karena Melvin dikira masih libur jadi mereka tidak tau keberangkatan bos nya itu. "Pak Melvin jalannya cepet banget sih" gerutu Silma lirih.


Benar dugaan Melvin sudah banyak dokumen dan berkas menumpuk di mejanya. Silma belum lama duduk manis di kursi kejayaannya namun sudah di panggil oleh sang bos. "Silma cepat masuk" panggil Melvin dari telepon.


Langkah kakinya bergegas masuk kedalam ruang kerja Melvin. "Siap pak, ada apa ya?" tanya Silma. "Atur jadwal meeting untuk bahas perencanaan pembukaan perusahaan cabang yang baru ya" suruh Melvin. "Bukannya itu minggu depan ya pak?" tanya Silma lagi. Melvin sedang membolak-balikkan dokumen. "Saya mau secepatnya tidak minggu depan" ucap Melvin tanpa menoleh ke arah Silma. "Baik pak" sahut Silma.


Tanpa pikir panjang Silma pun akhirnya mengatakan bahwa dia butuh rekan untuk membantunya dalam bekerja. "Pak saya mau minta sesuatu boleh tidak?" tanya Silma dengan nada yang halus.


"Apa?" tanya Melvin balik masih dengan mata tertuju pada kertas di hadapannya. "Itu pak, saya merasa kewalahan menangani pekerjaan saya sekarang, saya butuh teman kerja pak biar ada yang membantu pekerjaan saya" jelas Silma dengan hati-hati.


Melvin masih terdiam sejenak. Silma gugup menunggu jawaban dari bos tampannya itu. 'Bila meminta pada pak Alfan pasti langsung dibolehkan. Coba pak Alfan ada disini' batin Silma. "Bisa, kamu rekrut aja sendiri. Jadi kriterianya seperti apa yang kamu mau. Tapi pastikan harus betah dan bekerjanya harus tekun" ucap Melvin.


"Baik pak saya akan urus sendiri, kalau begitu terimakasih" Silma berkata dengan girang. "Kalau begitu saya permisi dulu ya pak". Langkah kakinya perlahan keluar dari ruang kerja Melvin. "Nah dengan begini kan aku tidak usah repot harus lembur sampai malam lagi" ucap Silma pada sendiri.

__ADS_1


Di lain tempat Bobby menunggu sang adik dengan sabar. Dia di ajak belanja oleh adik pertamanya. Tangannya penuh dengan tas belanja milik sang adik. "De masih mau beli apalagi, ini udah banyak lho" gerutu Bobby. "Kak Bobby ngoceh terus sih dari tadi, baru juga di ajak aku belanja" sahut sang adik.


"Kakak ada janji sama pacar kakak, masa harus nemenin kamu belanja terus sih" keluh Bobby. Sang adik merebut tas belanja dari tangan Bobby. "Yaudah kaka sana pergi, aku bisa belanja sendiri" ucap Vera adik Bobby.


"Ayo kakak temenin kamu tapi jangan lama-lama ya" Bobby pun mengalah pada sang adik. Seutas senyuman manis terhias di bibir Vera.


"Kak Bobby masih awet ya pacaran sama kaka tomboi" ucap Vera. "Masih lah kan kakak cinta sama dia" sahut Bobby. "Masalah anaknya papah sama papah gimana kak udah selesai belum?" tanya Vera. "Kamu ini ingin tau aja urusan orangtua, mana kakak tau. Kamu tanya sendiri sama papah" jawab Bobby.


Puas berbelanja Bobby mengantarkan sang adik pulang dan lanjut menjemput Reta kerumahnya. "Bi Reta udah pulangkan?" tanya Bobby. "Lah bukannya tadi di jemput sama tuan Bobby ya" ucap seorang pelayan. "Kalau aku udah jemput Reta mana mungkin aku datang lagi kesini" gerutu Bobby.


"Nah ada kakak ipar nih, tadi lihat Reta dijemput sama siapa kak?" tanya Bobby. "Reta pergi sama temennya Melvin yang rambutnya agak gondrong" ucapan dari Dinka sontak membuat Bobby kesal.


"Maksudnya Ronald?" tanya Bobby dengan lantang. Dinka hanya menganggukan kepala. "Emang kamu gak tau kalau Reta mau pergi sama Ronald, mereka sih bilangnya mau pergi cari ponsel" ungkap Dinka.


Bobby langsung marah dan berbalik pergi tanpa berkata apapun. "Kok nyelonong gitu aja sih, apa Reta gak ngasih tau Bobby ya" ucap Dinka pada diri sendiri. "Bibi juga gak tau non" namun salah satu pelayan menyahuti ucapan Dinka.

__ADS_1


"Oiya bi Nah dimana?" tanya Dinka. "Tadi bibi lihat lagi di teras belakang rumah non sama pak Mimin" jawab si pelayan.


Dinka mencari bi Nah untuk menemaninya pergi ke supermarket. "Bi Nah temenin aku belanja ya, aku mau beli beberapa keperluan" ucap Dinka.


"Mau beli apa memang non?" tanya bi Nah. "Bentar lagi kan Melvin ulang tahun yang ke 27 aku mau ngerayain bi. Aku mau masakin makanan kesukaannya dia" jawab Dinka. Tanggal ulang tahun Melvin tidak jauh dari Reta dan dibulan yang sama.


"Wah pasti tuan muda bakalan seneng nih dimasakin sama nona" puji bi Nah. "Nah makanya itu aku mau pilih sendiri bahan-bahannya bi" jawab Dinka dengan antusias.


"Baiklah bibi siap-siap dulu non" bi Nah langsung bergegas kedalam kamar untuk berganti baju. Sedangkan Dinka menunggu di teras depan rumah bersama sopir pribadi Melvin.


Setibanya di supermarket Dinka langsung menuju kebagian sayur mayur. Dengan teliti tangannya memilah bahan-bahan makanan. Sakit diperutnya mulai terasa kembali. Tapi tidak terlalu di rasakan oleh Dinka. Tangannya mengusap perut buncitnya. Bi Nah melihat hal itu dan langsung bertanya pada istri majikannya itu.


"Non apa ada yang salah?" tanya bi Nah. "Gak tau kenapa perut aku kaya kram gitu bi" jawab Dinka. Tangannya masih terus mengusap perut. "Apa gak sebaiknya kita pulang saja non, bibi takut nona kenapa-napa" bi Nah begitu khawatir pada Dinka.


"Engga bi, ini gak terlalu sakit kok" Dinka masih bersikeras tidak mau pulang. Langkahnya pun kembali berjalan mendorong keranjang belanjaan. Dan benar saja dugaan pelayannya, sontak Dinka langsung jatuh pingsan. Melihat majikannya pingsan bi Nah meminta tolong pada pengunjung yang lain.

__ADS_1


Dengan segera Dinka dibawa kerumah sakit dengan menggunakan ambulan.


__ADS_2