
Melvin mendudukan bokongnya ke sofa didalam kamar. Menunggu sang istri yang tengah mandi. Kakinya disilangkan tangannya memegang ponsel sambil browsing mencari artikel tentang kehamilan.
Suara pintu kamar mandi pun terdengar. Dinka keluar dari kamar mandi dengan sedikit terkejut melihat sang suami yang sudah pulang kerja. "Kamu kapan pulangnya?" tanya Dinka. Melvin mendongak melihat sang istri. Tubuh sang istri yang hanya dibalut handuk berwarna putih menambah kesan menggoda bagi Melvin. Ya tubuh sang istri memang membuat Melvin mabuk kepayang dan ketagihan.
"Baru saja" jawab Melvin. Kakinya berjalan mendekat ke arah sang istri. Dinka menelan ludahnya dan berdehem. "Aku mau pakai baju dulu" ucapnya sambil memegang erat lipatan handuk yang menempel pada tubuhnya.
Dinka sedikit berlari masuk kearah ruangan di sebelah ranjangnya. Di sela-sela Dinka membuka pintu lemari tangan kekar Melvin langsung menutup pintu lemari kembali. "Kau sudah membangunkan singa jantan yang tidur, tapi malah tidak mau bertanggung jawab" goda Melvin sembari tangannya memegang pinggang Dinka.
Dinka terdiam sambil menatap mata sang suami. Melvin mencium bibir sang istri. Ditengah ciuman mereka terdengar suara ponsel Melvin berbunyi.
Melvin tak menghiraukannya. Namun Dinka melepaskan bibir sang suami. "Ponsel mu bunyi" ungkap Dinka. Melvin melanjutkan ciumannya kembali. Bunyi ponsel pun terdengar untuk yang kedua kalinya.
Masih sama bunyi ponselnya tetap tidak dihiraukan oleh si empunya ponsel. "Angkat dulu mungkin penting" ucap Dinka. Melvin melihat layar ponselnya. Tertulis nama Serin yang menghubunginya.
Dirinya langsung keluar dari kamar untuk menghindari Dinka. "Ada apa?" tanya Melvin dari seberang telepon. Terdengar dari suara dan nada bicara Serin sedang ketakutan dan gemetar.
"Vin tolong" jawab Serin. Melvin mengerutkan dahinya. Ada apa gerangan dengan Serin itu yang ada dibenaknya. "Aku sekarang ada dikantor polisi aku gak sengaja nabrak orang" imbuh Serin dengan nada yang terdengar takut.
Tidak lama keluarlah Dinka dari kamarnya. Melihat wajah sang suami begitu serius. Dinka mendekat menghampiri Melvin. "Ada apa vin?" tanya Dinka tangannya memegang bahu sang suami.
__ADS_1
Melvin diam seribu bahasa. Matanya menatap Dinka. Telepon masih tersambung terdengar suara wanita dari ponsel Melvin. Dinka pun mendengar suara yang memanggil nama suaminya.
Seketika Melvin pergi dari hadapan Dinka dengan cepat. Langkahnya masuk kedalam kamar untuk mengambil jaket dan kunci mobil. Karena penasaran siapa yang menghubungi suaminya Dinka pun menyusul Melvin kedalam kamar.
"Ada apa vin?" tanya Dinka. Namun pertanyaan Dinka sama sekali tidak dijawab oleh Melvin. Kedua tangan Melvin memegang bahu Dinka sambil berkata "maaf ya aku hanya pergi sebentar". Langkah kakinya berjalan sedikit cepat karena terburu-buru.
Dinka mengikuti Melvin dari belakang. Dirinya tidak tau apa maksud dari perkataan suaminya. 'Kenapa Melvin minta maaf' batin Dinka.
Di lantai bawah Alfan sedang menonton televisi. "Kemana vin?" tanya Alfan. Tapi pertanyaan Alfan juga tidak dijawab.
