Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
61. Ahlinya bikin jantungan


__ADS_3

Melvin berjalan santai kedepan hotel. Baju kemeja kotak di padukan dengan t-shirt polos berwarna putih di kenakannya. Celana jeans selutut ikut menambah kesan indah yang melekat di kaki panjang Melvin.


Serin sungguh senang bisa diajak jalan-jalan keliling kota paris. Mereka pergi berdua tanpa didampingi pengawal. Melvin sengaja menyuruh para pengawal untuk beristirahat di hotel.


Tujuan pertama adalah Seine River. Melvin menyewa kapal pesiar untuk mengelilingi kota paris. Pemandangan yang indah sepanjang mata memandang. Matanya memakai kacamata hitam. Serin tampak bahagia dimanjakan oleh Melvin.


Dia merasa sedang bulan madu bersama Melvin di paris. Serin terus menggandeng lengan Melvin tanpa mau melepaskannya.


"Vin makasih ya" ucap Serin. "Untuk?" tanya Melvin. "Sudah mengajak ku kesini" jawab Serin. Melvin mengangguk. Mereka menikmati keindahan kota paris.


Setelah puas berlayar menggunakan kapal pesiar. Serin mengajak Melvin pergi ke menara Eiffel. Mereka menghabiskan waktu disana sampai malam. Melvin mengajak Serin makan malam direstoran sekitar.


"Kau lapar?" tanya Melvin. "Lapar" ucap Serin dengan nada manja. "Kita cari tempat makan" ajak Melvin. Mereka berjalan disekitaran dan masuk ke restoran mewah.


Seusai makan malam Serin mengajak Melvin ke toko souvenir untuk membeli oleh-oleh. Seharian ini Serin terus menempel pada Melvin.


Melvin mengantar Serin sampai kedepan pintu kamar hotel. "Masuklah" ucapnya. Serin melepas genggaman tangannya dan membuka pintu kamar. Kemudian Serin berbalik dan secara spontan mencium bibir Melvin.


Melvin langsung mundur selangkah. Serin kembali mendekat dan berjinjit. "Sebentar saja vin" ucap Serin lirih.


Melvin menghela nafasnya. "Aku lelah" ucap Melvin. Tangannya mendorong Serin masuk kedalam kamar hotel. Melvin melangkahkan kaki menuju kearah kamar pengawalnya.


Melvin merebahkan tubuhnya dan menggunakan satu tangannya sebagai bantalan. Matanya mulai terpejam. Dia sengaja tidur awal karena dinihari nanti akan terbang kembali ke tanah air.

__ADS_1


+++


Dinka diantar oleh sang kaka ipar ke kampus. Belakangan ini Alfan perhatian sekali pada Dinka. Sampai-sampai Dinka heran. Apa memang Alfan sungguh hangat dan lembut bila memperlakukan wanita.


Dinka berharap kelembutan dari sang suami. Namun apa daya kelembutan itu jarang dirasakannya. Bila Melvin sedang dalam keadaan mood yang sangat baik baru dia akan memperlakukan Dinka dengan lembut.


Dinka berjalan perlahan sambil memeluk buku ditangan. Pikirannya selalu terisi oleh sang suami. Jujur saja dirinya merasa rindu pada Melvin.


'Apa Melvin rindu padaku, apa dia memikirkan ku. Pikiran mu terlalu frontal Dinka, bagaimana mungkin singa jantan itu memikirkan mu. Dasar bodoh kau ini' Dinka beradu didalam pikirannya sendiri.


Sampai-sampai jalannya melewati adik ipar. Reta sudah memanggil-manggil namanya. Karena keasikan dengan pikirannya Dinka sampai tidak mendengar sama sekali. Langkahnya berjalan menuju kelas.


Reta berkacak pinggang karena geram telah diacuhkan oleh Dinka. Tapi Reta menyadari sesuatu dan melihat raut wajah Dinka yang amat sangat serius. Reta mengikuti Dinka dari belakang. Biarlah Dinka asik berpikir Reta tidak akan mengganggunya.


