
Setibanya dirumah ibu Dinka terlihat cemberut sambil memandangi suaminya. "Bapak kenapa tadi ngajak pulang sih ibu kan masih ingin berada disana" keluh Siti. Rama mengelus kedua kakinya yang pegal. "Ibu ini apa ndak merasa cape, ini lho kaki bapak saja sudah pegel-pegel bu" sahut Rama.
Dinka datang menghampiri dan memberikan tas belanja pada sang ibu. "Dinka ada sesuatu buat ibu sama bapak" ucap Dinka sambil menyerahkan tas belanja. "Apa ini ndo?" tanya Siti. Mendengar ucapan Siti yang lembut membuat Dinka senang. Jarang-jarang sang ibu memanggilnya dengan sebutan ndo padanya kecuali sang ayah tiri.
Dinka mengambil posisi duduk disamping sang ibu. "Tadi Dinka nyuruh sikembar buat beliin ibu dan bapak baju. Semoga saja muat ya karena Dinka kurang tau ukuran ibu dan bapak" ujar Dinka. Siti langsung membukanya. "Wah bagus sekali ini" ucap Siti.
"Ternyata baju yang kembar bu" ujar Rama. "Iya itu anak muda kalau ngomong apa itu kopel ya kalau tak salah" sahut Siti. Dinka tersenyum melihat kedua orangtuanya yang sumringah. Kini sang ibu sudah memperlakukannya dengan baik tidak seperti dulu.
Bella melihat kearah sang suami dan memarahinya didalam kamar. Dia memaki Abimanyu karena sudah mencoba mendekati Dinka lagi. Bella ini sudah salah paham terhadap suaminya. Sang anak pun menangis mendengar teriakan Bella.
Pelayan menghampiri Dinka dan Reta yang tengah mengobrol bersama orangtuanya. Untuk memberitahukan yang telah terjadi. "Pak bu sebentar ya Dinka tinggal dulu" Dinka pun berjalan menuju kamar sang adik di ikuti Reta.
Benar yang dikatakan pelayannya, sang adik dan suaminya sedang bertengkar. Dinka mengetuk pintu kamar sang adik. Abimanyu berniat membukanya namun dihalangi oleh Bella. "Mas ini bilang saja masih menyukai kakak ku kan" teriak Bella. Abimanyu hanya diam sambil menggendong anaknya dan berjalan keluar kamar.
"De ada apa?" tanya Dinka sembari berjalan masuk. Reta mengambil alih Abel dari tangan Abimanyu. "Sebaiknya selesaikan dulu" ucap Reta pada Abimanyu.
"Kak Dinka ngapain kesini!" teriak Bella. Abimanyu balik berkata keras pada sang istri. "Kamu yang kenapa, cemburu tidak jelas" teriak Abimanyu. Kesabarannya sudah hilang menghadapi Bella. Karena Bella selalu saja mengajaknya berantem hampir setiap hari.
__ADS_1
Dinka terkejut mendengar teriakan Abimanyu. Yang dia tau Abimanyu ini selalu bersikap lembut dan halus ketika dulu bersamanya. "Mas jangan teriak pada Bella dong" ucap Dinka sambil memeluk Bella yang menangis.
"Kamu kenapa berantem sama mas Abi de?" tanya Dinka dengan suara yang lembut. "Ini semua gara-gara mas Abi belum bisa melupakan kakak" Bella melepaskan tangan Dinka dari badannya.
Dinka kembali terkejut mendengar ucapan Bella. "Kamu salah mana mungkin mas Abi belum bisa melupakan ku" sahut Dinka. "Tanya saja langsung pada orangnya" ucap Bella dengan suara yang keras.
Dinka menatap Abimanyu yang terduduk disofa kamar. "Mas ini semua tidak benar kan?" tanya Dinka memastikan. Abimanyu hanya terdiam sambil menutupi semua wajahnya dengan tangan. "Tuhkan bener mas Abi memang masih menyukai kakak. Dia saja tidak membantahnya" teriak Bella.
