
Melvin asik melamun di kursi tunggu rumah sakit. Otaknya banyak berpikir yang entah apa itu. Keadaannya benar-benar terpuruk karena merasa bersalah pada sang istri. Pagi sudah menjelang namun Dinka masih belum sadarkan diri. Itu yang membuat Melvin cemas dan khawatir dengan kondisi Dinka.
"Tuan muda apa tidak sebaiknya anda kesana menghibur tuan Melvin" saran pak Mimin. Alfan memandangi Melvin dengan tatapan yang dalam. Dia merasa ikut bertanggung jawab atas apa yang terjadi. "Pak Mimin tolong awasi Melvin ya, aku mau pergi sebentar ada yang harus aku urus" ucap Alfan.
"Baik tuan" jawab pak Mimin. "Kalau ada apa-apa langsung telpon" sahut Alfan sembari berjalan menjauh.
Alfan memarkirkan mobilnya di lahan parkir. Langkahnya berjalan memasuki sebuah bangunan apartement. 'Aku harap wanita itu belum pindah' batinnya.
Langkahnya lebar dan teratur. Namun pikirannya sudah campur aduk. Walaupun wajahnya cukup tenang tapi didalam hati Alfan sudah sangat marah pada Serin atas kelakuannya. Sebenarnya dia sudah malas untuk berurusan dengan wanita rubah itu. Tapi kali ini mau tidak mau dia harus bertemu dengan Serin.
Tangannya mengetuk pintu apartement dengan cepat. "Serin buka pintunya" ucap Alfan dengan nada yang keras. "Aku tau kamu ada didalam, cepat keluar" sambungnya.
Tak lama kemudian pintu terbuka dan terlihat wanita paruh baya. "Maaf anda siapa?" tanya si wanita. "Bukannya ini apartement Serin?" tanya Alfan balik.
"Oh wanita itu sudah pindah mas" jawab si wanita paruh baya. Alfan terdiam kebingungan. "Dia menjual apartement ini pada anak saya untuk saya tinggali" lanjut si wanita tua itu.
"Kalau boleh tau dia pindah kemana ya?" tanya Alfan. "Maaf mas saya kurang tau, mungkin anak saya tau karena dia adalah teman si wanita pemilik apartement ini sebelumnya" jelas si wanita.
Alfan pun meminta kartu nama milik anak si pemilik apartement. Dan kemudian menghubunginya dengan cepat. Berharap bisa mendapatkan informasi dari orang tersebut.
Karena tak ada jawaban Alfan pun menyambangi rumah orangtua angkat Serin. Namun hasilnya nihil dan tidak bisa menemukannya. Dia berinisiatif meminta bantuan dari teman semasa kuliahnya.
__ADS_1
"Oh iya Ronald, kenapa aku gak kepikiran minta bantuan dia aja ya" ucap Alfan sendiri. Alfan pun melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah Ronald. Namun naas saat di perjalanan ban mobilnya kempes. Dia meninggalkan mobilnya dan menyuruh salah satu bodyguardnya untuk mengurus mobilnya. "Sial kenapa malah kempes sih" gerutu Alfan sembari kakinya menendang ban mobil yang bocor. "Aduh" keluhnya spontan mengelus kakinya yang sakit.
Sesampainya di rumah Ronald Alfan langsung mengetuk pintu dan di buka oleh pelayan rumah. Tak disangka wanita yang dia cari ada dirumah Ronald. Matanya terbelalak melihat kearah si wanita. Kebetulan sekali baginya.
"Serin ngapain kamu disini" ucap Alfan dengan cepat. "Sejak kapan kalian jadi dekat?" tanya Alfan. Setau Alfan mereka berdua tidak pernah dekat satu sama lain. Apalagi saat masa kuliah Serin sering kali acuh pada Ronald. Walaupun Ronald dengan gigih mengejar Serin.
"Santai bro dia juga baru kesini kok" Ronald merangkul dan mengajak Alfan untuk duduk. "Kak Alfan ada perlu apa sama Ronald?" tanya Serin dengan lemah lembut. "Kamu gak usah panggil aku kak, cukup nama saja" sahut Alfan.