Dinka celingukan kesana kemari. Yang dilihatnya hanya Reta. Sudah bagaikan orang yang linglung. Dosen mulai menerangkan materi pelajaran.


"Ta Bobby mana?" tanya Dinka lirih. Reta menoleh dan tersenyum. "Loe sadar juga akhirnya, gue pikir loe masih bengong kaya kambing conge" ledek Reta.


"Pengawal mu gak berangkat?" tanya Dinka lagi. "Dia sakit karena kemaren kecapean mungkin" jawab Reta. Dinka manggut-manggut.


"Setelah jam kuliah usai kita jenguk Bobby ya" ajak Dinka. Reta menoleh kesamping sambil geleng-geleng "ogah".


"Kenapa?" tanya Dinka. "Ya dia cuma sakit biasa kok kenapa juga harus dijenguk" celetuk Reta. Dinka mendengus kesal. Matanya kembali fokus kearah depan.

__ADS_1


Dinka masih terus membujuk Reta agar mau menjenguk Bobby. "Ayo ta mau ya" rayu Dinka dengan lembut. Ekspresi wajahnya dibuat se imut mungkin agar Reta mau menurutinya.


"Please mau ya, sepi rasanya kalo gak ada Bobby. Aku jadi gak bisa lihat kalian berantem" ledek Dinka sembari memperlihatkan barisan giginya. "Baiklah" ujar Reta. Dinka pun tersenyum puas.


Mereka pergi kerumah Bobby dengan menaiki taksi. Ditengah jalan Dinka mampir ke toko buah untuk membeli buah.


Taksi sampai didepan sebuah rumah yang megah di area perumahan elite. Reta melihat ke sekitar tapi komplek perumahan itu sungguh sepi. "Bener ini rumahnya?" tanya Reta. Dinka melihat ponselnya seraya berkata "bener kok ini rumahnya, sesuai yang dikirim Bobby alamatnya".


"Tapi kok sepi sih" sahut Reta. Langkahnya mendekat kearah pager besi yang menjulang tinggi. Seketika anjing yang berada dirumah itu menggonggong dengan keras.


Reta menjerit karena takut. Dinka tertawa terbahak-bahak sembari menutup mulutnya. Reta menatap Dinka sambil mengerucutkan mulutnya. "Diem deh" ucapnya.


"Maaf maaf habis muka mu itu lucu banget ta" ungkap Dinka kembali tertawa. Karena mendengar suara gonggongan anjing satpam rumah melongok lewat lubang pintu gerbang. Pak satpam mendapati ada dua orang wanita didepan gerbang. Kemudian satpam di rumah itu membuka pintu gerbang.


"Pak ini benar rumahnya Bobby kan?" tanya Dinka. "Benar, kalian temannya ya?" tanya Satpam.


"Iya pak kami teman sekampusnya" jawab Dinka tersenyum. Reta melenggangkan kakinya masuk kedalam. Jalannya menjauhi anjing yang berada didepan rumah.


Bobby melihat dari atas balkon kamarnya. Melihat ekspresi wajah Reta yang ketakutan itu sungguh lucu. Gadis tomboi yang berani padanya namun takut pada anjing.


Setelah dipersilahkan Dinka dan Reta duduk disofa ruang tamu. Bobby berjalan menuruni anak tangga. Dia mengenakan kolor pendek dan t-shirt polos. Rambutnya sedikit acak-acakan namun wajahnya tetap terlihat ganteng.


"Heh kaya gembel aja loe" ucap Reta. Belum juga Bobby duduk sudah dapat celaan dari temannya itu. Dinka menyikut lengan Reta dan memberi kode agar Reta menjaga ucapannya.

__ADS_1


"Mending gue, daripada loe tomboi tapi takut anjing" ujar Bobby sambil tertawa geli. "Ternyata loe pura-pura sakit ya, manja banget sampai gak berangkat kuliah lagi" ucap Reta.


__ADS_2