
Dinka merasakan pegal disekujur tubuhnya. Banyak tanda merah yang dibuat oleh Melvin. Dinka meraih selimut dan berjalan kekamar mandi.
Wajah seram Melvin masih terbayang jelas dipikirannya. Sebenarnya bukan seram melainkan wajah dingin Melvin.
Karena dirinya ketakutan jadi wajah dingin itu berubah menjadi seram. Dinka kembali menangis di dalam bathup. Kenapa hidupnya yang sudah menyedihkan bertambah parah. Sudah terbebas dari Bella dan ibunya kini harus berhadapan dengan singa jantan setiap malam.
Sungguh membuatnya lelah. Entah sampai kapan kehidupan tragis itu dijalaninya. Bahkan lelaki yang dicintainya pun sudah raib diambil orang. Masih untung ada Reta yang mau menghibur dirinya.
Dinka menambah keras suara tangisannya. Kakinya di hentak-hentakan didalam air. Membuat air di bathup tumpah kesegala arah. Tidak akan ada yang tau dirinya menangis seperti anak kecil.
Karena pintu kamar mandi sedikit terbuka. Melvin lagi-lagi melihat tingkah istrinya yang konyol. Walaupun istrinya sedang menangis itu terlihat lucu baginya. Bibirnya tersenyum sebelah.
Dia mengambil ponselnya yang tertinggal didalam kamar. Dan beranjak turun kebawah. "Mana istrimu belum siap juga?" tanya sang bunda.
"Baru mandi bun" jelas Melvin mulai menyendokkan makanan kemulut. "Baru mandi itu berarti Dinka bangun kesiangan dong" sahut Alfan. Arya berdehem pada kedua putranya. "Kalau mau berbicara nanti setelah makan" tandas Arya.
Melvin hanya melirik kakaknya. Alfan tersenyum dilirik tajam oleh sang adik. Lirikan mata Melvin memang terlihat seperti elang ketika akan menerkam mangsanya.
"Ya sudah ayah berangkat dulu" Arya berpamitan dan diantar sampai keluar rumah oleh istrinya. Melvin dan Alfan meneruskan sarapan pagi.
Dinka langsung berlari keluar rumah setelah mendengar mobil Melvin. Dia menghela nafasnya. Pintu mobil di buka oleh pak Iwan dan Dinka masuk kedalam.
"Maaf terlambat" ucap Dinka mencoba untuk tersenyum. "Lain kali jangan sampai aku yang menunggu" timpal Melvin. Dinka mengangguk dengan cepat. Mobil melaju membelah jalanan kota. Dinka melihat keluar kaca mobil.
__ADS_1
Pemandangan yang sudah biasa dilihatnya. Hiruk pikuk kehidupan dikota mengingatkannya kembali pada keadaan desanya. Alangkah indah pemandangan desa ketika pagi hari. Udara yang sangat segar.
Dinka termenung bagaimana keadaan keluarganya dikampung apakah semua baik-baik saja. Terutama sang ayah tiri yang sangat dia rindukan.
Mobil sampai didepan gerbang kampus. Dinka menyalami tangan suaminya sebelum keluar mobil. "Bawakan makan siang kekantor" ucap Melvin.
Dinka terdiam sesaat. "Makan siang?" tanya Dinka bingung. "Tapi harus masakan mu" lanjut Melvin. Dinka masih belum konek. "Bawakan makan siang kekantor tapi harus masakanmu" Melvin mengulangi ucapannya.
"Baiklah" sahut Dinka. Mobil melaju kembali. Dinka masih berpikir kenapa tiba-tiba Melvin memintanya untuk membawa bekal ke kantor. Apa ada yang salah dengan suaminya itu.
Reta menyilangkan tangannya kedada dan menghampiri kaka iparnya. "Wooooiii teriak Reta didekat telinga Dinka. Dinka terkejut dan membalikkan badan menghadap Reta. "Kamu buat aku kaget aja" gerutu Dinka.
