Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
Di salah tuduh


__ADS_3

Dinka dan Reta sudah selesai makan. "Loe yang bayar yaa" ujar Reta pada Bobby. Tangan Bobby terjulur pada Reta untuk meminta uang.


"Ngapain?" tanya Reta. "Loe bilang gue yang bayar sini duitnya" jawab Bobby dengan entengnya. "Eh bego bayar pake duit loe" gerutu Reta. Dinka tersenyum melihat tingkah dua orang didepannya. Itu merupakan hiburan tersendiri baginya.


Bobby pun mengalah dan beranjak kekasir untuk membayar. Dinka dan Reta juga beranjak dari kursi.


Didepan pintu masuk Reta tidak sengaja menabrak seorang pria. Pria itu datang bersama wanita. "Eh kalo jalan pake mata dong" bentak siwanita. "Maaf kami tidak sengaja" ucap Dinka memohon maaf. "Maaf-maaf kalian mau tebar pesona sama cowok gue" ucap Siwanita.


"Siapa yang mau tebar pesona" sahut Reta. Dia melihat si pria dari atas sampai bawah. "Lagian pria ini terlihat tua kok" sambung Reta.


Siwanita tidak terima dan berkata "apa loe bilang tua? Kalian tuh wanita murahan mau godain cowok orangkan".


Reta menampar siwanita. "Heh mulut loe tuh dijaga nuduh kita murahan lagi" teriaknya. Siwanita akan menampar pipi Reta namun masih bisa di cekal olehnya. "Loe mau nampar gue" ucap Reta sambil melotot.


Bobby melihat kejadian itu dan melerai. Bukan Reta namanya kalau tidak menyelesaikan dengan perdebatan. Dinka menarik lengan Reta agar tidak meneruskannya. Tangan siwanita menjambak rambut Dinka.


Dinka mengaduh karena rambutnya ditarik. "Apa yang loe lakukan" bentak Reta. Tangan Reta menahan tangan siwanita dirambut Dinka. Dirinya juga ikut menjambak rambut siwanita.


Perdebatan yang cukup alot itu disaksikan oleh pengunjung restoran. Serin yang akan ke toilet tidak sengaja menonton drama sinetron yang sedang tayang itu.


Dia melihat tas Dinka dan Reta tergeletak dilantai. Dia memasukan sesuatu pada tas Dinka. Senyumnya terlihat misterius. "Tunggu saja apa yang akan terjadi" ucap Serin sendiri.

__ADS_1


Serin tidak sadar aksinya terekam cctv. Dia kembali keruang pribadi itu. Dan sengaja mengulur waktu agar Melvin tidak melihat perkelahian itu.


Setelah pihak manager datang mereka dibawa ke office untuk dimintai keterangan. Siapa yang memulainya lebih dulu. Penjelasannya sangat berlainan arah dan mereka saling tuduh. Sudah pasti disini Reta yang banyak bicara.


Dinka hanya terdiam tanpa bisa berbicara karena bicara pun bakal kalah dengan Reta dan siwanita. Bobby dan si pria juga dimintai keterangan. Tetap saja mereka juga kalah dengan ucapan Reta dan Siwanita.


Masalah belum terselesaikan namun pihak restoran menyuruh agar mereka pergi. Siwanita mencari ponselnya yang hilang. Dia menyuruh sipria untuk menelpon. Dan benar saja dugaan si wanita bahwa diantara satu dari mereka pasti mengambil ponselnya.


Siwanita berlari menghampiri Dinka dan Reta yang sedang menunggu Bobby. Siwanita kembali menelpon ponselnya. Bunyi terdengar dari tas yang dibawa Dinka. Siwanita merebut tas Dinka dan mengeceknya.


"Heh loe cantik-cantik tapi maling ya" bentak siwanita. Dia menarik Dinka kekantor polisi terdekat. "Ayo ikut" ucapnya.


Reta pun menarik tangan Dinka yang satunya. "Heh temen gue gak bakalan nyuri ponsel loe ya. Jangan main asal tuduh dong" teriak Reta sambil memegang lengan Dinka.


Masalah makin rumit karena siwanita pandai berbicara dan memutar balikan fakta. Reta pun sampai terdiam dibuatnya.


Akhirnya Reta menghubungi Melvin. Karena yang bisa menolong Dinka hanya Melvin.


Melvin datang bersama Serin kekantor polisi. Dinka menutupi wajahnya sambil menangis. Bobby mencoba menenangkan Dinka. "Kak Melvin tolongin Dinka dia tidak salah" ucap Reta. Matanya terlihat ada air yang menggenang.


"Kamu tenang saja kaka sudah telpon pengacara untuk kesini" Melvin menepuk bahu adiknya. Hati Serin sangat senang melihat Dinka seperti itu. 'Baru begini saja sudah kalah' batin Serin. Dia menyilangkan tangannya kedada.

__ADS_1


Melvin menghampiri sang istri dan mengelus pundaknya. Sorot matanya tajam melihat Bobby disebelah Dinka. Bobby mundur dua langkah dari Dinka.


Pengacara datang dan mengurus semuanya. Melvin mengajak istrinya untuk pulang. Namun Dinka memilih satu mobil bersama Reta dan Bobby.


Sampai dirumah Dinka langsung berbaring dikamar. Karena Melvin mengantarkan Serin pulang terlebih dulu.


Melvin masuk kekamar mandi. Selesai mandi Melvin mengenakan piyama yang sama dengan sang istri.


"Jelaskan" ucap Melvin terduduk diranjang. Dinka mengerutkan alisnya. 'Gawat nih' gumamnya dalam hati. Dia memberanikan diri menjelaskan kejadian direstoran. Dinka mendudukan dirinya diranjang. Bicaranya sedikit tergagap karena pandangan tajam dari Melvin.


"A..walnya karena salah paham, Re..reta tidak sengaja menabrak wanita yang ta..di..." ucap Dinka terpotong oleh Melvin.


"Bukan itu tapi pemuda didekatmu" ucap Melvin. Wajahnya semakin terlihat ganas. Dinka menelan ludahnya. Dia menunduk tidak berani menatap mata elang sang suami.


"Dia teman baru ku dikampus" Dinka meremas tangannya sendiri. "Apa perlu teman sedekat itu?" tanya Melvin.


"Tidak kami tidak dekat hanya teman biasa" Dinka mengatakannya dengan cepat agar Melvin tidak marah.


"Benarkah?" tangan Melvin mengelus bibir Dinka. Dinka mengangguk pelan. Melvin mendorong tubuh Dinka. Dan tubuh Melvin menindih tubuh istrinya.


"Kau pandai berbohong rupanya" Melvin menatap bibir Dinka. Dia langsung menggigit bibir Dinka sampai mengeluarkan darah. Dinka mendorong tubuh suaminya namun tidak bisa. Tubuh Melvin sama sekali tidak bergeser sedikit pun dari atas tubuhnya.

__ADS_1


Dinka merintih menahan bibirnya yang perih. Tapi Melvin masih melumat bibir sang istri dengan buasnya. Dasar singa jantan bila sedang beraksi tidak kira-kira.


Melvin mengakhiri ciuman buasnya. Jemarinya mengusap darah yang mengalir di bibir sang istri. "Ini hukuman untukmu karena kamu berani dekat dengan lelaki lain" ucapnya. Bibirnya tersenyum sebelah menatap Dinka. Seperti biasa Dinka hanya bisa menangis sambil memegangi bibirnya sendiri.


__ADS_2