Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
200. Kehangatan Kembali Tercipta


__ADS_3

Sampai di rumah Dinka tidak sengaja melihat ayah mertuanya sedang menyendiri di balkon atas. Dinka belum sempat masuk kedalam rumah. Pemandangan itu membuatnya pilu.


Ayah mertuanya terlihat melamun. Tatapannya pun kosong. Walaupun Arya sudah pulang kerumah namun keadaannya masih tetap sama. Semenjak pulang dari rumah sakit sama sekali tidak mau berbicara sepatah kata. Makan pun sangat jarang.


Membuat orang di sekitar jadi makin terenyuh. Dinka berinisiatif membawa si kecil. Untuk menghibur mertuanya itu.


Untung saja selama ditinggal buah hatinya bobo dengan nyenyak. Dan tidak membuat repot bi Nah. Dinka jadi merasa tidak enak hati. Sudah merepotkan pelayannya itu.


"Aduh maaf ya bi tadi agak lamaan perginya" ungkap Dinka. "Ya ampun si non ngapain minta maaf. Bibi dengan senang hati menjaga si kecil non" jawab bi Nah. Bi Nah memang pelayan namun sudah di anggap seperti ibu sendiri oleh Dinka. Karena bi Nah begitu baik padanya.


"Makasih lho bi" ucap Dinka disertai senyuman. "Nona sejak tadi pagi tuan besar belum mau makan apapun. Bahkan untuk minum pun belum mau" keluh bi Nah memberitahu.


"Jadi tadi siang pun belum makan bi?" Dinka bertanya. "Belum non" bi Nah menggeleng.


Dinka mengajak bi Nah ke balkon ruang atas. Dengan membawa si kecil di tangannya. Bi Nah pun membawa nampan berisi bubur halus.


"Nona pasti akan ditolak lagi oleh tuan besar makanannya" bi Nah berkata sambil tersenyum kecut. "Tenang bi, senjata andalan" Dinka melihat kearah si kecil.


"Oiya non, bibi baru ingat" bi Nah kini sangat bersemangat. Dinka berjalan dengan perlahan mendekat pada mertuanya.


Mendengar suara langkah kaki Arya tetap diam. Badannya yang terduduk di kursi roda sama sekali tidak merespon. "Ayah makan dulu ya" Dinka berkata dengan nada yang amat lembut.

__ADS_1


Arya hanya menatap nanar menantu di depannya itu. "Ayah ayo makan dulu, hanya beberapa suapan saja. Sejak pulang dari rumah sakit ayah sangat jarang makan. Jadi makan dulu ya walaupun hanya satu suap" bujuk Dinka dengan sabar.


Tetap saja sang mertua hanya menatapnya. Arya ingin sekali menggendong sang cucu. Namun badannya terasa kaku untuk di gerakkan.


"Ayah, Dinka mohon ayah mau makan ya sesuap saja" Dinka tak hentinya membujuk. Di ambilnya sendok bubur dan ingin menyuapkan pada mulut sang ayah. Walaupun cukup sulit sambil menggendong sang buah hati. Dinka tetap ingin memperhatikan mertuanya itu.


Arya menerima suapan dari tangan Dinka. Yang sontak membuat Dinka dan bi Nah kegirangan. Tapi di ekspresikan hanya dengan senyuman sumringah. "Sini non biar bibi yang pegang si tuan kecil" bi Nah meletakkan nampan di meja yang tak jauh darinya berdiri.


Dengan susah payah Arya mencoba menggerakkan tangannya untuk meraih cucu kesayangan. Melihat reaksi sang ayah membuat Dinka senang. "Ayah mau gendong?" tanya Dinka perlahan.


Arya hanya mengangguk pelan sekali. Dengan senang hati Dinka meletakkan sang buah hati ke pangkuan mertuanya. Arya mengelus pipi kecil cucunya itu. Terasa sangat halus kulitnya. Sampai membuat airmata Arya menetes tanpa di suruh. Dia teringat akan istrinya saat pertama kali Sarah melahirkan Melvin.


Waktu memang berlalu begitu cepat. Melihat cucunya itu sangat mirip dengan Melvin waktu kecil. Yang membuat Arya sangat sedih karena tidak menyangka sudah ditinggal sang istri begitu cepat. Dinka dan bi Nah ikut berkaca-kaca melihatnya.


