Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
84. Kemarahan ayah


__ADS_3

Melvin berlari menuju ruang rawat sang bunda. "Bunda" panggil Melvin sambil memegang erat tangan bunda Sarah. Diciumnya tangan sang ibunda berulang kali. Sarah mengusap rambut anak laki-lakinya. "Mana menantu bunda, kenapa tidak ikut?" tanya Sarah dengan suara yang lemah.


Melvin tersenyum dan mengalihkan pembicaraan. "Bunda jangan sakit-sakitan terus, bunda harus sehat" ujar Melvin.


Arya mendekati istri dan anaknya. "Bunda sebentar lagi kita akan punya cucu jadi bunda harus cepat sembuh ya" ucap Arya memberi semangat pada sang istri. Sarah tersenyum bahagia mendengar kabar bahwa Dinka tengah berbadan dua. Walaupun wajahnya terlihat sangat pucat namun senyumannya membuat Arya dan Melvin senang.


Kali ini yang datang hanya Alfan dan Reta. Karena hari sudah malam Dinka tidak di ijinkan ikut. Padahal yang ingin sekali di temui oleh sang bunda adalah Dinka.


"Ayah sama Reta pulang saja biar Melvin dan aku yang jaga disini" ucap Alfan. "Baiklah kalau ada apa-apa segera hubungi ayah atau paman Jay" sahut Arya. Alfan mengangguk sambil berkata "siap yah".


Yang berjaga malam ini Melvin dan sang kakak. Alfan memberitahu Melvin bahwa sang ayah menanyakan tentang rumah tangganya.


"Maaf ya kakak gak bisa jaga rahasia" jelas Alfan. Melvin menghela nafasnya sambil melipat kedua tangan sebagai bantalan kepala. "Lagian cepat atau lambat ayah juga bakal tau kok kak" ucapnya.


Alfan memegang erat tangan ibundanya yang sudah terlelap. Diusapnya tangan yang mulai mengeriput itu. Tangan yang sudah merawat dan menjaganya sewaktu kecil. Biarpun anak angkat namun kasih sayang yang tulus didapat oleh Alfan dari sang bunda. Sejak kecil sang ayah pun mendidiknya cukup keras. Tapi berkat sang bunda dirinya tumbuh dengan penuh perhatian dan tidak kekurangan kasih sayang.


Karena malam ini Melvin berada dirumah sakit Dinka memutuskan untuk tidur dikamar sang suami. Bila ada Melvin boro-boro dirinya mau tidur sekamar.

__ADS_1


Dini hari Melvin disuruh pulang oleh Alfan. Dan Melvin pun mengiyakannya. Melvin merasa senang melihat sang istri terlelap didalam kamarnya. Dengan pelan Melvin naik keatas ranjang dan memeluk tubuh Dinka.


Memang Dinka ini sudah membiasakan tidur dengan posisi miring kiri karena itu posisi yang nyaman ketika tengah hamil. Saking nyenyaknya Dinka tidak merasakan apapun.


Pagi menjelang Dinka merasakan ada sesuatu yang memegang perutnya. Matanya dibuka perlahan dan melihat kearah perut.


Melihat ada tangan yang memegang perutnya sontak membuat Dinka langsung bangun. Dia tau tangan itu pasti tangan suaminya. Segera tangan Melvin di singkirkan dari perutnya dengan kasar. Dinka beranjak dari ranjang namun tangan Melvin dengan sigap meraih tubuh sang istri.


"Lepas" ucap Dinka dengan ketus. Kali ini Melvin tidak akan menyerah. Walaupun ucapan istrinya begitu ketus tidak diperdulikannya. Dinka mencoba melepaskan tangan Melvin dari tubuhnya tapi tidak bisa.


Tenaga Melvin memang lebih kuat darinya. Dinka pun terdiam sambil duduk diranjang. Melvin mencoba mencium leher dan telinga sang istri. Dinka merasa sangat risih dan tidak mau melayani suaminya.