"Lagian masih pagi malah bengong ntar kesambet" Reta menarik tangan Dinka masuk ke kampus. "Ayo" ajaknya.
"Mungkin kak Melvin ingin mencicipi masakan loe kali" ujar Reta. "Eh iya kak Melvin kan gak sembarang mau makan" lanjut Reta. Dinka menoleh kearah sampingnya dan bertanya "Kenapa?".
"Wah jangan-jangan kak Melvin mulai ada perasaan nih sama loe" ledek Reta. "Bukan itu maksud aku ta" gerutu Dinka.
"Kak Melvin itu termasuk pilih-pilih makanan. Kalau bukan masakan pelayan yang dirumah paling dia hanya memakan masakan chef direstoran langganannya" jelas Reta.
"Hufftt emang semua kaka gue itu aneh, kak Alfan alergi sama seafood. Dan kak Melvin akan diare bila makanannya gak higienis" sambung Reta. Dinka baru tau tentang detail suaminya.
"Terus apa lagi?" tanya Dinka. "Banyak pokoknya tanya langsung aja sama orangnya" ledek Reta. Dinka menatapnya jengah. "Sudah ku duga" celetuk Dinka.
__ADS_1
+++
Dinka membawakan bekal makan siang permintaan suaminya. Dia harus ketinggalan jam kuliah siangnya karena memasak untuk Melvin. Sungguh merepotkan sekali suaminya itu. Membuat Dinka geram. Itu yang dipikir Dinka.
Sampai di depan gedung XnT Group. Salah satu dari sekian banyak gedung pencakar langit yang tertinggi dikota itu. Ini pertama kalinya dia ke tempat kerja sang suami. "Wah ada berapa ya ketinggiannya" Dinka berbicara sendiri.
Langkahnya berjalan ke arah resepsionis dan bertanya ruang kerja suaminya. "Permisi mba mau tanya ruang kerja pak Melvin dilantai berapa ya?" tanya Dinka.
Resepsionis menjawabnya dengan ramah dan tersenyum "Ada perlu apa ya kalau saya boleh tau?".
"Saya ingin bertemu dengannya" ujar Dinka. "Apakah sudah membuat janji?" tanya resepsionis. "Saya disuruh menemuinya siang ini" jelas Dinka. Resepsionis melihat penampilan Dinka dari atas sampai bawah. "Baiklah sebentar saya akan menghubungi asistennya" sahut Resepsionis.
Dinka menatap ke sekeliling lobby perusahaan. Sosok pria yang tidak asing muncul dari pintu masuk. Mata Dinka terbelalak melihat mantan calon kaka iparnya disitu.
Abinyu membawa beberapa berkas ditangan. Dia berjalan kearah pintu lift. "Mas Abinyu" panggil Dinka. Abinyu menengok kebelakang mendengar namanya dipanggil. "Adinka" Abinyu tidak kalah terkejutnya melihat Dinka disana.
Abinyu menghampiri Dinka yang berdiri di depan meja resepsionis. "Sepertinya pak Melvin masih ada meeting, jadi tidak bisa diganggu" ucap resepsionis.
"Baiklah terimakasih mba" Dinka memaksakan tersenyum. "Kamu kenapa bisa disini?" tanya Abinyu heran.
"Mas Abinyu kenapa bisa disini?" tanya Dinka balik. Abinyu tersenyum menatap Dinka. "Aku bekerja di perusahaan ini" jawabnya.
Karena waktu istirahat Abinyu mengajak Dinka berbicara. Mereka melanjutkan mengobrol dikantin perusahaan. "Aku sangat menyayangkan perbuatan Abimanyu pada mu" Abinyu memulai percakapan.
__ADS_1
Dinka menatap kebawah. "Yang sudah berlalu biarlah berlalu mas" ujar Dinka. Sebenarnya mendengar nama Abimanyu saja sudah membuat Dinka sakit hati. Dan ini harus kembali membahas penghianatan dari mantan tunangannya. Sungguh membuat hati ini teriris.