Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
180. Insiden yang tidak di sengaja


__ADS_3

Reta pulang ke rumah. Melihat ada ketegangan yang terjadi membuatnya penasaran. Dan mendekati sang bunda. "Bunda ada apa?" tanya Reta lirih. "Anak perempuan bunda dari mana?" tanya Sarah. "Itu bun habis pergi sama Bobby" jawab Reta cengengesan.


"Sudah pinter pacaran kamu ya" sahut Melvin. Reta memanyunkan bibirnya sambil menatap kakak tampannya. "Sudah kamu masuk kamar sana mandi" perintah Melvin. "Sudah mandi dong kak, bau wangi kok" Reta mengendus bau tubuhnya. Alfan sedari tadi termenung memikirkan pujaan hati. Biasanya Alfan yang paling memerhatikan si bungsu.


"Sanah mandi lagi, bau Bobby kamu" ledek Melvin sembari menutupi hidung mancungnya. "Huuuu kakak sembarangan aja" Reta cemberut. Sarah tersenyum melihat keakraban anaknya.


"Besok jangan lupa berangkat magangnya ke perusahaan kakak, bukan tempatnya Bobby lagi. Mulai besok kakak akan berangkat kerja lagi. Jangan membuat ulah seperti sebelumnya" ucap Melvin menasehati. "Iya kakakku yang cerewet" Reta menjulurkan lidahnya sambil berlari menuju kamarnya.


"Dasar tuh bocah" gerutu Melvin. "Sudah-sudah, bunda mau ke kamar dulu ya mau tidur" Sarah beranjak pergi. Alfan masih melamun. "Kakak ayo ke lantai atas ketempat biasa" Melvin menepuk bahu Alfan dengan keras. Seketika Alfan tersadar dari lamunan. "Ayo kak" ajak Melvin.


"Kemana?" tanya Alfan kebingungan. "Kakak butuh hiburan kan, mau pesta wine atau mau pergi ke club nih" Melvin berkata lirih sambil memainkan kedua alisnya. Alfan mendekati sang adik dan menjewernya. "Kamu bilang tadi ke club? Sudah bosan hidup ya" Alfan melotot menatap sang adik. "Bukan begitu kak, aku hanya menawarkan hiburan untuk kakak. Karena kakak terlihat frustasi" sahut Melvin.


Alfan menghela nafasnya. "Apa yang harus kakak lakukan?" tanya Alfan. "Ya berusaha lah cari Enzi kak" saran Melvin. "Tapi ayah pasti tidak akan tinggal diam. Walaupun bunda mendukungku tapi ayah pasti bakalan melakukan sesuatu di belakang kita. Apalagi dia yang tau dimana Enzi tinggal" jelas Alfan. Dia takut Arya akan menyembunyikan Enzi sebelum dia menemukannya. "Kalau begitu apa kita berpura-pura saja kalau kakak sebenarnya sudah tidak peduli?" tanya Melvin. "Mungkin seperti itu saja" sahut Alfan dengan nada bicara memprihatinkan.

__ADS_1


Melvin menjadi merasa kasihan pada sang kakak. Kenapa pencintaannya tidak pernah berjalan mulus. Sewaktu mencintai Serin kandas begitu saja. Kini sudah jatuh cinta lagi namun di halangi oleh sang ayah. Melvin menjadi kalut dan akan berusaha membantu sang kakak sebisa mungkin.


"Kakak kemana?" tanya Melvin yang melihat Alfan pergi keluar rumah. "Katanya ke clubbing ayo kalau mau ikut" ajak Alfan. "Padahal aku hanya becanda kak" Melvin melihat sang kakak berjalan semakin menjauh. "Tunggu aku kak" imbuh Melvin.


'Amankan ya pergi sama kak Alfan, tapi kalau Dinka tau bisa gawat nih' gumam Melvin dalam hati. "Kenapa takut dimarahi adik ipar ya" Alfan menyalakan mesin mobil. "Ehehehe kakak tau aja" sahut Melvin cengengesan.


"Iya tau lah, wajah kamu itu jelas terbaca kalau kamu sedang gelisah takut dimarahi. Kakak bisa membaca jelas ekspresi wajah mu" Alfan mulai mengemudikan mobil mewahnya. Mobil meluncur membelah jalanan kota yang ramai menuju sebuah bar yang mewah. Hanya orang elit kalangan atas yang bisa masuk kedalamnya.


Alfan dan Melvin turun secara bersamaan. Kunci mobil Alfan lemparkan pada seorang yang bertugas untuk memarkirkan mobil. Diwaktu bersamaan Ronald juga tiba disana. "Kamu ngajakin Ronald?" tanya Alfan. "Iya kak, buat meramaikan suasana" jawab Melvin.