Tapi di suapan yang ketiga Arya sudah tidak mau. Karena merasa sudah kenyang. Dia memalingkan wajahnya sebagai tanda. Walaupun hanya dua suapan membuat Dinka sedikit lega karena sang ayah sudah mau makan. "Ayah tinggal minum obatnya ya" ucap Dinka.


Arya menganggukan kepalanya lagi. Ada beberapa obat yang di resepkan sang dokter agar Arya tidak mengalami depresi. Dan agar Arya bisa tidur dengan nyenyak walaupun di bawah pengaruh obat tidur.


Malam pun datang. Selesai mengurus si kecil Dinka menawarkan sang suami sebuah pijatan. Melvin yang terduduk sambil memangku laptopnya segera berpindah tempat.


"Sayang sini aku pijitin" bujuk Dinka. Melvin meletakkan laptopnya di lemari nakas. Melvin merebahkan tubuhnya dengan posisi tengkurap. Dinka memulai pijatan yang membuat Melvin jadi rileks.

__ADS_1


"Bagian mana yang pegal?" tanya Dinka. Melvin tidak merespon. Sebuah cubitan kecil mengenai Melvin dan membuatnya berbalik badan. Tapi cubitan itu tidak membuat sakit. Hanya saja Melvin tau kalau Dinka menggodanya. "Sayang apa ini kode" Melvin segera menarik Dinka kedalam pelukannya. Dinka yang sedang terduduk di ranjang empuk itu langsung terjatuh ke tubuh besar suaminya.


"Engga kok siapa yang ngasih kode" gerutu Dinka sambil memanyunkan bibirnya. "Kau ini sengaja menggodaku kan" Melvin memastikan dari tatapan sang istri.


Memang sudah cukup lama Melvin tidak menyentuh tubuh istrinya itu. Karena sang istri sudah selesai masa nifasnya membuat Melvin jadi semangat untuk memberikan nafkah batin pada istrinya. "Ayo sayang" bisik Melvin mulai menggigit telinga sang istri.


"Geli" Dinka mencoba menghindar. Karena Melvin tidak memegangi tangan istrinya, membuat Dinka bisa pergi. Langkahnya lari menuju pintu kamar mandi. "Kau mau ngapain ke kamar mandi" keluh Melvin. Gerakan kaki Melvin lebih cepat dari Dinka. Membuat Dinka tertangkap oleh tangan Melvin.


"Kau ini nakal ya" Melvin memegangi perut Dinka dari belakang. Dalam sekejap kamar jadi berantakan karena baju keduanya berhamburan di segala sisi. Melvin menggendong istrinya dan meletakannya di atas ranjang. Mereka berdua bergulat saling beradu nafas.


Tau sendiri lah ya pokoknya jangan sampai di jelaskan secara rinci.


Seutas senyuman hangat dari Dinka membuat Melvin merasakan kenyamanan kembali. Rasa dukanya pun sekilas hilang entah kemana. Tubuh mereka berdua berbalut dalam satu selimut. Setelah melepas kerinduan yang sudah memucuk bagi Melvin. Karena saking lamanya tidak menyentuh tubuh sang istri membuatnya seperti singa jantan yang lapar akan mangsanya.


"Aku lelah" celetuk Dinka. "Mau ku pijitin" tawar Melvin dengan senyuman. Dinka menggelengkan kepala. "Gak mau kalau kamu yang pijit nanti malah minta ronde kedua" keluhan dari Dinka membuat Melvin gemas.


Awas ya jangan mikir yang tidak-tidak. Disini hanya ada satu ronde saja.


Dinka pun menguap karena merasa capek dan ngantuk. Setelah melayani suaminya itu. "Baiklah kau tidur lebih dulu saja. Aku mau meneruskan pekerjaan yang tadi" jelas Melvin.


Dinka menarik tangan Melvin sambil menggeleng. "Gak boleh, temani aku sampai tertidur" Dinka menaruh tangan sang suami sebagai bantalnya.

__ADS_1


Satu tangan Melvin yang lain mengelus rambut Dinka. "Tidurlah" ucap Melvin. "Kamu juga harus tidur gak boleh lembur karena pekerjaan lagi" Dinka berkata sembari menutup matanya.


"Iya baiklah" Melvin tetap mengelus rambut istrinya. Mulutnya pun ikut menguap menandakan bahwa matanya mengantuk.


__ADS_2