Dinka pun turun kebawah dan berhenti di ruang keluarga. "Kemana suami mu?" tanya Alfan. Dinka menggeleng matanya masih melihat kearah depan. Otaknya masih sibuk memikirkan ucapan sang suami.
Dinka menerima gelas berisi susu dan meminumnya sambil duduk di sofa. "Wajah Melvin kelihatan serius sewaktu menerima telepon tadi. Apa ada masalah di kantor kak?" tanya Dinka.
Alfan menengok kesebelahnya. "Tidak ada masalah di perusahaan" jawabnya. "Tadi aku denger suara wanita yang menelponnya aku kira itu sekretarisnya" jelas Dinka.
Alfan hanya diam dan memikirkan kembali apa ada masalah atau tidak di kantor. "Kalau iya ada apa-apa dikantor pasti sekretarisnya juga menghubungiku" ungkap Alfan. Bibirnya tersenyum melihat kearah Dinka. Kebiasaan meledek sang adik ipar pun muncul.
"Kenapa? Apa kamu cemburu?" ledek Alfan. Dinka merengut menatap Alfan. "Engga" jawabnya dengan cepat. Langkah kaki Dinka pun menaiki anak tangga. Dia ingat ada tugas kuliah yang harus di kerjakan.
__ADS_1
Dilain tempat mobil Melvin sudah sampai didepan kantor polisi. Kakinya sedikit berlari masuk kedalam kantor polisi. Matanya menyapu kesekitaran. Melihat Serin yang tengah duduk di sebuah kursi. Melvin menghampirinya. "Kamu kenapa?" tanya Melvin dengan rasa cemas.
"Vin akhirnya kamu dateng juga" ucap Serin dengan manjanya. "Kamu kenapa bisa sampai disini?" tanya Melvin lagi.
Dengan perlahan Serin menjelaskan yang terjadi padanya sampai bisa berada di kantor polisi. Melvin merasa kasihan melihat wajah Serin terluka. Dan tubuhnya pun masih terlihat bergetar.
Melvin menjadi penanggung jawab untuk Serin. Tidak lama kemudian si pengacara datang dan mengurus semua masalahnya. Dirasa masalah sudah selesai Melvin membawa Serin keluar dari kantor polisi.
Dengan perlahan Melvin menuntun Serin berjalan keluar. Tiba-tiba Serin terjatuh dipelukan Melvin. "Serin bangun" ucap Melvin sambil menepuk pipi Serin.
Melvin menggendong Serin masuk kedalam mobil. Untuk membawanya kerumah sakit karena takut terjadi sesuatu padanya. "Apa saya juga harus ikut pak?" tanya si pengacara.
"Tidak usah kamu boleh pulang" suruh Melvin. Mobil melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Sampai dirumah sakit Melvin membawanya masuk kedalam untuk diperiksa dokter.
Setelah menunggu waktu cukup lama akhirnya dokter pun keluar dari ruangan tempat Serin dirawat. "Pasien tidak apa-apa, tapi saya akan melakukan rontgen untuk mengetahui apakah ada luka dalam atau tidaknya" jelas sang dokter. "Baik dok terimakasih" ujar Melvin. Kakinya melangkah kedalam ruang rawat Serin. Melihat Serin yang tertidur Melvin pun bisa pulang kerumah.
Keadaan Serin akan aman bila dirumah sakit dan ada perawat yang akan menjaganya. Melvin memutuskan untuk pulang kerumah. Mengingat dirinya sudah cukup lama meninggalkan Dinka. Badannya akan beranjak pergi namun tangannya tiba-tiba di raih oleh Serin.
"Vin mau kemana?" tanya Serin dengan suara yang lemah. Melvin jadi tidak tega meninggalkan Serin sendirian. "Kamu temani aku disini ya aku takut" sambung Serin.
__ADS_1
Melvin kembali mendudukan pantatnya dikursi sambil tersenyum dan mengangguk. Tangan Serin memegang dengan erat tangan Melvin.