Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
155. Sebuah drama yang manis


__ADS_3

Pagi hari Dinka membesuk sang suami dirumah sakit bersama bi Nah. Kini yang menjaga Dinka dimana pun dan menemaninya adalah bi Nah. "Bi Melvin marah gak ya padaku?" tanya Dinka. "Kenapa juga harus marah non. Justru tuan muda akan senang sekali nona sudah mau menjenguknya" jawab bi Nah. Dinka berjalan di lorong rumah sakit di buntunti si pelayan. "Tapi bibi tau sendiri bagaimana temperamennya Melvin. Aku takut bi" Dinka menghadap ke belakang menatap bi Nah. "Ayo non tidak usah takut. Tuan Melvin takkan marah" ucap bi Nah tersenyum.


Dinka sedikit merasa canggung pada sang suami karena telah mengacuhkannya beberapa hari. "Tapi bi..." sambungnya lagi. Bi Nah hanya tersenyum sembari menggandeng tangan majikannya.


Sampailah didepan pintu ruang rawat Melvin. Dinka kembali menghentikan langkahnya. "Kenapa lagi non?" tanya bi Nah. "Bibi saja dulu yang masuk" pinta Dinka. "Ya nona lah yang masuk bibi nunggu diluar saja. Lagian didalam juga ada tuan Alfan yang menjaga tuan Melvin" sahut bi Nah.


Dinka memantapkan langkahnya dan berjalan masuk kedalam. Matanya celingukan mengintip dari balik pintu. Terlihat Alfan dan Melvin yang masih tertidur pulas. "Masuk engga...masuk engga" ucap Dinka pada diri sendiri. Bi Nah tersenyum tipis melihat tingkah laku Dinka yang aneh. "Masuk saja non" saran bi Nah sembari mempersilahkan. "Iya bi" namun Dinka masih saja tetap berdiri didepan pintu. Bi Nah sedikit mendorong badan Dinka agar masuk kedalam. Pas disaat Alfan tengah meregangkan ototnya yang kaku.


"Adik ipar" sapa Alfan menengok kearah Dinka. "Datang pagi begini, kangen sama suami ya" ledek Alfan. Dinka manggut-manggut sambil cengengesan. "Ya sudah kakak akan pergi dari sini. Daripada jadi obat nyamuk" ucap Alfan dengan suara yang keras agar Melvin bangun. Alfan mencubit tangan sang adik.


Melvin pun bangun karena cubitan Alfan. Dan melihat kearah Dinka. Betapa bahagianya dan senangnya Melvin melihat sosok wanita cantik yang berperut buncit didepannya. "Sayang". Melvin bangun dari ranjang rumah sakit dan menghampiri sang istri. Begitu pula Dinka juga ikut mendekat pada Melvin.


"Makasih ya kamu sudah mau kesini" Melvin memeluk Dinka dan mencium puncak kepala istrinya dengan lembut. "Maaf ya vin" ucapan dari Dinka sontak membuat Melvin menjadi girang. "Harusnya aku yang minta maaf sayang" Melvin memegang pipi chuby Dinka.

__ADS_1


"Aku juga minta maaf udah cuekin kamu selama beberapa hari ini" sahut Dinka. Airmata jatuh membasahi pipi mulusnya. Karena merasa bersalah sudah membuat Melvin depresi. "Aku yang harusnya minta maaf sayang sama kamu. Harusnya aku gak nyerah untuk membuat kamu percaya sama aku lagi" ucap Melvin. Dinka di peluk seerat mungkin olehnya.


"Aku gak akan buat kamu sedih atau kecewa lagi sayang" imbuh Melvin sembari mengelus rambut Dinka di dalam pelukannya. Dinka merasakan kehangatan pelukan dari sang suami. "Ini perut aku minta di elus juga" ucap Dinka dengan manja.


Melvin beralih pada perut sang istri dan menciumnya. Drama yang terjadi didalam ruang rawat menjadi atmosfir yang hangat mengisi ruangan tersebut. Bi Nah dan Alfan tersenyum lega atas hubungan Melvin dan Dinka yang sudah membaik.


"Syukurlah mereka sudah saling memaafkan dan akur lagi ya bi" ucap Alfan tersenyum. Matanya masih fokus melihat kedalam ruang rawat Melvin. Begitu pula bi Nah yang ikut tersenyum lega. "Sepertinya kekuatan cinta diantara mereka begitu kuat tuan" sahut bi Nah.


