Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
120. Hari yang melelahkan #2


__ADS_3

Melvin berjalan menuruni anak tangga sambil menarik tangan Reta. "Sayang kamu mau kemana?" tanya Dinka. "Aku mau sembunyikan Reta sampai hari pertunangan agar ayah membatalkan rencananya" jelas Melvin. "Baiklah kamu hati-hati ya" sahut Dinka. Melvin mengecup kening sang istri.


Sebenarnya Dinka merasa cemas pada sang suami dan adik iparnya. Mengingat sang ayah mertua begitu keras kepala membuatnya juga ikut memikirkan masalah itu. Disisi lain ada luka baru yang belum sembuh.


"Nona dibawah ada orang yang mencari anda" ucap salah satu pelayan. Dinka turun untuk menemui orang yang datang mencarinya. Belum sampai kelantai bawah Dinka melihat orang yang tidak ingin di temuinya. Dinka menghela nafas dalam-dalam. Langkahnya kembali menuruni anak tangga.


"Om Armand ada perlu dengan ayah?" tanya Dinka. Mendengar suara sang anak Armand langsung bangun dari duduknya. "Dinka sayang maafkan papah" Armand langsung berlari untuk memeluk Dinka. Dengan cepat Dinka menghindar. "Maaf ayah sedang tidak ada dirumah, beliau sedang pergi" ucap Dinka.


"Papah kesini datang menemuimu bukan untuk bertemu dengan Arya" ungkap Armand. "Maaf saya lelah saya mau beristirahat dulu" Dinka berpamitan dan kembali menaiki anak tangga. "Biarkan papah menebus kesalahan yang papah buat selama ini" Armand berusaha agar Dinka mau berbicara dengannya. Dinka sama sekali tidak merespon ucapan Armand.


Dari kejauhan Sarah dan bi Nah melihat kejadian itu. Dinka masuk kedalam kamar. Airmatanya sudah tidak bisa dibendung lagi. Sama sekali dia tidak bisa memaafkan ayah kandungnya. Mengingat apa yang sudah dialami oleh ibunya dan dirinya.


Sarah mengetuk pintu kamar Dinka. "Dinka sayang boleh bunda masuk?" tanya Sarah dari balik pintu. Dinka menghapus airmatanya dan membuka pintu.


"Bunda kenapa?" tanya Dinka. Sarah langsung memeluk Dinka. "Pasti sangat berat untukmu kan sayang?" tanya Sarah.


Dinka akhirnya menangis kembali dipelukan sang bunda mertua. "Menangislah jika kamu ingin menangis" Sarah mengelus lembut punggung Dinka. "Apa kamu mau bercerita pada bunda, biar beban mu berkurang sedikit" bujuk Sarah.

__ADS_1


Dinka masih menangis tersedu-sedu. Seketika tubuhnya merasa lemas dan jatuh kepelukan Sarah. "Astaga Dinka kamu kenapa?" Sarah menopang tubuh Dinka.


"Bi Nah tolong Dinka pingsan" Sarah berteriak memanggil pelayan. "Cepat kamu hubungi Melvin suruh segera pulang ya bi" ucap Sarah. Setelah mengetahui sang istri pingsan Melvin langsung kembali kerumah.


"Bunda ada apa dengan Dinka?" tanya Melvin panik. "Tadi om Armand datang menemuinya kesini setelah itu dia menangis dan pingsan" ungkap Sarah. Dokter Mirna yang biasa menangani Dinka telah datang. Dan memeriksa keadaan Dinka.


"Sepertinya dia terlalu syok dan tertekan, mungkin juga banyak pikiran yang mengganggunya. Saya takut ini akan mengganggu kondisi janin yang di kandungnya. Dan saya harap anda sebagai suami bisa memahami perasaan istrinya" jelas si dokter. "Baik dok" sahut Melvin.


"Akan saya berikan beberapa vitamin dan suplemen ya agar nona Dinka bisa istirahat" lanjut sang dokter.


"Sayang maaf aku sama sekali tidak tau apa yang kamu pikirkan" Melvin mengusap perut buncit sang istri. Airmata Dinka menetes namun matanya masih tertutup. "Bapak...ibu" gumam Dinka lirih. Tangannya bergetar dan Melvin segera menggenggam tangan Dinka.


