Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
Perjalanan kedesa


__ADS_3

Cuaca yang cerah secerah hati Dinka. T-shirt polos panjang warna navy dengan celana jeans kodok dipakai Dinka untuk pergi kekampus. Rambutnya yang panjang di kucir kuda. Penampilan Reta seperti biasa dengan gaya tomboy nya.


Mereka berjalan seperti biasa pergi ke kampus. "Hai Dinka" sapa Fahmi. Dinka menjawabnya dengan tersenyum.


"Baru berangkat nih?" ucap Fahmi. "Iya kak" jawab Dinka. Fahmi melirik kearah Reta. Sebenarnya dia ingin berbicara sesuatu pada Dinka namun dia agak risih dengan pengikut setianya yang tomboy itu.


"Bisa kita bicara sebentar?". Dinka melirik ke Reta meminta persetujuan. "Sebentar saja din" ucap Fahmi lagi. "Baiklah gue tunggu di kelas ya ka" Reta pergi kekelas.


Fahmi mengajak Dinka duduk dikursi taman dekat bawah pohon. "Mau tidak temani aku ke acara ulang tahun sodara ku?"


"Kenapa kak Fahmi mengajakku?" tanya Dinka balik. Fahmi tersenyum. "Hanya saja...." katanya tidak di teruskan. "Intinya mau tidak?"


Dinka merasa ada sesuatu yang aneh dengan ajakan seniornya. "Maaf kak Fahmi aku sepertinya tidak bisa" Dinka tersenyum. Dia berjalan pergi meninggalkan Fahmi ditaman.


"Apa Sinta mengganggu mu?" tanya Fahmi yang berteriak dari jauh. Dinka berhenti sejenak. Dia menoleh dan hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.


Masalah akan jadi rumit bila dia memberitahukan tentang dia disiksa oleh Sinta dan teman-temannya. Pesan singkat dikirim dari nomer baru. Yang isinya dia akan dijemput oleh sopir pribadi. 'Apakah ini nomernya Melvin' batin Dinka.


Dia kembali berjalan kearah kelas. Dinka mengendap-endap melihat kearah jendela kelas. Memastikan keberadaan Dosennya. Karena jadwal hari ini adalah mata kuliah dosen yang terkenal dengan kesadisannya. Untunglah dosen itu belum masuk jadi dia tidak terlambat. Dinka bernafas lega.


Reta melihat sahabatnya yang sedang mengendap-endap. "Ngapain loe?" ucap Reta dari belakang Dinka. Dia sampai terkejut. "Aku kira kamu sudah dikelas"

__ADS_1


"Gue kekantin dulu tadi" jelas Reta. Mereka masuk kekelas karena dosen akan datang. "Oiya tadi kak Melvin ngasih tau gue supaya loe gak kabur lagi karena ada sopir yang mau jemput".


"Aku waktu itu gak kabur Reta, aku cuma ketiduran di taman" Dinka berbicara persis dimuka Reta. "Sama aja" ucap Reta. Dinka mendengus kesal.


Sinar matahari siang benar-benar sangat terik. Padahal jam belum menunjukan pukul 10.00. Mobil mewah berwarna hitam sudah menanti Dinka didepan gerbang kampus. Seorang pria juga berdiri didekat mobil.


"Tuh udah dateng" Reta menunjuk mobil mewah itu dengan dagunya. Dinka melihat kearah mobil tersebut juga. Mereka berjalan mendekatinya. Si pria yang berdiri tadi membukakan pintu mobil untuk Dinka.


"Silahkan nona" ucap si pria. Dia masuk kedalam mobil dan terkejut melihat Melvin berada didalamnya. "Kak Melvin tumben dianter sopir biasanya mengemudi mobil sendiri" kata Reta sambil duduk disebelah sopir.


"Tunggu apa lagi cepet masuk" suruh Melvin yang melihat Dinka terbengong diambang pintu.


