Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
114. Perlakuan manis dipagi hari


__ADS_3

Sinar matahari pagi membuat Dinka terbangun dari tidurnya. Melvin sengaja membuka sedikit gordin kamar. Keluarlah Melvin dari dalam kamar mandi. Tubuhnya memakai jubah handuk. Bulir air menetes dari rambutnya.


"Kamu sudah bangun sayang?" tanya Melvin. Dinka mengerjapkan matanya. "Tumben kamu bangun pagi" ungkap Dinka sembari menguap. Melvin mendekati sang istri. Tangannya memberikan handuk pada Dinka. "Boleh minta tolong" goda Melvin.


Dengan malas Dinka menerima handuk dan mengusap-usap lembut rambut sang suami. "Ada beberapa urusan dikantor jadi aku harus berangkat pagi" jelas Melvin. "Kenapa gak bangunin aku?" tanya Dinka.


"Kamu tidurnya nyenyak banget jadi aku gak tega buat bangunin" jawab Melvin. Setelah selesai mengeringkan rambut suaminya Dinka pun mandi. Melvin sengaja menunggu sang istri selesai mandi.


Melihat Dinka yang hanya mengenakan handuk membuat Melvin tergoda. Tangan Melvin memeluk tubuh Dinka dari belakang. "Boleh aku minta hak ku sayang?" tanya Melvin sembari menciumi leher Dinka. "Minggir" Dinka menepiskan tangan sang suami dari pinggangnya.


Melvin membuka jasnya dan menggendong Dinka ke atas ranjang. Direbahkannya tubuh sang istri dengan perlahan. "Sebentar saja" pinta Melvin sambil menindih tubuh istrinya.


Dinka dengan cepat menggeleng menolak permintaan suaminya. Tangannya disilangkan untuk menghalangi tubuh Melvin. Kedua tangan Melvin melepaskan penghalangnya dan menahan tangan Dinka. Bibirnya menciumi leher jenjang sang istri yang terpampang jelas. Terbentuk satu buah tato merah di leher Dinka.


"Vin perut aku kegencet" ucap Dinka. Itu alasan agar Melvin menyudahi aksinya. Melvin segera menyingkir dari atas tubuh sang istri. Padahal juniornya sudah siap bertempur namun Dinka malah menolak. Dinka tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah sang suami yang memelas.


"Ayolah sayang" ajak Melvin. Sama sekali dia tidak akan menyerah bila urusan batin belum dituruti. Dinka berkacak pinggang dan mengangguk. "Ikhlas gak nih?" tanya Melvin.


"Kamu yang maksa mau gimana lagi" jawaban dari Dinka membuat Melvin bersemangat. Melvin mulai menciumi bibir Dinka yang ranum. Mereka pun berperang dipagi hari. Dinka merasa sedikit perih dibagian intim tubuhnya. Tapi Melvin masih belum mencapai puncak. Pertempuran selalu dimenangkan oleh Melvin pastinya.

__ADS_1


Setelah puas memberi nafkah pada sang istri Melvin pun berjalan keluar dari kamar. Kakinya melangkah menuju ruang makan. Dia hanya mengambil roti dan meminum air. Karena waktunya sudah hampir terlambat untuk pergi ke kantor. "Sayang kenapa tidak sarapan dulu?" tanya Sarah.


"Melvin udah terlambat bunda, hari ini ada temu klien jadi Melvin berangkat lebih awal kekantor" jawab Melvin. Arya masih diam saja pada Melvin. Tatapan matanya tidak lepas dari sang anak. Melvin tidak berani melihat wajah sang ayah. Melirik pun tidak berani. Sarah melihat situasi yang tidak baik itu.


"Melvin pamit ya bun ayah" ucap Melvin sembari mengambil roti tawar lagi. "Suruh kakak mu pulang secepatnya" bentak Arya. "Ayah udah cukup" pinta Sarah. Melvin bergegas pergi tanpa kata-kata.