Disana mereka memesan private room untuk bertiga. Tidak lupa Ronald membooking dua wanita penghibur. "Wah siapa nih yang mesen mereka, rusuh nih rusuh" geruru Melvin. "Ya elah kalian cuma melihat saja aku yang ingin bersenang-senang bersama mereka. Kalau mau minum sampai mabuk juga silahkan" sahut Ronald. Alfan hanya menggelengkan kepalanya.


Beberapa botol berisi wine yang mahal di sajikan di meja. Alfan meraih gelas dan botol kemudian menuangkan pada gelasnya. Namun di cegat oleh sang adik. "Eits harusnya aku dong kak yang menuangkan" Melvin merebut botol itu. Dan menuangkan segelas penuh wine di gelas Alfan. "Gila ya mau buat kakak mu langsung mabuk" Ronald mengernyit. Tangannya dengan lincah mengambil botol wine di tangan Melvin. "Jelas-jelas ini yang kadar alkoholnya tinggi" lanjut Ronald.

__ADS_1


"Sudah-sudah" Alfan meraih gelas dan meminumnya dalam hitungan detik. Semua yang ada diruangan pribadi itu ternganga melihat Alfan. "Wah sepertinya memang kakak mu sedang frustasi ya" celetuk Ronald lirih. "Ya apa aku bilang tadi" sahut Melvin.


Alfan sudah menghabiskan beberapa teguk minumannya dan membuatnya mabuk sampai mengoceh sendiri. Ketika Alfan mabuk memang lebih suka mengoceh mengeluarkan semua unek-unek didalam hatinya.


"Heh adikku yang manja, kamu sungguh lucu dan tampan" Alfan mencubit pipi Melvin. Ronald menahan tawanya. "Apaan sih kak" Melvin menampis tangan sang kakak dari pipinya. Alfan mengusap pipi Melvin yang mulus dan halus. Membuatnya membayangkan wajah Melvin seperti wajah Enzi. "Astaga sayang kamu akhirnya kembali, tau tidak bahwa aku sangat mencintai mu" Alfan dengan spontan memeluk Melvin. Yang dikiranya adalah Enzi.


Saking eratnya pelukan Alfan, membuat Melvin tidak bisa melepaskan diri. "Kak aku tidak bisa bernafas kalau di peluk begini" gerutu Melvin. Tapi Alfan tidak menghiraukan ucapan sang adik yang dikira kekasihnya. "Sayang aku gak mau kamu pergi lagi dari hadapanku, aku gak mau kamu menjauhiku apalagi meminta putus padaku. Ketahuilah bahwa aku sangat mencintai mu sayang" Alfan mengungkapkan isi hatinya yang dalam.


Melvin berusaha melepaskan diri namun tetap saja sulit. "Aku gak mau kamu pergi, aku gak mau pisah dari kamu sayang" Alfan mulai menangis sampai ingusan. Saking banyaknya airmata yang menetas disertai ingus menempel di kemeja yang dipakai Melvin.


Sedari tadi Ronald terus memperhatikan dan mendengarkan ucapan Alfan dengan seksama. Saking menghayatinya membuatnya bingung antara ingin tertawa atau kasihan. "Vin sepertinya memang kakak mu sangat cinta pada wanita yang bernama Enzi itu" ucap Ronald. Melvin masih terus berusaha melepaskan diri.


"Iya emang aku juga tau itu, tapi bantu aku melepaskan diri dari kak Alfan dong, bener-bener udah ngap ini" keluh Melvin yang tidak bisa bernafas dengan baik karena saking eratnya di peluk.

__ADS_1


"Hahahah coba bisa sendiri gak" ledek Ronald. "Sialan kamu buruan dong bantuin" gerutu Melvin. Ronald memegang tangan Alfan yang memeluk tubuh Melvin dan mencoba melonggarkannya. Karena tenaga dari kedua orang lebih kuat Alfan pun melepaskan tangannya. "Aku gak akan menyerah buat dapetin kamu lagi Enzi" Alfan sontak memegang pipi Melvin dan menyambar bibir sang adik. Melvin terkejut telah di cium oleh sang kakak. Dan dengan sekuat tenaga mendorong kakaknya. "Ahhhhhhhh" teriak Melvin menjerit sekeras mungkin.


Tanganya sibuk menghapus bekas ciuman sang kakak. Walaupun itu hanya sebuah kecupan namun membuatnya sangat gusar. "Bibir ku sudah ternodai" gerutu Melvin sambil terus mengelap bibirnya. Alfan kemudian tidur karena sudah sangat mabuk. Sedangkan Ronald tertawa terbahak-bahak.


__ADS_2