Iring-iringan beberapa mobil mewah melaju membelah jalanan. Dengan dikawal mobil polisi menghantarkan keluarga Tama untuk pergi ke desanya Dinka. Perjalanan jauh kedesa ditempuh sekitar hampir 6 jam dari kota. Melvin sibuk dengan laptopnya. Dan Dinka tertidur selama perjalanan.


Kedua orangtua Melvin bersama dengan Alfan dimobil depan. Namun Reta tidak mau ikut karena dia tidak suka perjalanan jauh.


Melvin melirik kesebelahnya. Melihat Dinka tertidur dengan posisi miring dan bibir yang sedikit terbuka. Melvin mengerutkan dahinya. Tangannya mendekati bibir merah yang sedikit tebal milik Dinka.


Dinka membuka matanya. Tiba-tiba saja dia merasa mual dan ingin muntah. Seketika itu dia memuntahkan isi perutnya pada Melvin. Laptop yang sedang di pangku Melvin terkena muntahan dari Dinka. Mata Melvin langsung melotot.


"Maaf" ucap Dinka cengengesan. Sopir dan pengawal yang berada satu mobil dengan mereka menahan tawanya. Melvin segera meminta tisu pada sopirnya. "Pak buruan ambilin tisu".

__ADS_1


Dinka merebut kotak tisu dan membersihkan sisa-sisa muntahannya di lengan baju Melvin. "Maaf sekali lagi maaf" mohon Dinka. Melvin tidak bicara apapun dia hanya memasang wajah dinginnya seperti biasa.


Melvin membuka kemeja putihnya yang terkena muntahan. Bentuk tubuh atletis miliknya terlihat. Dinka menelan ludahnya dengan susah payah. Melihat keadaan didepannya.


'Bodohnya diri ini kenapa bisa sampai muntah dibaju Melvin sih' batin Dinka. Dia mengetok-ngetok kepalanya sendiri dengan tangan. Meratapi kebodohannya sendiri.


Sopir dan pengawal mereka tersenyum melihat tingkah Dinka yang aneh. Raut wajah Dinka terlihat memelas.


Sampailah mereka disebuah desa yang pemandangannya indah. Udara disana juga masih bebas dari polusi. Iring-iringan mobil mewah membuat orang-orang didesa itu heran. Mereka bertanya-tanya siapa yang datang. Mungkinkah bupati atau yang lain karena dikawal polisi.


Dinka menyuruh sopir untuk membuka kaca mobil. Dia ingin merasakan udara ditempat kelahirannya yang baru beberapa bulan ditinggalkannya. Namun dia sudah sangat merindukan.


Riuh suara anak-anak menyambut kedatangan mereka. Dan banyak orang yang sudah menunggu. Memang sebelum itu paman Jay selaku asisten pribadi Arya memberitahukan kedatangan mereka kepada keluarga Dinka.


Kepala desa menyambut keluarga Tama. Ayah tiri Dinka juga ikut menyapa bersama kepala desa. Mereka berjabat tangan dan saling bercakap ria. Ayah Melvin jadi ingin membangun hotel dan tempat wisata didesa itu. Selain pemandangannya yang bagus disana juga belum ada tempat wisata. Sangat sayang bila kesempatan itu dilewatkannya.


Ibunda Melvin berjalan mendekati calon menantunya. "Mana Melvin?" Sarah meraih tangan Dinka. Dia melihat ke dalam mobil. "Kamu ganti baju lagi nak?" tanya Sarah pada Melvin.


"Dinka muntah di baju Melvin tadi bun jadi harus ganti" suara Melvin yang berat dan sedikit serak itu terdengar. Dia menjelaskan pada ibundanya. Penjelasan itu membuat Sarah tersenyum.


"Kamu mabok perjalanan ya?" tanya Sarah pada Dinka. "Iya tante" Dinka cengengesan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


__ADS_2