"Wajah Melvin udah ayah buat babak belur begitu kenapa masih juga belum menyerah sih, biarkan saja dulu Alfan pergi. Mungkin dia kecewa karena ayah yang sudah membesarkannya belum juga memberinya restu" gerutu Sarah panjang lebar. Arya hanya bisa terdiam ketika sang istri sudah menasehatinya.


"Ayah juga harus ke kantor bun untuk mendampingi Melvin" sahut Arya. "Istri lagi ngomong malah ditinggal pergi" keluh Sarah. Arya mencium kening istrinya dan kembali ke kamar untuk bersiap.


Dinka berjalan menuruni anak tangga dengan hati-hati. Perutnya sedikit merasa kencang dan badannya pegal-pegal karena perbuatan Melvin. Tangannya memegangi perut. "Perut kamu kenapa din?" tanya Sarah.


Dinka mengambil nasi dan lauk untuk sarapan. "Apa kamu tau info tentang Alfan? dia baik-baik sajakan?" tanya Sarah. "Mungkin baik bun, aku juga kurang tau. Mas Melvin gak cerita banyak mengenai kak Alfan" Dinka memasukan makanan kedalam mulut.


"Bunda khawatir sama Alfan" ungkap Sarah. "Bunda tenang aja kak Alfan pasti baik-baik aja kok" Dinka menenangkan Sarah agar tidak cemas. Bisa gawat bila Sarah banyak pikiran.


Dinka kembali ke kamar dan mendengar suara ponsel berbunyi. Dia belum membeli ponsel baru. "Kenapa ada bunyi ponsel" gumamnya. Dinka mencari-cari suara ponsel yang berbunyi. Ternyata ponsel sang suami tertinggal. Dan ada sebuah panggilan tidak terjawab dari Bobby.


Lantas Dinka menelpon balik. "Hallo vin ini kakak" terdengar suara Alfan yang menjawab. "Kak Alfan?" tanya Dinka dari seberang telpon.

__ADS_1


"Dinka? Kenapa ponsel Melvin sama kamu?" tanya Alfan. "Kenapa juga ponsel Bobby ada sama kak Alfan?" Dinka balik bertanya.


"Bobby datang ke tempat persembunyian ku semalam, apa bunda baik-baik saja? aku dengar bunda pingsan" sahut Alfan dengan cepat. "Bunda baik kak dia gak papa kok" sahut Dinka.


"Baiklah kalau begitu kaka tutup dulu ya telponnya" ucap Alfan. Sambungan telepon pun terputus.


Banyak notifikasi yang muncul di layar ponsel. Juga ada beberapa email yang masuk. Karena dikira ada email yang penting jadi Dinka akan mengantarkannya ke kantor. Diajaknya sikembar pula dan diantar oleh supir.


Diperjalanan ban mobil yang ditumpangi Dinka kempes. "Kenapa pak?" tanya Dinka. "Ini non sepertinya ban mobil bagian depan kempes" jawab si supir. Dinka dan sikembar keluar dari dalam mobil.


"Sebentar ya non saya ganti dulu bannya" jelas si supir. Dinka berdiri di pinggir mobil sembari menunggu ban selesai diganti. Dikejauhan Serin sedang melihatnya. Serin kini akan mengincar Dinka. Karena usahanya meyakinkan Alfan dan Melvin sudah gagal, jadi beralih pada Dinka.


Sikembar berada di sisi Dinka. Dan Dinka berada ditengah mereka. "Itu mobil terlihat mengarah kesini sih" keluh Alini. Karena merasa tidak beres Dinka dibawa ke tepi jalan raya. "Non jangan disini bahaya banyak mobil lewat" ungkap Alini.


Bruuukk


Belum lama Dinka menepi mobil yang sedang diganti ban di tabrak oleh sebuah mobil. Si supir pun terkejut karena mobilnya ditabrak dari belakang. Dinka merasa tidak asing dengan wanita yang mengendarai mobil yang menabrak itu.


Mobil segera tancap gas dan kabur. Untunglah Dinka segera menepi mungkin kalau tidak dia yang akan tertabrak.

__ADS_1


__ADS_2