Ronald mencium bau-bau yang tidak biasa dari ekspresi wajah Alfan. "Hm Serin kamu lebih baik pulang dulu ya, lain kali kita baru jalan" kata Ronald. "Untuk apa kamu nyuruh dia pergi? Justru aku mau minta kamu untuk mencari dia. Kebetulan banget dia ada disini" sahut Alfan.
Serin mencoba tetap tenang dengan pandangan yang tajam dari Alfan. "Kenapa bro cari Serin? Ada masalah apa?" tanya Ronald.
Tanpa menjawab Ronald, Alfan langsung pada pokok permasalahan yang membuatnya mencari Serin. "Maksud kamu apa masih mengejar Melvin dan menghubunginya?" tanya Alfan tidak sabaran.
"Hanya apa?! Kamu mau mencoba mengadu domba hubungan Melvin dan istrinya? Kamu sengajakan menghubungi Melvin agar Dinka tau" ucap Alfan dengan nada yang tinggi. Kini tak bisa menahan amarahnya lagi.
'Wow jadi yang mengangkat telpon ku waktu kemarin itu si gadis kampung ya. Baguslah berarti sekarang mereka lagi berantemkan' kata Serin dalam hatinya.
"Jawab kenapa malah diam saja" ucap Alfan ketus. "Serin kamu masih berhubungan dengan Melvin?" tanya Ronald.
"Kamu bilang kamu mau serius sama aku bahkan anak yang di kandungan kamu itu anak aku" timpal Ronald. "Aku jadi ragu bahwa itu anakku" lanjut Ronald sembari menyilangkan kedua tangannya kedada.
__ADS_1
Alfan terkejut mendengar perkataan yang keluar dari mulut Ronald. "Apa? Kandungan...anak?" tanya Alfan tidak percaya.
"Iya jadi gini waktu itu aku lagi ngumpul sama temenku dan Serin ikut. Aku sampai mabuk dan kita bermalam di hotel berdua. Aku gak sadar udah melakukannya sama Serin jadi dia hamil" jelas Ronald.
Alfan mengernyit tidak percaya perkataan Ronald. "Kamu doyan sama siluman rubah ini" sahut Alfan menunjuk Serin dengan dagunya.
"Sayang aku bisa jelasin ini emang anak kamu kok, beneran" ucap Serin memasang wajah memelas pada Ronald. Sebenarnya Serin hanya pura-pura hamil anak Ronald. Agar dia bisa memiliki lelaki untuk membiayai hidupnya. Ronald ini anak seorang pejabat dan merupakan anak tunggal.
Tidak heran Serin juga mengincarnya. Tapi Ronald hanya sebagai cadangan apabila Serin tidak berhasil memiliki Melvin. Yang paling utama adalah Melvin, karena Melvin merupakan anak seorang konglomerat. Sekaligus pewaris utama harta kekayaan yang dimiliki sang ayah.
Serin memegang perutnya berharap Ronald percaya dengan kata-katanya. "Kalau memang kamu hamil anak aku, kamu harus cek ulang" pinta Ronald. Wajah Serin menjadi was-was takut kebohongannya terbongkar. Bisa jadi sia-sia usahanya selama ini mendekati Ronald.
"Kamu gak percaya sama aku" Serin menangis sambil mengelus perutnya yang masih langsing. Alfan masih diam membisu melihat drama yang terjadi di depannya.
"Nak bahkan papah kamu gak mau mengakui kamu sebagai anaknya" keluh Serin sembari mengelus perutnya. Aktingnya mampu membuat Ronald sedikit percaya dengan ucapan kekasihnya. Ronald pun menghampiri Serin dan memeluknya. Alfan sudah paham betul watak dan sifat mantan tunangannya itu.
"Kamu percaya gitu aja sama wanita ini?" tanya Alfan terheran-heran dengan perlakuan Ronald.
Ronald tidak menjawab pertanyaan Alfan. "Intinya gini deh, aku cuma gak mau kamu mendekati Melvin lagi dan jangan berharap bisa menghancurkan rumah tangganya" ucap Alfan ketus.
"Dan satu hal lagi, kamu gak usah berangkat kerja mulai besok. Karena aku gak butuh karyawan seperti kamu untuk bekerja di perusahaanku" ancam Alfan.
__ADS_1
Langkahnya segera keluar dari dalam rumah Ronald.