Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
138. Rasa penasaran


__ADS_3

Bi Nah berjalan mondar mandir kesana kemari. Dia benar-benar cemas pada keadaan Dinka. Sampai-sampai dia lupa untuk memberi kabar pada Melvin. Dokter yang memeriksa Dinka akhirnya keluar. Si dokter menjelaskan tentang keadaan Dinka.


"Bagaimana keadaan non Dinka dok?" tanya bi Nah. "Pasien hanya kurang istirahat" jawab si dokter. "Tapi keadaan kandungannya baik-baik sajakan dok?" tanya bi Nah lagi.


"Kandungannya baik-baik saja, tapi harus benar-benar cukup istirahatnya" jawab sang dokter. "Baik terimakasih dok" bi Nah menjabat tangan sang dokter karena merasa lega. Si dokter pun tersenyum dengan tingkah bi Nah. "Pasien juga sebentar lagi bangun, kalau sudah tidak ada hal yang di tanyakan saya permisi" dokter pun melangkah pergi.


Bi Nah baru ingat belum memberitahukan pada majikannya. Dia pun menghubungi Melvin dengan teleponnya. Tidak berlangsung lama Melvin datang. Langkahnya berlari melihat kesekeliling mencari pelayannya. "Tuan muda disini" panggil bi Nah.


"Gimana keadaan Dinka, apa yang terjadi?" tanya Melvin. Raut wajahnya begitu panik. "Tadi nona pingsan sewaktu belanja, tapi kata dokter hanya kelelahan tuan" ungkap bi Nah. Melvin bergegas masuk keruang rawat Dinka.


Melihat tubuh sang istri sedang terbaring, membuatnya cemas. Airmata sedikit menggenang di ujung pelupuk mata indahnya. "Sayang" panggil Melvin dengan suara yang lembut. Tangannya menggenggam erat tangan sang istri. Melvin mencium tangan Dinka dan mengusap perut buncitnya. Dari belakang bi Nah berjalan mendekat. Dia merasa bersalah pada Melvin, padahal ini sama sekali bukan salahnya. "Tuan muda maafin bibi ya seharusnya bibi tidak mengijinkan nona untuk berbelanja" ungkap bi Nah. "Gak usah di bahas bi yang penting sekarang Dinka gak papa" sahut Melvin.


Dilain tempat Reta asik mengobrol dengan Ronald sembari masuk kedalam sebuah cafe. Ponselnya rusak beberapa hari yang lalu jadi dia meminta Ronald untuk menemaninya. Karena menunggu Bobby yang tak kunjung datang. Bobby diam-diam mengawasi Reta dan Ronald. Ibarat memata-matai pacar yang sedang berselingkuh. Mereka memesan beberapa menu makanan. Bobby sengaja duduk tidak jauh dari mereka berdua agar bisa mendengar suaranya.


"Gue boleh tau gak tentang kakak ipar loe" ucap Ronald. Reta menengok kesampingnya sambil berkata "kakak ipar gue". Ronald mengangguk dengan cepat. "Kenapa tiba-tiba tanya tentang kaka ipar?" tanya Reta penasaran.

__ADS_1


"Cuma pengen tau aja" jawab Ronald. "Kakak ipar gue, dari mana ya mulainya. Gue bingung" ucap Reta. "Ya ceritakan singkatnya aja gak papa kok, dari awal dia ketemu sama Melvin sampai bisa menikah dengan Melvin" sahut Ronald.


Reta menangkap sebuah keanehan pada ucapan Ronald. "Kak Ronald gak suka kan sama kaka ipar gue?" tanya Reta memastikan. Ronald diam tanpa kata-kata. Dia hanya tersenyum menatap wajah Reta. "Awalnya pertama kali gue ketemu Dinka itu di asrama kampus, gue gak nyangka dia bakal jadi kaka ipar gue" kata Reta memulai pembicaraan.


"Terus?" tanya Ronald semakin penasaran. Reta hanya melirik Ronald yang ada disampingnya sambil meminum es capucinno pesanannya. "Ya gitu deh, ayah menjodohkannya dengan Dinka. Karena Dinka punya golongan darah sama seperti bunda. Eh gak taunya Dinka udah dilamar sama cowok lain yang ada didesanya. Tapi pertunangan itu disuruh batalin sama ayah agar bisa nikah sama kak Melvin" ungkap Reta panjang lebar.