"Sudah cukup" teriak Abimanyu. Ditatapnya sang istri dan Dinka. Dirinya memilih keluar dari dalam kamar sebelum masalah tambah runyam.
Dinka mendudukan Bella keatas ranjang. Dan mencoba menenangkan sang adik. Tangannya mengelus pundak adiknya. "Mas Abi itu sudah melupakan aku de. Dia itu suami kamu jangan lagi kamu membuat alasan ini untuk bertengkar" ucap Dinka.
"Kenapa hanya kaka saja yang di cintai mas Abi. Aku sama sekali tidak pernah bisa menyentuh hatinya. Aku tau kaka memang cinta pertama mas Abi, tapi aku istrinya kak" sambung Bella. Dinka memeluk adik tirinya yang menangis.
Ditaman depan rumah Reta bermain dengan Abel dan orangtua Dinka. Rama melihat ada mobil yang datang. Terlihat si menantu turun dari mobil dan Rama menghampirinya. "Menantu bapak sudah pulang kerja ya" ucap Rama. Melvin menyalami tangan bapak mertua.
Reta tergelak kaget melihat kakaknya pulang kerja dengan cepat. "Tumben jam segini udah pulang kak? Biasanya sampai malem" ujar Reta. "Kamu ngapain dirumah, emang gak ada kuliah?" tanya Melvin tanpa menjawab adiknya lebih dulu.
__ADS_1
"Bolos kak" sahut Reta cengengesan. "Nak Reta ini habis menemani ibu dan bapak pergi jalan-jalan" ungkap Siti. Dinka dan Bella menghampiri mereka ditaman.
Melvin pun kembali kedalam mobil untuk mengambil sebuket bunga. "Sayang untukmu" Melvin mendekat ke arah sang istri dan memberikan bunganya. "Tumben nih romantis pake ngasih bunga segala" sahut Reta menggoda sang kakak.
Dinka tersenyum dan menerima buket bunga dari Melvin. "Makasih vin, tumben pulangnya cepet?" tanya Dinka. Melvin mengajak sang istri masuk kedalam rumah. "Kami permisi dulu" ucap Melvin pada mertuanya.
Tangan kekar Melvin langsung menggendong Dinka menaiki anak tangga. "Vin apa-apaan sih turunin gak" gerutu Dinka. "Sayang aku lagi pengen mesra-mesraan sama kamu" ucap Melvin.
Melvin membawanya masuk kedalam kamar. Alisnya diangkat untuk menggoda sang istri. "Ada apa kamu pulang cepet?" tanya Dinka.
"Aku mau jemput bunda sama ayah katanya pulang hari ini" jawab Melvin. Dinka merasa girang mendengar mertuanya pulang. Itu berarti sang bunda sudah pulih. "Apa bunda sudah baikan jadi pulang kesini?" tanya Dinka lagi.
"Sayang sebentar lagi anniversary nya pernikahan bunda sama ayah jadi ayah pengen pulang untuk merayakan bersama kita. Sekalian pengumuman perjodohan kak Alfan, yang ini kamu jangan kasih tau siapapun ya" jelas Melvin. Dinka tersenyum mendengar itu semua.
"Benarkah kak Alfan mau dijodohin sama siapa?" tanya Dinka. "Kamu itu udah kaya wartawan aja sih tanya melulu" Melvin mengusap pipi Dinka. "Sama siapa?" tanya Dinka penasaran.
"Mungkin sama anaknya kolega ayah yang ada di singapura. Tapi rincinya siapa aku gak tau" jawab Melvin. Tangannya kini usil masuk kedalam baju sang istri tepat ke areal dada. Dinka menghentikan tangan suaminya. "Sayang aku cuma mau mengusap perut kamu" ucap Melvin.
__ADS_1
"Ngusap perut tapi larinya ke bagian atas" gerutu Dinka. Melvin pun meraih dagu Dinka untuk mencium bibir merahnya.