"Lepas vin aku gak mau" ucap Dinka meninggikan suaranya. "Kenapa gak mau, kamu itu masih jadi istri aku ya. Itu sudah jadi kewajiban kamu melayaniku" sahut Melvin. "Gak" ucap Dinka dengan ketus.


"Okeh kamu mau aku paksa apa mau secara baik-baik" tawar Melvin. Dinka terdiam sambil menatap tajam sang suami. Melvin kembali memainkan bibirnya di leher sang istri. Dinka mulai menangis atas paksaan dari suaminya.


Melvin menyadari bahwa tindakannya salah. Apalagi keadaan mereka sudah berbanding terbalik. Melvin menghentikan aksinya. "Maaf sayang" Melvin menghapus airmata Dinka yang jatuh dipipi. Tangan Melvin dengan cepat di singkirkan oleh Dinka secara kasar.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan Arya membawa Dinka dan Reta pergi kerumah sakit. "Bunda sangat ingin bertemu dengan mu, dia sangat senang dengar kabar kehamilan kamu" ucap Arya.


"Apa bunda sudah baikan yah?" tanya Dinka. "Keadaannya sudah jauh lebih baik dari kemarin-kemarin" jawab Arya. Sesampainya dirumah sakit Arya masuk kedalam ruang rawat inap diikuti oleh Reta. Dinka tertinggal sedikit jauh dari mereka. "Bun Dinka sama Reta sudah datang" ucap Alfan.


Perlahan langkah Dinka masuk kedalam. "Sini ndo" ucap Sarah lirih. Dinka menghampiri sang bunda. Sarah mengelus perut Dinka yang sedikit membuncit.


Tangan Dinka juga memegang tangan bundanya. "Bunda sangat bahagia akhirnya kamu hamil juga" ungkap Sarah. "Kamu jaga baik-baik kandungannya ya, jangan terlalu berpikir macam-macam. Bunda ingin kamu bahagia ndo" nasehat Sarah diangguki oleh Dinka.


Sarah melihat wajah Dinka yang sedang sedih dan kalut. Sebagai sesama perempuan dan seorang ibu dia bisa melihat semuanya hanya dari wajahnya. "Bunda juga harus sehat dong supaya bunda bisa kembali kerumah dan bisa jaga Dinka" timpal Reta dengan suara khas nya.


Sarah tersenyum lebar mendengar Reta bicara. "Emang aku anak kecil perlu dijaga" keluh Dinka. "Ya emang loe masih polos dan **** kaya anak SD" ledek Reta. Arya dan Sarah tersenyum dengan ucapan Reta. Dinka memanyunkan bibirnya.


"Sudah-sudah jadi manyun tuh muka kakak iparmu" sahut Arya. Sarah kembali mengelus perut Dinka sampai Dinka merasa sedikit geli. Arya sengaja membawa Dinka kerumah sakit agar dirinya bisa mengobrol bersama Melvin dirumah.


"Alfan ayo pulang ada yang ayah mau diskusikan dengan mu" ajak Arya. Reta menengok kearah Arya dan Alfan. "Siapa nanti yang jemput kita yah?" tanya Reta. "Nanti juga ayah akan kembali" jawab Arya.


Sampai di kediaman mewah miliknya, Arya mencari Melvin untuk membicarakan banyak hal. "Fan kamu bisa istirahat" ujar Arya. Alfan pun masuk kedalam kamar untuk beristirahat.

__ADS_1


"Pak Mimin Melvin dimana? Suruh dia keruangan kerja ku ya" perintah Arya. "Baik tuan besar" jawab pak Mimin.


Melvin mengetuk pintu ruang kerja ayahnya. Dia tau untuk apa ayahnya mencarinya. Pasti dirinya bakalan dimarahi habis-habisan oleh sang ayah. Namun dia hanya pasrah karena kesalahan itu dia yang buat sendiri.


__ADS_2