Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
63. Ahlinya bikin jantungan #3


__ADS_3

Dinka tidur cepat malam ini karena sedari tadi sudah menguap berulang kali. Si kembar menghampiri Dinka ke kamar untuk memastikan nona nya baik-baik saja. Alini mengetok pintu.


"Non kenapa jam segini tidur apa kurang enak badan?" tanya Alini dari balik pintu. Dinka sudah pergi ke alam mimpi jadi tidak menjawab pertanyaan si pelayan.


Dinka mulai bermimpi. Dalam mimpinya begitu aneh. Ada sosok tubuh tinggi dan berbadan besar berjalan dari arah pintu ke atas ranjangnya. Sosok tubuh tinggi itu menghimpit badannya dengan kuat.


Dinka tersadar dari tidurnya dan membuka matanya perlahan. Karena keadaan kamar yang hanya diterangi lampu tidur matanya tidak begitu jelas melihat kesekitar. Matanya kembali dipejamkan.


Terdengar suara pintu kamar yang dibuka. Dinka kembali membuka matanya dan melihat kearah pintu. Sontak dia langsung merasa merinding. Selimutnya ditarik untuk menutupi wajah.


Sosok pria bertubuh tinggi dan berbadan besar menghampirinya. Berjalan mendekat kearah ranjang. Tangan Dinka bergetar dan matanya membulat. "Si..siapa kau?" Dinka bertanya mengeraskan suara.


Kini tangan kekar yang meraih selimutnya. Mencoba memaksakan membukanya dari tubuh Dinka. Dinka memegang selimut dengan kuat. Adegan tarik menarik selimut pun terjadi.


Sosok pria itu belum juga membuka mulutnya. Kini wajahnya mendekat ke wajah Dinka. Karena sangat takut Dinka menendang tubuh pria itu.


"Aww" terdengar suara yang khas. Namun karena Dinka ketakutan dia tidak bisa berpikir jernih. Dia langsung kabur dari kamar dan tangan itu berhasil menangkapnya dari arah belakang.


Dinka direbahkan ke atas ranjang. Badannya ditindih oleh tubuh tinggi itu. Dinka menjerit dan mulutnya dibungkam bibir dari si pria.

__ADS_1


Dinka baru menyadari bibir hangat dan lembut yang menciumnya itu. Dinka mulai menikmati sambil memejamkan matanya.


Perlahan bajunya dibuka dan sosok pria itu juga membuka bajunya. "Kau sudah pulang?" tanya Dinka. Sosok pria bertubuh tinggi dan berbadan besar itu adalah Melvin.


Tanpa menjawab sang istri dia lebih tertarik untuk bermain dengan tubuh istrinya. Setelah cukup lama tidak menyentuhnya. Melvin melakukan dengan perlahan dan lembut. Tidak ada rasa lelah yang menjalar ditubuhnya. Padahal penerbangan memakan waktu yang lama.


Dengan ditemani sinar lampu tidur yang redup Melvin melakukan tugasnya untuk memberi nafkah batin pada sang istri.


Setelah berpuas ria bermain dengan tubuh sang istri Melvin kembali menciumi bibir Dinka. "Aku merindukan mu" bisik Melvin. Dinka masih merasakan betapa lembutnya sentuhan suaminya.


Melvin mencium tangan sang istri dan terpejam didalam ceruk leher Dinka. Seutas senyuman menghiasi bibir Dinka namun tidak nampak karena didalam kegelapan malam. Airmata Dinka mengalir karena mungkin Melvin sudah mulai mau menerimanya sebagai istri. Walaupun awalnya dia harus memakan kepahitan terlebih dulu.


Dinka menggeser tubuhnya secara perlahan agar sang suami tidak bangun. Dia menyalakan lampu utama kamar dan kembali memakai bajunya. Melvin terlelap sampai mendengkur. Tapi dengkuran itu terdengar halus dan lirih. Mulutnya terbuka sedikit. Namun sama sekali tidak mengurangi wajah tampannya.


Membuka kulkas dan mengambil buah-buahan. Bi Nah ternyata belum terjaga. "Non Dinka" panggilnya.


Dinka sedang asik memakan buah. "Bibi belum tidur?" tanya Dinka. "Bibi lagi menghangatkan makanan untuk tuan Melvin non" jawab bi Nah.


Dinka mendekat ke arah bi Nah. "Masih ada nasi gak bi? laper nih?" tanya Dinka sembari mengelus perut. "Masih non sebentar ya bibi ambilkan" jawab bi Nah.

__ADS_1


Perut Dinka sudah terisi banyak makanan. Langkahnya kembali menuju kamar. Merebahkan tubuhnya disamping sang suami. Malam ini akan beda dengan malam-malam kemarin. Karena sang suami sudah pulang jadi ada teman tidur lagi. Dinka tersenyum senang sambil melihat wajah tampan sang suami.


Wajah yang terlihat damai saat tidur. Namun terlihat dingin dan menyebalkan saat sadar. Dinka mulai memainkan jemarinya diatas wajah Melvin. Mengikuti alur alis yang tebal dan bentuk mulut yang tebal namun seksi. Hidung yang mancung dan mata yang sedang tertutup itu.


Bulu mata Melvin terlihat lebih panjang dan lentik dari pada miliknya. Dinka menarik-narik bulu mata Melvin pelan. Karena merasa ada yang tidak beres Melvin membuka kedua matanya.


Dinka terkejut melihat mata Melvin yang terbuka. Dan menjauhkan badannya dari badan Melvin. Tangan kekar Melvin meraih kepala Dinka. "Mau kemana?" tanya Melvin. Dinka hanya cengengesan tidak dapat menjawab. Kini tubuh mereka saling berhadapan.


"Kau sudah berani membangunkanku, kau harus bertanggung jawab" ucap Melvin lirih. Dinka mengedipkan matanya dengan cepat karena merasa salah tingkah.


Melvin mendekatkan tubuhnya dan membuka baju Dinka. Bibirnya mulai nakal di area dada sang istri.


Karena rasa kantuknya lebih besar Dinka pun tertidur. Melvin mendongak melihat sang istri terlelap. Dirinya pun ikut memejamkan matanya lagi.


Dinka menguap dan mengulat. Lampu kamar belum mati semalam. Matanya merasa silau karena sinar lampu. Dan terasa berat dibagian pinggangnya. Dinka membuka matanya secara perlahan. Terlihat wajah sang suami yang masih tertidur.


Dinka melihat jam dinding yang terpajang dikamar. Waktu menunjukkan pukul 06.00 pagi. Dinka menggeser tangan suaminya. Dia berjalan kekamar mandi untuk mandi.


Melvin mendengar suara air dari arah kamar mandi. Tangannya bergeser kesana kemari mencari keberadaan tubuh Dinka. Melvin pun membuka matanya. Ternyata istrinya sedang mandi. Melvin ikut menyusul Dinka ke kamar mandi.

__ADS_1


"Kau mandi tidak mengajak ku" suara khas dari orang bangun tidur keluar dari mulut Melvin. Dan berhasil membuat Dinka terkejut. Dinka membalikkan badannya menghadap Melvin dan langsung menutup bagian dadanya.


"Lihat lagi-lagi kau terkejut mendengar suara ku" ucap Melvin sambil mendekati sang istri. Mereka pun kembali melakukan aktivitas sebagai suami istri.


__ADS_2