Alfan jadi teringat dengan Enzi. Kekasihnya itu yang menyerah begitu saja dengan hubungan mereka. Namun ada suatu hal yang memang Alfan tidak tau. Itu dilakukan Enzi demi kelangsungan hidupnya dan anaknya. Arya mengancam akan membunuh anak yang sudah di kandung Enzi. Pilihan Enzi jatuh pada anaknya dan berpisah dengan Alfan.


Melvin tak henti-hentinya memandangi sang istri yang tengah duduk di sofa. Dinka sedang mengupas buah apel untuk dimakan Melvin. "Jangan lihatin aku terus, malu tau" gerutu Dinka. "Aku gak boleh lihatin istri aku sendiri" sahut Melvin.


Dinka mendekati Melvin sembari membawa nampan kecil berisi buah yang sudah dikupas. "Nih aaaaaa" Dinka menyuapi suaminya. Melvin menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Pakai ini dong" Melvin menunjuk bibirnya minta disuapi lewat mulut.

__ADS_1


"Gak mau" Dinka menolak permintaan sang suami. Melvin merebut potongan apel dari tangan Dinka dan meletakkan di mulutnya sendiri. Tangannya meraih pipi sang istri dan mencium bibirnya. Melvin memasukan apel lewat mulutnya kedalam mulut Dinka. Spontan Dinka mendorong tubuh Melvin namun gagal. Ciuman Melvin semakin mendalam membuat Dinka terbuai. Mungkin bila bukan dirumah sakit keduanya sudah melakukan hubungan yang intim dan penuh kehangatan.


Dinka terus mencoba melepaskan ciuman sang suami. Namun Melvin terus menciumnya dengan lahap. Setelah puas Melvin baru melepaskan tautan bibirnya dari bibir Dinka. "Melvin kamu keterlaluan" keluh Dinka sambil mengusap bibirnya yang dipenuhi air liur suami. "Kenapa gak di tampar lagi" Melvin mendekatkan pipinya pada sang istri.


"Ingin ditampar lagi?" tanya Dinka tersenyum lebar. "Engga sayang ini aja masih berasa sakitnya" ledek Melvin sambil mengelus pipinya. "Makanya jangan main nyosor aja, udah tau aku lagi marah. Malahan nambahin sampai ke level yang paling tinggi" ungkap Dinka.


Melvin tertawa kecil mendengar ucapan sang istri. "Iya sayang maafin aku ya" Melvin memasang wajah imutnya. Bukan imut yang terpancar melainkan ketampanannya. Dinka mencubit hidung mancung milik sang suami. "Sayang sakit, perlahan dong dengan kelembutan dan kasih sayang napa" ucap Melvin dengan manja. Sudah cukup lama dirinya tidak bersikap manja pada sang istri. Biasanya dia yang sering memanjakan Dinka.


"Terus kamu mau pulang kapan?" tanya Melvin. "Pulang kemana?" tanya Dinka balik. "Ya kerumah kita dong sayang" Melvin memegangi kedua pipi Dinka. "Ya kalau kamu sudah pulang dari sini" jawab Dinka.


"Aku sudah baikan kok, kita pulang sekarang aja sekalian aku ingin minta jatah" ledek Melvin. "Apaan jatah? Jatah duit maksudnya" Dinka berkata dengan tegas dan lugas.


"Gak boleh nih" keluh Melvin memasang wajah memelas. "Waktu itu kata dokter boleh sayang justru jadi bisa melancarkan jalan buat bayinya" ungkap Melvin. Dinka mengernyit mendengar perkataan Melvin. "Kata siapa? Emangnya dokter Mirna bilang gitu?" tanya Dinka.

__ADS_1


Melvin geleng-geleng sambil berkata "aku baca di artikel". Dinka membesarkan kedua matanya. "Bilang aja kalau itu kamu yang pengen, pake acara kata dokter segala" gerutu Dinka. Melvin hanya cengengesan sambil memandangi sang istri meminta persetujuan. "Boleh ya sayang, sudah lama lho kita gak melakukannya" pinta Melvin.


Dinka tersenyum kecut sambil mengiyakan dengan bahasa isyarat. "Yes, ayo kita pulang sekarang" ajak Melvin sembari turun dari ranjang dan mencabut selang infus dari tangannya.


__ADS_2