"Terus-terus" Ronald menyimak dengan serius dan seksama. Wajahnya di dekatkan pada Reta sambil menyangga dagunya dengan kedua tangan.


Mata Bobby melotot melihat hal tersebut. Tapi dia berusaha menahan amarahnya agar tidak membuat malu dirinya sendiri. "Terus...Dinka menikah dengan kak Melvin, awalnya kak Melvin gak cinta sama sekali sama Dinka dan saat itu kalau gak salah kak Melvin masih berhubungan sama buaya betina itu" lanjut Reta.


"Kalau kak Melvin gak cinta sama kaka ipar gak mungkin kalau dia menghamili Dinka. Haduh kak Ronald ini gimana sih" pungkas Reta. Setelah tau sedikit tentang kehidupan Dinka membuat Ronald semakin penasaran dengannya.


"Kak Ronald gak naksir sama kaka ipar gue kan?" tanya Reta. Ronald mendekatkan wajahnya pada wajah Reta dan tersenyum. "Kalau gue naksir loe gimana?" ledek Ronald.


Mendengar ucapan dari Ronald, Bobby dengan cepat menghampiri ke meja Ronald dan Reta. Kedua tangannya menggebrak meja. Seketika minuman dan beberapa makanan jatuh berhamburan. Kini amarahnya tidak dapat dibendung lagi. Bagi Bobby ucapan Ronald sangat keterlaluan sudah membuatnya cemburu buta.

__ADS_1


Reta dan Ronald tersentak kaget dengan tindakan Bobby yang secara tiba-tiba. "Apa loe bilang!" Bobby menarik kerah baju Ronald dan menariknya paksa agar Ronald berdiri. Tangan Bobby bersiap sedia akan memukul wajah Ronald.


"Santai bro" Ronald mengangkat kedua tangannya. "Beb loe apa-apaan sih" Reta berusaha menahan tonjokan yang akan di dilayangkan Bobby pada Ronald.


"Beb kenapa loe bisa ada disini?" tanya Reta. Tangan Bobby masih mengepal. Wajahnya memerah karena menahan amarah sedari tadi. "Beb tenang ya, jangan marah dulu aku bisa jelasin kok" Reta berusaha menenangkan kekasihnya.


Bobby pun menarik tangan Reta dan membawanya pergi dari cafe itu. "Ayo kita pulang" ajak Bobby. Reta hanya terdiam membisu di bawa oleh Bobby. Ronald juga hanya bisa menatap Reta dan Bobby yang berjalan semakin menjauh.


"Kenapa sama tuh cowok, tiba-tiba mau nyerang gue aja" ucap Ronald pada diri sendiri. Dia pun kembali duduk untuk menenangkan diri.


Reta di dorong masuk kedalam mobil. Tangan Bobby menutup pintu dengan keras sampai membuat Reta terkejut. Ternyata ketika Bobby marah karena cemburu sangat menakutkan. Itu yang ada di benak Reta. Bobby masuk kedalam mobil lewat pintu disebelahnya. "Beb loe kenapa kaya gini sih? Loe marah sama gue?" tanya Reta. Kali ini Reta lah yang harus bersikap lembut agar Bobby tidak marah lagi.


"Beb loe salah paham, kak Ronald cuma becanda kok tadi. Ucapannya gak serius" suara Reta sangat halus dan lembut. Tangan Reta menggenggam tangan Bobby dan menekannya dengan lembut. "Percaya dong sama gue" Reta menatap dalam mata Bobby. Beda dengan Bobby yang masih terdiam karena marah.


"Beb loe tanggepin dong ucapan gue, jangan diam terus" imbuh Reta. Bobby menatap Reta dan mendekatkan bibirnya pada Reta. Jarang-jarang Bobby mencium bibir Reta karena takut akan di tampar. Tapi kali ini berbeda karena Reta lah yang menurutnya bersalah. Reta pun hanya terdiam dan membalas ciuman lembut dari bibir Bobby.

__ADS_1


__ADS_2