"Hallo ada apa Silma?" tanya Melvin menjawab telepon. "Pak bos saya sudah mengirimkan file-file yang anda minta lewat email" sahut Silma dari seberang telepon. "Baiklah" jawab Melvin sambil menutup telepon. Dia mengambil laptopnya dan mulai menyelesaikan pekerjaannya.


Dilantai bawah Arya pulang dengan membawa Alfan. Sarah tercengang melihat keadaan wajah Alfan yang masih memar. "Alfan kenapa muka kamu bisa jadi begini?" Sarah memegang pipi Alfan yang membiru.


"Alfan gak papa bun" jawab Alfan tersenyum. "Gak papa gimana muka kamu jadi seperti ini, kata ayah kamu pergi untuk urusan bisnis tapi kenapa pulang jadi seperti ini" ucap Sarah dengan cepat.

__ADS_1


"Biarkan dia istirahat dulu bun" timpal Arya. Alfan segera masuk kedalam kamarnya. Sarah mengikuti langkah suaminya kedalam kamar. "Ayah jelaskan sama bunda sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Sarah.


"Dia berkelahi dengan seseorang jadi ayah bawa dia pulang" jawab Arya. Sarah merasa ada yang tidak beres dengan semua ini. Dia benar-benar mencurigai suaminya. "Kalau ayah bohong bunda gak akan mau maafkan ayah" ucap Sarah sambil berkacak pinggang.


Arya memang sengaja merahasiakan semuanya dari sang istri. Baginya Sarah lebih baik tidak tau permasalahannya. Melvin tau sang ayah sudah pulang dan dia mengajak Arya berbicara.


Kini ayah dan anak itu berbicara dihalaman belakang rumah. "Apa yang kamu inginkan?" tanya Arya. Melvin berdiri menghadap sang ayah. Walaupun menurutnya itu tindakan yang kurang sopan. "Apa yang ayah lakukan terhadap kak Alfan itu sudah keterlaluan sampai mengirim Enzi keluar negeri" Melvin berkata dengan tegas.


"Kamu sengaja berkata keras agar bundamu mendengar?" tanya Arya sambil menyilangkan kedua tangannya. "Selama ada aku kak Alfan dan Reta gak bakalan bisa di jadikan robot oleh ayah" Melvin menatap tajam sang ayah.


"Kamu berani menentang keputusan ayah" kini Arya yang berkata dengan nada tinggi. "Ayah biarkan mereka bahagia dengan pasangan masing-masing. Cukup Melvin yang merasakan pahitnya perjodohan itu yah" Melvin memohon pada sang ayah.


"Kalau kamu masih mau menentang ayah, kamu akan tau sendiri akibatnya" Arya berkata sambil berjalan pergi meninggalkan Melvin. "Aku gak akan menyerah untuk menentang ayah biar pun ayah memukuli ku" teriak Melvin.


"Kamu ini benar-benar keras kepala" Arya membalikkan badannya melihat Melvin. "Dia keras kepala karena mewarisi sifat dari kamu" terdengar suara yang sedikit serak. Melvin dan Arya sontak menatap ke arah pria tua yang berbicara. "Papah" ucap Arya. "Oppa" panggil Melvin.


"Oppa kenapa datang kemari" Melvin menghampiri sang kakek. "Oppa mengantarkan Reta kembali kerumah" jelas Herman kakek Melvin.

__ADS_1


"Dan kamu Arya mau sampai kapan kamu begitu terus selalu mencampuri urusan anak-anakmu biarkan mereka mencari kebahagiaan mereka sendiri" lanjut Herman. Arya merasa bingung karena kedatangan ayahnya. "Melvin datang padaku dan menceritakan semuanya dia juga membawa Reta kerumah" sambung Herman sambil geleng-geleng kepala.


Melvin merasa sedikit lega dengan kedatangan kakeknya. Yang berarti akan membuat sang ayah tidak akan melaksanakan pertunangan paksa itu. Karena selain sang bunda yang bisa menghentikan Arya, kakeknya juga masih mampu mengendalikan Arya.


__ADS_2